Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Paus Fransiskus Wafat, Siapa Penggantinya? Ini Deretan Kardinal Kuat Calon Paus Baru

Damianus Bram • Selasa, 22 April 2025 | 02:04 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mencium Pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus usai melakukan foto bersama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (5/9).
Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mencium Pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus usai melakukan foto bersama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (5/9).

RADARSOLO.COM – Wafatnya Paus Fransiskus pada usia 88 tahun, Senin (21/4/2025), sehari setelah menyapa umat Katolik dalam momen Paskah di Basilika Santo Petrus, menandai berakhirnya era kepemimpinan seorang paus yang dikenal progresif, penuh semangat reformasi, serta vokal terhadap isu sosial global.

Sejak beberapa tahun terakhir, kesehatan Paus terus menurun—terakhir dirawat intensif akibat pneumonia berat.

Kini, takhta kepausan kembali kosong dan dunia menanti siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi Gereja Katolik berikutnya.

Tahapan Pemilihan Paus Baru

Baca Juga: Paus Fransiskus Wafat, Vatikan Umumkan Masa Sede Vacante

Vatikan akan segera menggelar konklaf, sidang tertutup yang berlangsung di Kapel Sistina.

Sebanyak 138 kardinal di bawah usia 80 tahun dari total 252 kardinal akan mengikuti proses pemilihan secara rahasia.

Proses ini biasanya berlangsung 15 hingga 20 hari dengan empat putaran pemungutan suara tiap harinya, hingga satu kandidat meraih dua pertiga suara.

Siapa Saja Kandidat Kuat Paus Pengganti Fransiskus?

Baca Juga: Fakta-fakta Meninggalnya Paus Fransiskus, Dari Sakit Hingga Pesan Serukan Perdamaian di Gaza

Melansir The Independent dan sejumlah media Vatikan, berikut deretan nama yang digadang-gadang berpeluang besar menggantikan Paus Fransiskus:

1. Kardinal Pietro Parolin (Italia)

Sekretaris Negara Vatikan sejak 2013, Parolin adalah tokoh moderat yang menghindari polarisasi Gereja.

Dikenal sebagai diplomat ulung, ia dianggap sebagai figur yang dapat menyatukan sayap konservatif dan progresif.

“Solusi tak boleh dipaksakan secara sepihak karena itu akan melukai hak suatu bangsa,” – Pietro Parolin

2. Kardinal Peter Erdö (Hungaria)

Tokoh konservatif yang menjunjung tinggi ajaran tradisional Gereja. Erdö secara tegas menentang Komuni untuk umat Katolik yang bercerai dan menikah kembali.

Pandangannya soal pengungsi pernah menuai kontroversi karena dinilai terlalu keras.

3. Kardinal Luis Antonio Tagle (Filipina)

Mantan Uskup Agung Manila ini menjadi wakil suara Asia dalam Vatikan. Pandangannya cenderung progresif, senada dengan arah pastoral Paus Fransiskus.

Jika terpilih, Tagle akan menjadi Paus Asia pertama dalam sejarah.

“Bahasa keras Gereja di masa lalu membuat banyak orang merasa diasingkan dari masyarakat,” – Luis Tagle, 2015

4. Kardinal Matteo Zuppi (Italia)

Presiden Konferensi Waligereja Italia dan sangat dekat Fransiskus. Ia aktif dalam misi perdamaian ke Ukraina dan AS.

Zuppi juga menulis dalam buku Building a Bridge yang mendukung pendekatan inklusif terhadap komunitas LGBT.

5. Kardinal Raymond Leo Burke (Amerika Serikat)

Dikenal luas sebagai Kardinal dengan suara konservatif di dalam Vatikan. Burke menentang banyak arah pastoral Fransiskus dan secara terbuka mengecam legalisasi aborsi serta komunitas LGBT di dalam Gereja.

Ia bahkan pernah menyatakan bahwa politisi pro-aborsi, termasuk Presiden Joe Biden, seharusnya tidak menerima Ekaristi.

Masa Depan Gereja Katolik Ada di Tangan Konklaf

Konklaf mendatang akan menjadi penentu arah baru Gereja Katolik: apakah melanjutkan semangat reformasi sosial dan keterbukaan Paus Fransiskus, atau justru kembali ke garis konservatif yang lebih ketat.

Siapapun yang terpilih nantinya akan menghadapi tantangan global yang kompleks—mulai dari isu perubahan iklim, konflik kemanusiaan seperti di Gaza dan Ukraina, hingga dinamika internal Gereja yang memerlukan pendekatan teologis dan pastoral yang seimbang. (dam)

Editor : Damianus Bram
#Konklaf #pemilihan paus #vatikan #paus fransiskus