Oleh: Yuli Astuti, S.Pd*)
BANGUN datar merupakan materi pada mata pelajaran Matematika di kelas VII SMP semester genap tahun 2022/2023 Kurikulum Merdeka. Tidak sedikit siswa kesulitan memecahkan masalah materi bangun datar berupa pengertian garis dan sudut, jenis garis dan sudut, mengidentifikasikan kedudukan dua garis, dan menemukan besar sudut.
Dampaknya, hasil belajar siswa belum memenuhi kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP). Kondisi ini dipengaruhi gaya pembelajaran model ceramah dan penugasan tanpa ada alat peraga.
Solusinya, guru menggunakan bantuan alat peraga berupa garis dan sudut (Gasadu) dengan model penugasan berupa tugas proyek menggambar dan mengukur bangun datar yang dilakukan siswa.
Elfawati (2012: 201) mendefinisikan bangun datar adalah ilmu yang berhubungan dengan pengenalan bentuk dan pengukuran. Hal tersebut akan lebih mudah dipahami siswa melalui alat peraga Gasadu yang dipadukan model project based learning.
Gasadu adalah alat peraga hasil inovasi guru berupa kayu yang dikaitkan dengan pengait beserta penggaris busur untuk mengukur sudutnya.
Cara kerja alat ini adalah dua kayu pada alat tersebut ditempelkan pada garis bangun datar yang dituangkan pada tugas proyek, kemudian sudut pada bangun bisa terukur dengan melihat busur yang dikaitkan pada kedua kayu yang saling berkaitan.
Goodman dan Stivers (2010) mendefinisikan project based learning merupakan pendekatan pengajaran yang dibangun di atas kegiatan pembelajaran dan tugas nyata yang memberikan tantangan bagi siswa.
Adapun langkahnya, pertama, guru memberikan pertanyaan kepada siswa berupa tugas yang terkait dengan bangun datar. Siswa kemudian membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja, mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan yang diajukan.
Kedua, guru memberi pemahaman kepada siswa untuk berkelompok. Ketiga, siswa diminta membuka buku siswa dan sumber lain untuk mengumpulkan data.
Berikutnya keempat, guru dan siswa berkolaborasi dalam membuat jadwal (timeline) dalam menyelesaikan proyek, membuat batas akhir (deadline) penyelesaian proyek, dan mengarahkan siswa untuk melaksanakan proyek yang berkaitan dengan permasalahan pada bangun datar.
Langkah kelima, siswa secara berkelompok berusaha membahas dan berdiskusi dengan kelompok lain. Guru mencermati siswa yang mengalami kesulitan dan memberikan kesempatan untuk bertanya.
Keenam, siswa dalam kelompok menyajikan hasil proyeknya. Ketujuh, siswa melakukan refleksi terhadap tugas yang telah diberikan yang selanjutnya secara kolaboratif bersama guru melakukan umpan balik terhadap tugas proyeknya.
Secara umum, hasil belajar siswa mengalami peningkatan dengan menggunakan dua modul ajar (MA).
Pada pelaksanaan pembelajaran dengan MA1, persentase hasil belajar siswa yang mendapatkan nilai kurang dari 75 tercatat 43,75 persen, dan yang mendapat nilai lebih dari atau sama dengan 75 ada 56,25 persen.
Kemudian pelaksanaan pembelajaran dengan MA2 dengan bantuan alat Gasadu, yang mendapat nilai kurang dari 75 ada 12,5 persen, dan yang mendapat nilai lebih dari atau sama dengan 75 ada 87,5 persen. Secara keseluruhan dapat disimpulkan hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 31,25 persen.
Berkaca dari hal tersebut, guru dituntut berani melakukan inovasi pembelajaran sesuai latar belakang siswa, situasi dan kondisi sekolah.
*) Guru Matematika SMP Muhammadiyah 1 Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri
Editor : Tri Wahyu Cahyono