Bertahan hidup di tengah hutan yang terkenal lebat dan tak terjamah manusia, bagi anak-anak tersebut bisa dibilang tak masuk akal. Tapi, mereka mampu melakukannya. Meski saat ditemukan pada Jumat (9/6/2023) oleh tim penyelamat dalam kondisi lemas, tetap saja perjuangan mereka bertahan hidup adalah sebuah hal yang sulit dinalar.
Sebagai penduduk asli atau pribumi, mereka dipercaya tokoh setempat memiliki kekuatan spiritual. Luis Acosta dari National Indigenous Organization of Colombia (ONIC) yang merupakan organisasi masyarakat pribumi di Kolombia meyakini keempat kakak beradik itu memiliki kekuatan spiritual.
Petinggi ONIC lainnya, Javier Betancourt, menjelaskan bahwa masyarakat pribumi di Kolombia sangat bersahabat dengan alam.
"Kami memiliki hubungan khusus dengan alam," kata Javier Betancourt kepada AFP. "Dunia (manusia) membutuhkan hubungan khusus seperti ini dengan alam, untuk mendukung orang-orang seperti penduduk pribumi yang tinggal di hutan dan merawatnya," imbuhnya.
Sementara itu, Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang menemui mereka di rumah sakit pada Sabtu (10/6/2023), menyebut keempat anak tersebut diselamatkan hutan. “Hutan menyelamatkan mereka,” kata Petro. “Mereka adalah anak-anak hutan, dan sekarang mereka juga anak-anak Kolombia," tegas Petro.
Kini, kondisi mereka telah membaik. Sang ayah, Manuel Ranoque, mengungkapkan bahwa anaknya yang sulung, Lesly Mucutuy, 13, mulai bercerita terkait kejadain yang mereka alami. Lesly juga sedikit menceritakan bagaimana mereka bertahan hidup di hutan.
Lesly seperti disampaikan sang ayah, ibu mereka, Magdalena Mucutuy Valencia, masih hidup selama 4 hari begitu pesawat jatuh. Sementara, dua orang dewasa lain telah meninggal dunia. Sebelum sang ibu meninggal, Lesly bercerita bahwa ibunya meminta dirinya dan 3 adiknya untuk pergi dari lokasi kecelakaan dan meminta berjuang untuk bertahan hidup sampai mendapat pertolongan.
Lesly juga menceritakan kepada penduduk pribumi bernama Henry Guerrero yang juga menungguinya di rumah sakit. Guerrero menceritakan kembali apa yang dia dengar dari Lesly kepada Wartawan.
Guerrero mengatakan Lesly dan ketiga adiknya membawa dua tas kecil berisi beberapa pakaian, handuk, senter, dua ponsel, kotak musik, dan botol soda. Benda-benda itu yang menemani mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain di Hutan Amazon untuk bertahan hidup. Lesly dan ketiga adiknya menggunakan botol soda itu untuk mengambil air di hutan untuk persediaan minum.
Sementara, Fidencio Valencia, paman dari Lesly dan ketiga adiknya mengatakan kepada outlet media Noticias Caracol bahwa mereka mereka bersembunyi di batang pohon untuk melindungi diri dari serangan ular, hewan buas lain, dan nyamuk.
Sang nenek mereka, Fatima Valencia, juga mendapat cerita dari cucu-cucunya tersebut. Menurut Fatima, mereka bertahan dengan memakan tepung yucca yang temukan di reruntuhan pesawat. Mereka juga makan biji-bijian, buah-buahan, akar-akaran, dan tumbuhan apa pun yang mereka anggap bisa dimakan. Selain itu, mereka mengais bantuan yang diberikan tim penyelamat dari udara.
Mereka tahu apa yang harus dikonsumsi," ucap Fatima Valencia.
Paman mereka, Fidencio Valencia, menambahkan bahwa Lesly dan ketiga adiknya bertahan hidup dengan makan fariña atau tepung singkong, dan dengan menggunakan pengetahuan mereka tentang buah-buahan hutan hujan.
“Ketika pesawat jatuh, mereka mengambil fariña di reruntuhan pesawat, dan dengan itu mereka selamat,” kata Fidencio Valencia. “Setelah fariña habis, mereka mulai memakan bijinya,” tambah Fidencio Valencia.
Lesly sebagai yang tertua, menjaga mereka tetap aman dan terpelihara dengan menggunakan pengetahuan tentang hutan hujan yang diwariskan ibunya kepadanya.
Keyakinan Tim Penyelamat
Sebelumnya, tim pencari menemukan pesawat naha itu pada 16 Mei di hutan hujan Amazon yang lebat. Tim menemukan jenazah tiga orang dewasa di dalamnya, tetapi anak-anak tidak ditemukan. Dari situlah tim pencari meyakini bahwa Lesly dan ketiga adiknya masih hidup.
Tentara Kolombia meningkatkan pencarian dan menerbangkan 150 tentara beserta anjing pelacak ke daerah tersebut. Puluhan relawan pribumi atau penduduk asli juga ikut melakukan pencarian.
Tentara dengan helikopter menjatuhkan kotak berisi makanan ke dalam hutan, berharap itu akan membantu kelangsungan hidup anak-anak. Pesawat yang terbang di atas area tersebut menembakkan suar untuk membantu kru pencarian di darat pada malam hari, dan penyelamat menggunakan pengeras suara yang membunyikan pesan yang direkam oleh nenek saudara kandung yang menyuruh mereka untuk tetap berada di satu tempat.
Saat pencarian berlangsung, tentara menemukan petunjuk kecil yang membuat mereka percaya bahwa anak-anak itu masih hidup, termasuk jejak kaki, botol bayi, popok, dan potongan buah yang tampak ada bekas gigitan manusia.
Jenderal Pedro Sánchez, yang bertanggung jawab atas upaya penyelamatan, mengatakan anak-anak itu ditemukan 5 km (3 mil) dari lokasi kecelakaan di sebuah hutan kecil yang tengah dibuka untuk pertanian. Dia mengatakan tim penyelamat sebenarnya telah melewati dalam jarak 20 hingga 50 meter (66 hingga 165 kaki) dari tempat anak-anak itu ditemukan beberapa kali tetapi tidak berhasil menemukan mereka.
Saat ditemukan, kondisi mereka memang sangat lemah. “Anak-anak itu sudah sangat lemah,” kata Sánchez. “Mereka hanya cukup kuat untuk bernapas atau meraih buah kecil untuk makan sendiri atau minum setetes air di hutan,” imbuhnya.
Masih ada kebingungan tim penyelamat mengapa anak-anak itu tidak ditemukan lebih awal. Hal itu mengingat tim pencari telah lewat begitu dekat dengan mereka. Sang paman mengatakan bahwa rasa takut mungkin membuat mereka bersembunyi ketika mengetahui ada tim penyelamat.
“Mereka ketakutan dengan gonggongan anjing,” kata Fidencio Valencia. "Mereka bersembunyi di antara pepohonan dan mereka juga lari," imbuh Fidencio Valencia. (JPG/dam) Editor : Damianus Bram