"Ketika pemerintah sudah menggunakan kebijakan HET (harga eceran tertinggi) tapi tidak jalan. Bahkan menggunakan DMO nggak jalan. Sudah dikawal dengan instrumen pemerintah juga masih nggak beres. Saya kira ini sebuah tindakan yang dilakukan oleh presiden dengan sangat tegas," ujar Ganjar.
Diungkapkan gubernur, persoalan minyak goreng ini sudah cukup berlarut-larut. Bahkan lebih dari empat bulan. Masyarakat pun sudah semakin tak sanggup dalam menghadapi kelangkaan dan naiknya harga minyak goreng. Oleh karena itu, tindakan larangan ekspor yang diambil langsung oleh presiden tersebut benar dan bagus.
Pemangku kepentingan utama seperti menteri perdagangan dan perindustrian, juga BUMN atau lewat Badan Pangan Nasional pun harus segera mengambil langkah. Misalnya dengan mengajak para pengusaha berkomunikasi.
"Karena sudah empat bulan lebih tidak bisa, ya tindakan presiden menurut saya benar ini. Seribu persen benar dan harus kita dukung. Biar kemudian orang mengerti apa yang harus diperhatikan dalam kepentingan nasional," papar Ganjar.
Dalam konteks ini, dia menilai para pengusaha pasti akan bersedia diajak duduk bersama dan ngobrol. Demi kepentingan nasional, Ganjar yakin para pengusaha pasti tetap punya nasionalisme dan patriotisme yang tinggi sehingga mereka akan membantu.
"Sekali lagi, kepentingan nasional. Kita musti dukung tindakan ini. Kan presiden menyampaikan sampai waktu yang belum ditentukan. Artinya, kalau cepat-cepat semuanya memperbaiki situasi ini mungkin itu tidak perlu lama. Tapi kalau tidak diperbaiki ya pasti kebijakan ini akan berdampak pada yang lain," tegas Ganjar.
Tindakan melarang ekspor minyak goreng itu memiliki pengaruh bagus, khususnya di Jawa Tengah dan daerah lain se-Indonesia. Ganjar menduga setelah adanya kebijakan itu, maka minyak goreng akan banyak masuk.
"Setelah ini kita cek saja. Dugaan saya pasti akan ada minyak goreng yang masuk ke sini lebih banyak lagi. Saejauh ini saya sudah ngecek ke lapangan, dan memang untuk minyak goreng curah tidak gampang didapat. Mereka yang dapat BLT minyak goreng, membelinya pun minyak goreng yang kemasan semuanya. Itu saya tanyakan semua kepada mereka, karena kita turun ke lapangan," tandas Ganjar. (bay/ria) Editor : Syahaamah Fikria