RADARSOLO.COM - Polisi telah menemukan fakta kecelakaan maut bus Trans Putera Fajar yang menewaskan 11 orang di Ciater, Subang, Jawa Barat, disebabkan kelalaian karena rem rusak.
Bahkan masa berlaku uji KIR bus pariwisata itu juga sudah kedaluwarsa.
Selain itu, bus tersebut juga diketahui sudah uzur alias tua.
Bus dengan nopol AD 7524 OG tersebut sudah beberapa kali berganti kepemilikan.
Plat nomor bus tersebut adalah nopol Wonogiri, karena sebelumnya memang dimiliki perusahaan asal Wonogiri, PT Jaya Guna Hage.
Saat itu, bus digunakan untuk angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) alias bumel.
"Hage itu beli dari pihak lain. Kemudian pada Oktober 2023, oleh Hage dilepas (dijual) ke pihak lain," ujar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Wonogiri Waluyo.
Namun, saat dibeli pihak lain, bus belum semoat dibalik nama, hingga kemudian kecelakaan tragis itu terjadi.
Ada hal mengejutkan setelah adanya ganti kepemilikan bus tersebut.
Bus tersebut diketahui mengalami perombakan.
Dari sisi tampilan, bus itu mengalami operasi wajah dari wujud asal model Discovery bikinan Karoseri Laksana Ungaran, Jawa Tengah, diubah jadi model Jetbus 3 ala Karoseri Adi Putro, Malang, Jawa Timur.
Hal mencengangkan lainnya, tinggi bus juga diubah dari tinggi standar atau non high deck (non HD) menjadi model high deck alias dek tinggi (HD).
"Operasi" bus itu dilakukan di bengkel karoseri, dengan maksud membuat tampilan bus lebih kekinian.
Seiring dengan fakta-fakta mengejutkan bus Trans Putera Fajar yang alami kecelakaan itu, istilah non HD, HD dan sebagainya pun menjadi viral dan ramai diperbincangkan masyarakat.
Istilah non HD dan HD merupakan akronim, merujuk pada teknis mengenai spesifikasi bus terkhusus pada bagian bodi.
Bus Normal Deck Alias Non High Deck (Non HD)
Bus tipe normal deck atau non-high deck (non HD) adalah jenis bus yang memiliki satu lantai.
Bentuk bus umumnya persegi panjang dengan tinggi sekira 3 - 3,3 meter, dilansir dari JawaPos.com.
Bus ini banyak digunakan pada tahun-tahun sebelum 2010 alias bus tua.
Namun demikian, sampai saat ini masih banyak ditemukan bus non HD di Indonesia.
Nah, bus Trans Putera Fajar yang alami kecelakaan maut di Ciater diduga memiliki basis bodi non HD, yang kemudian diubah menjadi HD alias high deck.
Bus non HD memiliki tinggi yang sama antara tempat duduk sopir dan penumpang.
Bagasi bus non HD relatif sempit dan wajarnya memiliki rute trayek AKDP saja.
Bus high decker alias HD memiliki ciri lantai bus yang lebih tinggi daripada non HD.
Tren bus HD mulai muncul pada tahun 2009.
Saat itu diperkenalkan bus New Marcopolo dari karoseri Adiputro, Trisakti Phoenix, dan Laksana Legacy.
Bus HD ini menjadi populer dan banyak diminati masyarakat.
Pertumbuhan penggunaan bus high deck di Indonesia semakin meningkat, sejalan dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2012.
Perbedaan Bus HD dengan Non HD
Perbedaan antara bus high decker (HD) dan non HD dapat dilihat dari tinggi bus yang berkisar antara 3400 hingga 3500 mm.
Meski secara visul agak susah dibedakan, namun ciri dua jenis bus itu dapat dilihat pada interiornya.
Seperti tempat duduk sopir pada bus high deck (HD) lebih rendah daripada tempat duduk penumpang.
Serta tidak ada tonjolan di samping sopir bus yang biasa disebut ‘kuburan mesin’. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria