RADARSOLO.COM - Terjadinya krisis iklim membuat kondisi bumi semakin rentan dengan berbagai ancaman yang berisiko pada kehidupan masyarakat. Mulai dari tingginya intensitas bencana alam hingga ketahanan sektor pangan.
Untuk masyarakat juga perubahan cuaca membuat daya tahan tubuh bisa gampang nge-drop.
Sementara itu, kelompok masyarakat vurnerable atau rentan disebut-sebut paling terdampak akibat fenomena krisis iklim.
Kelompok rentan itu ialah anak-anak, perempuan, masyarakat adat, petani, hingga warga miskin.
"Tapi, menurut saya yang paling terdampak juga adalah warga kota," ungkap praktisi komunikasi dan pelibatan publik pada isu-isu kelestarian Juris Bramantyo saat mengisi materi workshop soal Mitigasi Perubahan Iklim, belum lama ini (30/11)
Alasan warga kota menjadi paling terdampak salah satunya karena keadaan lingkungannya.
Dia mencontohkan saat masa pandemi Covid-19, orang-orang urban sulit menjaga ketahanan pangan mereka. Regulasi pemerintah menahan mereka untuk berdiam diri di rumah.
"Kita (orang kota) punya duit, supermarket masih buka. Mau beli makanan untuk dimasak, tapi kita nggak boleh keluar rumah. Jadi sudah tidak ada ketahanan pangan lagi," tuturnya.
"Kalau di desa kan meski punya duit, dan nggak boleh keluar rumah tapi masih bisa menanam. Masih bisa dapat sumber pangan," lanjutnya.
Untuk itu, lanjutnya, meski warga kota memiliki privilege dan teknologi yang bisa dikatakan lebih resisten terhadap krisis iklim. Namun rupanya hal itu tidak berlaku.
"Semua orang terdampak (krisis iklim), orang kota itu juga sangat-sangat terdampak," sebutnya.
Juris melanjutkan, saat ini hal yang juga harus mulai disadari masyarakat adalah terjadinya peningkatan suhu. Emisi gas rumah kaca semakin naik hingga membuat krisis iklim semakin parah.
Faktor yang menyebabkan hal itu berasal dari sektor manufaktur, beban suplai listrik, pertanian, transportasi, hingga rumah tangga.
"Pertanian itu menjadi penyebab sekaligus menjadi yang terdampak juga," imbuh Juris.
Kesenjangan sosial dan ekonomi juga mengikuti dampak dari krisis iklim. Seperti saat kemarau, orang kaya bisa merogoh banyak uang untuk mencari kenyamanan. Sementara orang miskin tak bisa berbuat apa-apa.
"Jadi ngomongin krisis iklim sebenarnya juga ngomongin konflik sosial. Orang kaya kebanjiran bisa ngungsi ke apartemen, kepanasan nyalain AC. Tapi orang miskin mau pindah ke mana?," tukasnya.
Dia juga mengatakan, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat sebanyak 3.467 bencana terjadi sepanjang 2023. Menyebabkan tujuh juta warga menderita dan mengungsi dari tempat tinggal mereka.
Selain itu, krisis iklim juga membuat keanekaragaman hayati hampir punah. Seperti serangga, yang mungkin dianggap sepele oleh masyarakat, namun berdampak besar pada ketahanan pangan.
"Kalau tidak ada serangga yang menyerbuki kita tidak punya makanan yang dihasilkan tumbuhan. Terus bagaimana kalau mereka punah?," ucap Juris.
Maka dari itu, ungkap Juris, masyarakat mulai perlu membuka mata terhadap isu krisis iklim ini. Sebab tak hanya satu sektor saja yang berdampak. Namun hampir seluruh hal yang rawan mengalami kerugian atas fenomena ini.
Juris mengatakan, perlu kolaborasi berbagai pihak. Terlebih, generasi muda yang harus melakukan perubahan.
"Diperlukan suatu langkah besar untuk meminimalisir dampak krisis iklim, seiring tujuan memajukan perekonomian nasional, kunci utamanya adalah adaptasi dan mitigasi yang perlu disadari semua orang," imbuhnya. (ul/nik)
Editor : Damianus Bram