RADARSOLO.COM – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, wilayah Timur Tengah resmi mencatat bencana kelaparan. Laporan terbaru Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan, Jalur Gaza kini berada dalam kondisi “Kelaparan” atau IPC Fase 5.
Dalam laporan yang dirilis Jumat (15/8/2025), IPC menegaskan bahwa krisis pangan di Gaza telah mencapai level paling parah.
Bahkan, dalam beberapa minggu ke depan, bencana ini diperkirakan akan meluas hingga ke kawasan Deir al-Balah dan Khan Younis.
Jutaan Warga Gaza Terjebak dalam Krisis
Lebih dari setengah juta warga Gaza kini hidup dalam kondisi ekstrem dengan kombinasi kelaparan, kemiskinan mendalam, hingga meningkatnya angka kematian.
“Setelah 22 bulan konflik tanpa henti, kita menyaksikan bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah,” ujar Jean-Marten Bauer dari Program Pangan Dunia (WFP) bersama Richard Peeperkorn, perwakilan WHO untuk Palestina.
Data IPC memperkirakan hampir sepertiga populasi Gaza atau sekitar 641 ribu orang, akan jatuh ke kondisi bencana pada akhir September.
Selain itu, 1,14 juta orang atau sekitar 58 persen penduduk menghadapi Darurat Kemanusiaan (IPC Fase 4).
Anak-anak Jadi Korban Paling Rentan
Kondisi gizi buruk meningkat dengan cepat. Setidaknya 132 ribu anak di bawah usia lima tahun diprediksi menderita malnutrisi akut pada Juni 2026, dua kali lipat dari perkiraan tahun lalu.
Dari jumlah itu, lebih dari 41 ribu anak masuk kategori parah dan sangat berisiko meninggal dunia.
Selain anak-anak, sekitar 55.500 ibu hamil dan menyusui juga mengalami krisis gizi dan membutuhkan bantuan segera.
IPC menilai, krisis ini bukan semata bencana alam.
Melainkan akibat langsung dari runtuhnya sistem pangan, konflik bersenjata yang berlarut, dan terhambatnya distribusi bantuan kemanusiaan.
Bahkan, sekitar 80 persen rumah tangga mengaku tidak aman ketika mencari makanan karena kekerasan yang terus terjadi.
Sementara harga bahan pokok melambung tinggi akibat kelangkaan.
“Tanpa gencatan senjata dan akses bantuan kemanusiaan yang luas, mustahil menghentikan spiral kelaparan ini,” tegas laporan IPC.
Komite Peninjau Kelaparan menambahkan, penundaan distribusi bantuan hanya dalam hitungan hari dapat berakibat pada lonjakan angka kematian yang tragis dan tidak dapat diterima. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria