Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Mengenal dan Prediksi VanEck, Bitcoin Bakal Tembus US$ 180.000

Tri wahyu Cahyono • Jumat, 14 Februari 2025 | 17:02 WIB
Logo Bitcoin terlihat di mesin ATM uang kripto di sebuah toko di Union City, New Jersey, AS, Mei 2021.
Logo Bitcoin terlihat di mesin ATM uang kripto di sebuah toko di Union City, New Jersey, AS, Mei 2021.

RADARSOLO.COM-Pada awal 2025 para trader dan investor Crypto tentunya menunggu para ahli melakukan analisa pergerakan arah crypto, terutama Bitcoin sebagai pionir cryptocurrency.

Karena riset dan analisa pergerakan pasar merupakan hal yang penting yang harus diketahui.

Bahkan saat ini banyak aplikasi bitcoin yang memberikan informasi terkait dengan prediksi pergerakan harga Bitcoin.

Hal ini tentunya bertujuan membantu penggunanya untuk mempermudah memahami sebelum melakukan trading.

Banyak platform crypto yang memberikan informasi berita kripto hari ini dengan menganalisa beberapa koin crypto terbesar, token crypto, hingga memecoin terkait dengan perkembangan harganya di tahun 2025.

Namun sebelum membahas terkait prediksi VanEck, maka kamu juga harus memahami terlebih dahulu apa itu Bitcoin, cara kerjanya, dll.

Dilansir dari Pintu, berikut beberapa penjelasan terkait dengan Bitcoin.

Apa Itu Bitcoin?

Bitcoin adalah mata uang digital yang didistribusikan secara elektronik dan tidak dikeluarkan atau dikendalikan oleh pemerintah mana pun.

Dijalankan oleh serangkaian komputer di seluruh dunia yang membentuk jaringan keuangan terdesentralisasi.

Bitcoin dapat digunakan untuk menyimpan nilai dan dapat dikirim kapan saja ke siapa saja di mana saja.

Perangkat lunak Bitcoin bersifat open source, yang berarti siapa pun di seluruh dunia dapat menjalankan server Bitcoin dan berpartisipasi dalam jaringan.

Baca Juga: 25 Ide Ucapan Hari Valentine yang Unik, Romantis, dan Antimainstream: Dijamin Bikin Kekasih Salting dan Klepek-klepek

Sejarah Bitcoin

Pada Oktober 2008, seseorang yang dikenal dengan nama Satoshi Nakamoto menerbitkan sebuah tulisan 8 halaman berjudul “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System.”

Tulisan ini dirilis ke dalam milis yang terdiri dari para ahli kriptografi dan ilmuwan komputer.

Jaringan Bitcoin kemudian diluncurkan pada 2009, berdasarkan panduan implementasi yang dipublikasikan oleh Nakamoto dan telah melalui proses revisi oleh sejumlah programmer.

Pada tanggal 26 April 2011, Satoshi mengirimkan email kepada rekan-rekan sesama pengembang di komunitasnya.

Ia menyatakan bahwa dirinya memutuskan untuk meninggalkan proyek Bitcoin dan menyerahkan kendali pengembangan kode serta jaringannya kepada sekelompok sukarelawan.

Hingga saat ini, identitas orang atau kelompok di balik nama Satoshi Nakamoto masih menjadi misteri.

Bagaimana Cara Kerja Bitcoin?

Bitcoin beroperasi dengan memanfaatkan teknologi yang dikenal sebagai blockchain.

Yaitu sebuah buku kas digital yang mencatat dan memastikan semua transaksi bitcoin berlangsung dengan aman dan tidak dapat diubah.

Blockchain Bitcoin menyimpan catatan lengkap dari semua transaksi yang terjadi sejak Bitcoin pertama kali diciptakan.

Setiap orang yang menggunakan Bitcoin dapat melihat semua transaksi yang ada dalam blockchain tersebut.

Setiap pengguna Bitcoin memiliki salinan lengkap dari semua catatan yang tersimpan di perangkat mereka.

Baca Juga: Kiper Persiharjo dan Persibat Batang Kena Sanksi Berat dari Komdis PSSI Jateng: Persebi Boyolali, PPSM Magelang, dan Persip Pekalongan Juga Didenda

Setiap transaksi dalam Bitcoin dijamin melalui kriptografi.

Untuk memverifikasi transaksi dan mencegah pengeluaran ganda, Bitcoin menggunakan proses yang disebut proof-of-work atau penambangan, yang dilindungi oleh kriptografi yang kompleks.

Secara teknis, untuk mendapatkan Bitcoin diperlukan energi dalam bentuk daya komputasi atau listrik.

Penambangan dengan sistem proof-of-work berperan dalam mengamankan jaringan Bitcoin tanpa adanya kekuasaan terpusat.

Imbalan Bitcoin diatur oleh protokol Bitcoin, dan jumlah hadiah ini akan berkurang seiring waktu melalui proses yang dikenal sebagai halving.

Halving adalah mekanisme yang memastikan bahwa hanya akan ada 21 juta Bitcoin yang beredar di dunia.

Setiap sekitar 4 tahun, jumlah Bitcoin yang baru dicetak dan diberikan kepada penambang akan dipotong setengah.

Faktor Apa yang Mempengaruhi Harga Bitcoin?

Harga Bitcoin ditentukan oleh penawaran dan permintaan.

Pasokan Bitcoin terbatas, tetapi permintaan terus meningkat, yang menjadi alasan mengapa harga Bitcoin cenderung naik dari tahun ke tahun.

Setiap hari, orang di seluruh dunia membeli dan menjual Bitcoin, membuat penawaran dan menawar harga melalui bursa crypto.

Aktivitas ini menyebabkan volatilitas harga Bitcoin, karena pasar Bitcoin beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Faktor lain yang mempengaruhi harga Bitcoin adalah halving.

Baca Juga: Tutup Perayaan Imlek di Solo, Teguh Prakosa Pamitan

Proses halving menciptakan kelangkaan yang lebih tinggi, mengurangi jumlah pasokan Bitcoin baru.

Dengan pasokan yang menurun sementara permintaan tetap sama atau bahkan meningkat, orang-orang menjadi lebih bersedia membayar lebih untuk mendapatkan Bitcoin.

Baca Juga: Prediksi Persis Solo vs Persik Kediri: Tambah Tengah Menderita 

Prediksi VanEck dan Masa Depan Bitcoin

Bitcoin kembali menjadi perhatian dengan pergerakan harga yang signifikan.

Setelah pemilu AS pada 5 November 2024, harga Bitcoin melonjak sekitar 30% hingga mencapai US$93.500 pada 13 November 2024, sebelum mengalami koreksi menjadi kisaran US$88.000 beberapa hari kemudian.

Di tengah lonjakan ini, VanEck, sebuah perusahaan investasi terkemuka, membuat prediksi berani: Bitcoin akan mencapai US$180.000 pada tahun 2025.

Apa yang mendasari optimisme ini, dan seberapa relevan prediksi ini?

Matthew Sigel, kepala riset aset digital di VanEck, menyatakan keyakinannya bahwa Bitcoin bisa menembus US$180.000 pada tahun depan.

Sigel percaya bahwa kenaikan harga saat ini hanyalah awal dari reli besar, mirip dengan yang terjadi pada 2020.

Jika prediksinya terbukti, Bitcoin akan mengalami kenaikan hingga 1.000% dari titik terendahnya (sekitar US$18.000), angka yang sangat signifikan.

Tidak hanya itu, semakin banyak investor yang mulai tertarik pada Bitcoin.

Sigel mengungkapkan, banyak penasihat investasi kini mempertimbangkan untuk masuk ke pasar crypto, baik untuk pertama kalinya maupun untuk menambah portofolio mereka.

Hal ini didorong oleh harga Bitcoin yang terus naik dan potensi keuntungan yang besar.

Baca Juga: Viral Festival Kuliner Non Halal di Solo Paragon Mall Kembali Digeruduk Ormas, Netizen Panggil Gibran: Mas, Mobilnya Diparkirkan Lagi Dong!

Namun, hambatan regulasi masih menjadi tantangan utama.

Banyak investor masih ragu karena ketidakpastian peraturan dari regulator seperti SEC.

Meski begitu, baru-baru ini 18 negara bagian di AS mengajukan gugatan terhadap SEC terkait tindakan kerasnya pada industri crypto.

Jika gugatan ini berhasil, kepercayaan investor pada ekosistem crypto diperkirakan akan meningkat, mendorong lebih banyak partisipasi di pasar.

Meski optimisme ini tinggi, Bitcoin tetaplah aset yang volatil.

Sigel memperkirakan koreksi harga sebesar 6-10% bisa terjadi, mengikuti pola yang pernah terlihat setelah pemilu AS 2020.

Namun, ia yakin tren jangka panjang tetap akan mengarah ke atas. Lebih jauh lagi, jika regulasi di bawah pemerintahan Trump menjadi lebih ramah terhadap crypto.

Prediksi bahwa Bitcoin akan mencapai harga US$180.000 bukanlah sekadar angka tanpa dasar.

Jika suplai koin tetap stabil, pada harga tersebut kapitalisasi pasar Bitcoin akan menyentuh angka US$3,65 triliun.

Dengan mempertimbangkan Bitcoin Dominance yang berkisar antara 40% (umumnya terjadi saat puncak bullrun) hingga 60% (dominasi Bitcoin saat ini), total kapitalisasi pasar kripto diperkirakan berada di antara US$6,08 triliun hingga US$9,12 triliun.

Angka-angka ini menunjukkan potensi signifikan untuk industri crypto.

Jika prediksi ini terbukti benar, Bitcoin tidak hanya akan melampaui kapitalisasi pasar perusahaan terbesar dunia saat ini.

Yaitu Nvidia dengan kapitalisasi US$3,6 triliun, tetapi juga mendekati setengah dari kapitalisasi pasar emas.

Baca Juga: Harga Sembako dan Sayur di Boyolali Naik, Efek Tradisi Ruwahan dan Punggahan?

Secara historis, emas memiliki kapitalisasi pasar terbesar untuk aset penyimpan nilai, sehingga perbandingan ini memberikan validasi bahwa pertumbuhan pasar crypto sebesar 2-3 kali lipat dari puncaknya pada 2021 masih berada dalam batas yang masuk akal. (*)

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#prediksi #vaneck #bitcoin