Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Normalisasi Pelanggaran Etika dan Permainan Orang Dalam di Era Jokowi Sangat Berbahaya, Mahasiswa: Ini Alarm Merah!

Silvester Kurniawan • Selasa, 19 Desember 2023 | 03:01 WIB

Gabungan BEM dari berbagai univeristas di Indonesia menggelar aksi di depan Balai Kota Solo, Senin (18/12).
Gabungan BEM dari berbagai univeristas di Indonesia menggelar aksi di depan Balai Kota Solo, Senin (18/12).

RADARSOLO.COM - Gabungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari 10 kampus di Indonesia menggelar mimbar bebas di depan Balai Kota Solo, Senin (18/12).

Mereka menyampaikan protes pada pemerintah, terutama terhadap 9 tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Selain itu, proses majunya sang putra sulung Gibran Rakabuming sebagai cawapres, ikut ditelanjangi dalam aksi tersebut.

Aksi tersebut diikuti mahasiswa yang tergabung dalam BEM dari berbagai universitas. Di antaranya dari Solo ada BEM UNSA, BEM UIN, BEM Unisri, dan lainya.

Selain itu, ikut juga perwakilan BEM dari beberapa kampus di Indonesia. Seperti BEM Universitas Indonesia (UI), BEM Universitas Paramadina Jakarta, dan BEM Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Mereka membentangkan sejumlah spanduk bernada kritikan. Seperti ‘Evaluasi 9 th Rezim Jokowi’ dan ‘Tahta Untuk Rakyat’.

Para mahasiswa itu juga membawa jagung sebagai simbol demokrasi yang masih seumur jagung sambil mengenakan kaos bertuliskan ‘Republik Rasa Kerajaan’.

“Kita lihat dari tahun ke tahun rasanya keluarga Jokowi ini ingin memiliki kuasa. Jangan sampai karena punya kuasa memberikan kesempatan untuk memberikan kursi-kursi," beber Koordinator aksi, Raafila Anbiya di sela-sela aksi.

"Ada etika hukum yang telah dilanggar dengan majunya Gibran sebagai cawapres. Demokrasi hari ini sangat disayangkan karena terasa seperti kerajaan,” imbuh dia.

Senada, Ketua BEM Universitas Paramadina Afiq Nauval menegaskan, pelanggaran etika yang terjadi saat ini sangat berbahaya bagi nilai demokrasi.

Apalagi, hal-hal seperti pelanggaran etika dan permainan orang dalam saat ini justru dinormalisasi oleh negara.

Lebih-lebih ketika ada capres menyebut ‘Ndasmu Etik’, itu merupakan upaya untuk menormalisasi pelangaran etika dan konstitusi yang terjadi saat ini.

“Bagi kami, itu alarm merah yang berbahaya bagi generasi penerus. Itu menyepelakan seluruh konstitusi yang sudah dibangun sampai hari ini," tegas Afiq. (ves/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#jokowi #bem #demokrasi #aksi #pelanggaran etika #gibran rakabuming raka