Gua Tlorong namanya. Meski cukup asing di telinga wisatawan, namun gua ini sudah ditemukan sejak lama. Bahkan, sesekali dikunjungi orang yang hobi mencari hal-hal ekstrem. Selain Gua Tlorong, ada dua gua lainnya, yakni Bedah dan Kunci. Namun yang lebih tenar di kalangan warga sekitar adalah Gua Tlorong.
Gua ini berjarak sekira 4 kilometer dari kebun Teh Kemuning. Gua Tlorong memiliki pintu yang sangat sempit, setinggi 1 meter dengan lebar 50 sentimeter. Selain itu menjorok ke bawah tanah. Butuh peralatan khusus untuk masuk di dalamnya.
Sementara Gua Bedah dan Gua Kunci lebih ramah bagi wisatawan. Bisa dijelajahi, dengan catatan tetap menggunakan lampu senter dan alas kaki antiselip, mengingat masih cukup licin. Selain itu wajib bawa masker, karena banyak kotoran kelelawar yang menyengat. Sebelum mengunjungi gua, disarankan menghubungi pemandu atau warga setempat.
Untuk menuju lokasi tiga gua, jalurnya sedikit menantang. Melewati hutan karet, perumahan warga dan kebun-kebun milik warga. Sebelum menuju ke gua, terdapat perkampungan untuk memarkirkan kendaraan bagi yang tidak berani membawa motor sampai ke lokasi. Karena jalan ke lokasi Gua Tlorong masih bebatuan, sempit dan berliku.
Lokasinya memang sedikit tersembunyi, sebelum mencapai bibir gua harus menuruni bukit yang medannya cukup sulit. Namun di atas gua kita bisa menikmati pemandangan yang cantik dari atas bukit.
Rasa lelah juga terbayarkan saat sudah melihat gua dan masuk. Keidahan stalaktit di dalam gua seolah-olah masuk ke dalam perut bumi. Terutama Gua Bedah dan Gua Kunci yang memiliki ruangan cukup luas.
Suasana di dalam gua pun masih alami dengan suara kelelawar dan percikan air yang mengalir. Di dalam gua juga terdapat beberapa pintu menuju ke ruangan berikutnya.
Wisata Gua Tlorong ini sangat cocok untuk mengisi kegiatan liburan, apalagi saat libur panjang maupun libur akhir pekan. Keindahan dan keasrian Gua Tlorong ini sangat cocok bagi petualang dan pencita alam.
”Tiga gua ini sebenarnya sudah lama ditemukan sebagai tempat wisata, bahkan dijadikan sebagai tempat penelitian. Namun karena minat wisatawan yang kurang, kondisinya jadi kurang terawat. Itu sangat disayangkan,” kata Fajar Sapto Nugroho, pemandu wisata warga setempat. (mg10/adi) Editor : Damianus Bram