SOLO - Membangun mental juara tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu dilakukan upaya dan tekad yang kuat untuk membangun jiwa-jiwa juara kepada para pemuda.
Hal ini diungkapkan Wakil Ketua DPRD Provinsi Jateng Quatly Alkatiri saat menjadi pembicara di focus group discussion (FGD) bertema Membangun Mental Juara sejak Usia Muda di Hotel Sarila Solo, Sabtu (13/8).
"Menjadi juara biasa kita temukan dalam perlombaan atau pertandingan. Namun, mental juara lebih dari itu. Mental ini bisa didapat bila setiap individu siap menghadapi tantangan dalam kehidupan," ujar Quatly
Ditambahkan dia, untuk memperoleh hal tersebut, individu tersebut harus memiliki jiwa yang tangguh.
"Mental juara ini tidak harus menang. Namun, fokus terhadap tujuannya. Memang lebih kompleks ya, ini tantangan para pemuda kita. Harus ada dan punya komitmen yang kita untuk menjalani kehidupan, apapun rintangan yang ada di depannya," jelasnya.
Lalu kapan mental juara ini mulai dibentuk? Quatly menjelaskan, hal ini tergantung kesadaran tiap orang tua. Diharapkan bisa dilakukan sedini mungkin.
"Karena dialog pertama anak adalah dengan orang tuanya. Dari situ mulai ditanamkan mental ini," katanya.
"Contoh, anak-anak emosinya tentu masih tinggi. Di sini peran orang tua diperlukan. Bagaimana dari kecil mereka bisa dilatih untuk mengontrol emosi mereka. Di situlah aplikasi dari mental juara, ketika anak-anak kita bisa mengendalikan emosi mereka. Dengan bisa mengendalikan emosi mereka akan fokus dalam memperoleh apa yang menjadi tujuan mereka," urai Quatly.
Untuk itu, antara anak dan orang tua harus membangun komunikasi yang baik. Sehingga apa yang diinginkan anak bisa tercapai. Namun, tetap ada peran orang tua untuk mengingatkan kewajiban anak.
"Karena restu orang tua sangat penting. Karena keberhasilan kita karena restu orang tua," pungkas Quatly.
Senada dengan Quatly, Profesional Futsal Player Hanif Sungkar yang juga menjadi pembicara FGD mengatakan, mental juara memang harus dibentuk sedari kecil. Dia juga berbagai resep agar mampu memiliki mental juara.
"Harus bangga dengan potensi diri sendiri. Tidak malu untuk bertanya dengan yang lebih ahli agar kita bisa berkembang. Karena itu ilmu. Kemudian jangan sombong, karena bila kita sombong, itu akan menjadi bumerang untuk kita sendiri, kita akan down sendiri," ungkapnya. (atn/ria) Editor : Syahaamah Fikria