RADARSOLO.COM - Berbagai upaya dilakukan untuk memajukan seni dan budaya Indonesia, salah satunya lewat pentas wayang kulit. Lewat kesenian ini, mampu meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa di momentum Hari Kemerdekaan ini.
Setiap masyarakat memiliki cara tersendiri untuk menyemarakkan HUT Ke-78 Kemerdekaan Indonesia. Seperti halnya warga RW 06 Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Dimana warga yang memperingati hari kemerdekaan sekaligus nguri-nguri budaya Jawa dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk.
Acara ini mendapat apresiasi dari Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah Quatly Abdulkadir Alkatiri. Politikus senior Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini melihat langsung pentas wayang berjudul Semar Boyong dengan dalang Ki Bagonk Damono, Sabtu (19/8) malam.
Acara ini dikemas dalam tema Menghadirkan Nilai Luhur Budaya di Masyarakat. Dimuali dengan penyerahan wayang Semar dari Quatly kepada Dalang asal Juwiring, Klaten tersebut. Setelah itu, Ki Bagonk langsung memulai pertunjukkannya.
Sorak sorai penonton serta tupuk tangan mengiringi pementasan malam itu. Ratusan masyarakat terlihat antusias menyaksikan wayang kulit. Tak sedikit dari mereka rela menonton sambil duduk lesehan dan berdiri karena kursi yang disiapkan panitia tak cukup.
Dalam sambutanya, Quatly mengatakan, momentum HUT Ke-78 Kemerdekaan Indonesia ini patut disyukuri. Karena tanpa perjuangan para pahlawan, warga Indonesia tidak mungkin bisa sampai ke titik ini.
”Oleh sebab itu, pada momentum ini saya ingin kita mendoakan jasa para pahlawan kita yang gugur demi kemerdekaan tanah air kita,” ujar Quatly.
Lebih lanjut, Quatly mengatakan, perayaan hari kemerdekaan memang sepatutnya dirayakan dengan sukacita. Apalagi saat ini pemerintah sedang mencanangkan Indonesia Emas 2045.
”Makanya jargonya tiap tahun berbeda-beda dalam rangka kemajuan kita semuanya,” imbuh politisi dari dapil VII wilayah Kota Solo, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Sukoharjo ini.
Seperti pementasan wayang kulit ini sebagai cara memajukan seni-budaya. Mengingat, kesenian wayang kulit merupakan bagian dari budaya bangsa. Dia juga mengapresiasi peran serta generasi milenial yang ikut melestarikan wayang kulit. Quatly optimistis upaya pelestarian budaya tidak akan terputus.
”Perlu kita lestarikan. Terutama generasi penerus kita nanti. Saya lihat warga di sini kompak. Yang menyiapkan bukan yang sepuh-sepuh saja, yang milenial, remajanya juga ikut membantu,” ujarnya.
Selain itu, penonton wayang kulit tersebut juga dari berbagai kelompok usia. Hal ini menunjukkan jika wayang kulit terus diminati masyarakat.
”Artinya apa, generasi setelah saya ini walau dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, pentas wayang masih jadi hiburan, masih dinikmati semua usia. Masih ada di hati masyarakat. Jadi saya kira, tidak mungkin wayang ini akan ditinggalkan pada masa mendatang,” urai Quatly.
Quatly menambahkan, melihat antusias yang tinggi tersebut, dia mempercayai nilai Pancasila, terutama sila ke-3 berhasil diterapkan.
”Ini perlu kita selalu jaga, persatuan dan kesatuan ini. Sehingga dengan kita bersatu, guyup, tentu bangsa kita akan menjadi bangsa yang besar,” ungkapnya. (adv-nif)
Editor : Damianus Bram