Oleh: Aries Nugraheni, M.Pd*)
PEMBELAJARAN di sekolah sampai saat ini cenderung berpusat pada guru. Tugas guru adalah menyampaikan materi dan siswa diberi tanggung jawab untuk menghafal semua pengetahuan. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi hanya berhasil dalam mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam memecahkan masalah di kemudian hari.
Pembelajaran bukan hanya sekadar menguasai sekumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, prinsip atau teori saja, tetapi belajar akan lebih bermakna jika peserta didik mengalami apa yang mereka pelajari.
Oleh karena itu pendidik telah berjuang dengan segala cara mencoba untuk membuat apa yang dipelajari siswa di sekolah agar dapat dipergunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari (Zubaedi, 2011).
Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 4 Satu Atap Kismantoro kelas 8 semester ganjil tahun pelajaran 2022/2023 ditemukan beberapa permasalahan yang berkaitan dengan siswa. Di antaranya siswa kurang berinteraksi atau menanggapi guru saat menyampaikan materi, siswa kurang tertarik dengan materi yang disampaikan oleh guru.
Selanjutnya, siswa kurang paham terhadap materi yang diberikan, akan tetapi siswa tidak mau bertanya. Penyebab ketidakaktifan siswa karena tidak adanya media pendamping pada pemberian materi. Pemilihan dan penerapan media dan metode yang kurang tepat.
Oleh karena itu, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL).
Pembelajaran berbasis proyek merupakan salah satu metode pembelajaran yang menekankan pada pemberian kesempatan kepada siswa untuk menghasilkan suatu karya melalui pengembangan pengetahuan, sikap, nilai dan ketrampilan sosial yang berguna bagi kehidupannya di masyarakat.
Karya yang dihasilkan dapat berupa suatu rancangan, model, prototipe atau produk yang nyata yang dapat diterapkan di masyarakat. PjBL yaitu: model pembelajaran yang berfokus pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama (central) dari suatu disiplin, melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainnya, memberikan peluang siswa bekerja secara otonom, mengonstruksi belajar secara mandiri, dan puncaknya menghasilkan produk karya (Ngalimun, 2013:185).
Langkah-langkah model pembelajaran PjBL adalah sebagai berikut: pertama, menentukan, merancang langkah-langkah penyelesaian, dan menyusun jadwal pelaksanaan proyek. Kedua tahap pelaksanaan yang meliputi penyelesaian dan presentasi proyek.
Ketiga, tahap evaluasi yang meliputi evaluasi proses dan hasil proyek dilakukan dengan pelaksanan proyek dan penilaian produk yang dihasilkan untuk mengetahui ketercapaian tujuan proyek.
Dengan menggunakan model PjBL hampir keseluruhan aktivitas siswa naik sangat signifikan, yaitu aktivitas siswa merespons pernyataan guru dengan jawaban yang bervariasi, siswa menyimak materi pembelajaran, siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok dan meyampaikan pendapat kepada teman-temannya, siswa mengerjakan soal evaluasi secara individu sesuai dengan perintah, dan siswa menengarkan pesan-pesan yang disampaikan guru dengan baik.
Berdasarkan temuan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan kemampuan life skill sesudah penerapan model pembelajaran berbasis proyek pada kelas eksperimen di SMP Negeri 4 Satu Atap Kismantoro Wonogiri Tahun Pelajaran 2022/2023.
Hal ini dapat dilihat pada hasil angket life skill peserta didik yang mengalami peningkatan setelah menggunakan model pembelajaran berbasis proyek sebesar 38,22 poin dari 57,7 menjadi 95,92. Yang artinya model pembelajaran berbasis proyek menyumbang peningkatan life skill mata pelajaran IPS peserta didik sebesar 38 persen.
Hal ini dapat dilihat dari total 39 siswa kelas 8 yang sebelum dilakukan model pembelajaran PjBL terdapat 25 siswa yang mendapatkan nilai keterampilan di bawah KKM, sedangkan setelah dilakukan model pembelajaran PjBL siswa yang mendapatkan nilai keterampilan di bawah KKM hanya sembilan siswa. (*)
*) Guru IPS SMP Negeri 4 Satu Atap Kismantoro, Kabupaten Wonogiri
Editor : Tri Wahyu Cahyono