RADARSOLO.COM - Negosiasi panjang dalam Perundingan Iran dan Amerika yang berlangsung selama 21 jam di Pakistan sejak Sabtu (11/4/2026) berakhir tanpa hasil.
egagalan ini kembali memunculkan pertanyaan besar: apakah perang akan terjadi lagi?
Pihak Amerika Serikat menilai Iran tidak bersedia memenuhi sejumlah syarat yang diajukan, terutama terkait penghentian program nuklir.
Di sisi lain, Iran menganggap tuntutan Washington tidak realistis dan sulit diterima.
Kebuntuan Perundingan Iran dan Amerika
Mengutip laporan New York Times, kegagalan Perundingan Iran dan Amerika membuat pemerintahan Presiden Donald Trump berada di persimpangan sulit
Ada dua opsi yang bisa diambil: melanjutkan negosiasi panjang dengan Teheran atau kembali pada jalur konflik terbuka yang berpotensi memicu perang lagi.
Kedua pilihan tersebut sama-sama memiliki risiko besar, baik dari sisi strategi maupun politik.
Gedung Putih pun menyerahkan keputusan akhir kepada Trump untuk menentukan langkah selanjutnya.
Wakil Presiden AS, JD Vance, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyampaikan proposal final kepada Iran, termasuk tuntutan penghentian permanen program nuklir.
“Kami sudah sangat jelas menyampaikan batasan dan hal-hal yang bisa kami toleransi. Namun, mereka memilih untuk tidak menerima persyaratan tersebut,” ujarnya.
Hasil Tak Jauh Berbeda, Apakah Perang Lagi?
Kebuntuan dalam Perundingan Iran dan Amerika kali ini disebut tidak jauh berbeda dari negosiasi sebelumnya di Jenewa pada Februari lalu yang juga berakhir tanpa kesepakatan dan berujung pada konflik militer.
Pemerintahan Trump sebelumnya berharap tekanan militer besar-besaran—termasuk serangan terhadap lebih dari 13.000 target menurut Pentagon—dapat memaksa Iran untuk melunak. Namun, harapan itu tampaknya tidak terwujud.
Sebaliknya, Iran tetap pada posisinya dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah begitu saja.
Sebagai catatan, kesepakatan besar terakhir antara kedua negara yang terjadi pada era Presiden Barack Obama membutuhkan waktu hingga dua tahun negosiasi dengan berbagai kompromi, termasuk pembatasan bertahap aktivitas nuklir Iran hingga 2030.
Perbedaan Prinsip yang Sulit Dijembatani
Dalam Perundingan Iran dan Amerika, salah satu titik krusial adalah soal pengayaan uranium. Iran hanya bersedia menghentikan sementara program nuklirnya, bukan menghentikan secara permanen atau menyerahkan cadangan uranium yang dimiliki.
Bagi Teheran, hal tersebut merupakan hak mereka sebagai bagian dari Perjanjian Nonproliferasi Nuklir, selama tidak digunakan untuk membuat senjata.
Namun bagi AS, sikap tersebut menjadi indikasi bahwa Iran tetap ingin mempertahankan opsi untuk mengembangkan senjata nuklir kapan saja.
Perbedaan mendasar inilah yang membuat negosiasi terus menemui jalan buntu, bahkan setelah konflik selama 38 hari sebelumnya.
Iran Tegas, Dunia Bertanya: Apakah Perang Lagi?
Di tengah kebuntuan Perundingan Iran dan Amerika, Iran justru menunjukkan sikap semakin tegas. Pemerintah Iran menyatakan bahwa tekanan militer tidak akan membuat mereka menyerah.
“Kehilangan banyak warga justru memperkuat tekad kami untuk memperjuangkan hak bangsa,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran.
Juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa jalur diplomasi masih terbuka. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kesepakatan tidak mungkin tercapai dalam satu pertemuan saja.
Ia menekankan bahwa keberhasilan Perundingan Iran dan Amerika sangat bergantung pada itikad baik kedua belah pihak, termasuk pengakuan atas hak-hak Iran.
Meski negosiasi gagal, Iran memastikan komunikasi dengan negara-negara kawasan, termasuk Pakistan dan sekutunya, akan terus berlanjut.
Situasi Memanas, Dunia Waspada
Kegagalan Perundingan Iran dan Amerika kembali meningkatkan ketegangan geopolitik global. Pertanyaan besar kini muncul: apakah perang akan pecah lagi?
Untuk saat ini, belum ada keputusan resmi dari Washington. Namun, dengan posisi kedua negara yang sama-sama keras, risiko konflik terbuka masih menjadi ancaman nyata di kawasan Timur Tengah.(np)
Editor : Nur Pramudito