"Hampir setiap hari sebelum ke Balai Kota, saya mampir ke sekolah meninjau PTM. Saya datang mendadak tanpa pemberitahuan dulu karena saya ingin benar-benar mengecek gurunya pakai maskernya atau tidak! Saya mendapati ada guru mengajar melepas maskernya saat PTM," terang Gibran, Rabu (15/9).
Wali kota menyayangkan ada tenaga pendidik yang lalai dalam penerapan prorokol kesehatan (Prokes). Dia khawatir hal itu dapat memberikan contoh buruk kepada siswa, terlebih saat para tenaga pendidik itu memulai kegiatan belajar mengajar di tengah penerapan PTM terbatas.
"Lha, kalau gurunya lalai kan bisa dicontoh siswanya. Itu yang tidak baik," papar dia.
Sedikitnya ada tiga guru dan satu siswa yang dia dapati tidak memakai masker selama meninjau PTM terbatas yang sudah berlangsung selama dua pekan itu. Dia berharap PTM yang hampir mulai diterapkan di seluruh sekolah itu bisa lebih patuh dalam penerapan prokes mengingat kesuksesan dari PTM itu diukur dari hal itu.
"Itu kejadiannya di SMP, guru dan siswa sudah diberikan teguran. Kalau masih nekat lagi tidak memakai masker, lebih baik tidak usah ada PTM saja," tegas Gibran.
Sejumlah tenaga maupun instansi pendidikan terkait kini telah mendapat teguran dari Dinas Pendidikan Kota Surakarta maupun pengawas pendidikan di masing-masing wilayah.
"Sejauh ini pelanggaran hanya itu. Mudah-mudahan tidak ada lagi pelanggaran serupa," beber Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Etty Retnowati.
Disinggung soal evaluasi PTM terbatas selama dua pekan ini, Etty mengatakan, terbilang baik. Intansi pendidikan yang menjalankan PTM terbatas patuh dalam kuota pembelajaran dan aturan lainnya sehingga menunjang dalam pelaksanaannya.
"Belum ada dan mudah mudahan tidak ada kasus Covid-19 saat PTM. Sampai hari ini sudah ada seratusan lebih sekolah yang PTM. SMP sudah semua, SD ada 30 sekolah, sementara untuk PAUD ada delapan sekolah yang mulai PTM terbatas," tutup Etty. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram