Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Make A Match Asah Pemahaman, Kecermatan dan Hasil Belajar

Tri wahyu Cahyono • Kamis, 2 Maret 2023 | 14:08 WIB
Photo
Photo

Oleh: Wahyuni Widyastuti,S.Pd.,M.Pd.I.*)


SEKOLAH merupakan lembaga pendidikan formal yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar, membentuk akhlak perilaku (karakter) siswa. Sebab itu, seluruh warga sekolah harus siap mendukung berjalannya proses pendidikan agar tujuan  pendidikan dapat tercapai.


Tak terkecuali keberadaan seorang guru yang harus mampu memberikan kontribusi maksimal, serta menjadi inovator dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Khususnya saat melaksanakan pembelajaran di kelas.


Pembelajaran  hakikatnya merupakan interaksi dua arah dari seorang guru kepada peserta didik, dan terjadi komunikasi (transfer) yang intens serta terarah menuju target yang telah ditetapkan (Trianto,2009:17).


Karena itu, kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi siswamenjadi kompetensi sesuai yang diharapkan (Suryani dan  Agung,2012:1).


Disinilah dibutuhkan peran seorang guru agar mampu memilih, menerapkan strategi, maupun metode yang tepat sesuai materi pelajaran yang diajarkan agar pembelajaran menarik minat siswa, efektif, aktif, kreatif, inovatif, menyenangkan dan tujuan pembelajaran tercapai. Khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.


Di Indonesia, Pendidikan Agama Islam menjadi suatu disiplin ilmu yang menurut pusat Kurikulim Depdiknas mempunyai tujuan menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaan kepada Allah SWT.


Berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan teknik pembelajaran Pendidikan Agama Islam,Bandung:Refika Aditama,2009.hlm 7).


Guru Pendidikan Agama Islam dituntut memiliki kompetensi merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil proses pembelajaran.


Dalam melaksanakan tugasnya, penulis sebagai guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII D semester genap tahun pelajaran 2022/2023 di SMPN 2 Jatiroto, Kabupaten Wonogiri menjumpai beberapa permasalahan di kelas. Antara lain peserta didik yang kurang aktif dan terlihat jenuh dalam mengikuti pembelajaran, khususnya saat menyampaikan materi “Iman kepada Malaikat”.


Kondisi kejenuhan tersebut akhirnya berdampak pada penurunan pengetahuan, pemahaman, kecermatan serta hasil belajarnya.


Penurunan akademik diketahui dari hasil uji coba  pemberian soal pada seluruh peserta didik kelas VII D sebanyak 28 anak, hanya sekitar 79 persen yang mampu menjawab dengan benar, sehingga nilai rata-rata 80 melampaui KKTP.


Sedangkan 21 persen siswa masih membutuhkan banyak bimbingan. Solusi dalam mengatasi masalah di atas, penulis mencoba menerapkan model pembelajaran Make A Match pada pertemuan selanjutnya yang hasilnya menunjukkan peningkatan yang positif.


Tarmizi dalam Novia (2015:12) menyatakan, model pembelajaran Make A Match siswa mencari pasangan setiap peserta didik mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban) lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang dipegang.


Penerapan ini dimulai dengan teknik, yaitu peserta didik diminta mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal sebelum batas waktunya. Peserta didik yang dapat mencocokkan kartu diberikan poin.


Adapun langkah-langkah yang telah dilakukan oleh penulis yaitu, pertama, guru membuka pelajaran, menyampaikan tujuan dan proses pembelajaran. Kedua, guru menyiapkan sarana berupa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik. Satu berupa kartu soal dan sebaliknya berupa jawaban.


Ketiga, setiap peserta didik mendapat satu buah kartu. Keempat, setiap peserta didik memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang. Kelima, peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban).


Keenam, peserta didik yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. Ketujuh, setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap peserta didik mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya. Kedelapan, di akhir kegiatan guru memberi penguatan materi, evaluasi, motivasi dan penilaian.


Pembelajaran yang berlangsung dengan strategi Make A Match mampu mengatasi permasalahan yang selama ini dihadapi penulis.


Seluruh peserta didik terlihat aktif mengikuti setiap langkah pembelajaran sehingga mengasah pengetahuan, pemahaman materi, kecermatan berpikir, maupun hasil belajarnya.


Hasil belajar  terlihat meningkat saat guru meminta seluruh peserta didik kelas VII D mengerjakan soal yang harus dijawab. Sebanyak 28 anak semuanya telah mampu mendapatkan nilai yang memuaskan dengan nilai rata-rata 90. Peningkatan yang lain berupa keimanan dan akhlak/karakternya. (*)


 *) Guru PAI SMPN 2 Jatiroto, Kabupaten Wonogiri


 


Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Kabupaten Wonogiri #hasil belajar #Kecermatan #Guru PAI SMPN 2 Jatiroto #Wahyuni Widyastuti #Make a Match #Asah Pemahaman