RADARSOLO.COM - Kebaya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO.
Hal itu disambut gembira oleh para pegiat kebaya. Khususnya penggagas agar busana wanita itu masuk dalam daftar warisan budaya dunia.
Salah satunya, Febri Hapsari Dipokusumo.
Febri yang tergabung dalam Himpunan Ratna Busana Surakarta (HRBS) itu menuturkan, proses panjang harus dijalani dia bersama tim agar kebaya bisa mendapat pengakuan dunia.
Mulai dari riset hingga pengajuan ke UNESCO.
Baca Juga: Sensasi Rica Entung Jati di Sumberlawang Sragen, Rasanya Pedas Manis di Lidah
"Dimulai dari penetapan tanggal 24 Juli sebagai Hari Kebaya. Kemudian perdebatan memang sempat terjadi," ujar Febri.
"Karena sebenarnya kita ingin singel nomination. Tapi karena barengannya banyak, semangat persatuan ASEAN datang, akhirnya menjadi join nomination," ujarnya.
Keputusan penetapan kebaya sebagai warisan budaya tak benda UNESCO diumumkan dalam sidang ke-19 Session of the Intergovernmental Committee on Intangible Cultural Heritage (ICH) di Asuncion, Paraguay, pada Rabu (4/12/2024).
Baca Juga: Pacu Promosi Pariwisata Jateng, Tour de Borobudur XXIV 2024 Lintasi Rute Sepanjang 129 Km
Kebaya diajukan secara bersama oleh Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, hingga Thailand
"Memang kebaya kalau diruntut asalnya dari indonesia. Kita sempat keberatan, tutur Febri.
Namun, setelah perdebatan panjang, kata dia, akhirnya menyetujui untuk join nomination itu.
"Karena kita mengakui juga ada upaya dari negara-negara Asean yang ikut melestarikan kebaya ini," katanya.
Dengan pengakuan UNESCO tersebut, lanjut Febri, para anak bangsa harus bahu-membahu untuk terus melestarikan kebaya.
Diaku dia, hal itu memang cukup berat. Sebab, literasi kebaya yang berasal dari Indonesia justru sangat minim.
"Padahal literasi ini sangat penting untuk anak-anak kita. Buku literatur kita kalah dengan negara tetangga, di mana banyak penulis luar yang mengulas soal kebaya," ungkapnya.
Selain itu, Indonesia perlu memiliki museum khusus kebaya. Sebab, selama ini belum ada museum yang khusus memamerkan kebaya nusantara.
"Selama ini digabungkan dengan koleksi yang lain," katanya.
Padahal, ucap Febri, kebaya bukan sekedar pekaian.
Namun sebagai simbol indentitas perempuan Indonesia.
"Dengan adanya museum kebaya, masyarakat kita bisa belajar sejarah tentang kebaya, perilaku ketika menggunakan kebaya. Ini yang kita tidak punya," imbuh Febri.
Terlebih lagi, setiap daerah memiliki ragam kebayanya masing-masing.
Baca Juga: Kondisi Sritex Kian Parah! Mesin Pabrik Stop Produksi, Nasib Para Pekerja Makin Tak Jelas
Seperti kebaya RA Kartini, kebaya kutu baru, kebaya bordir, kebaya nona di Manado, kebaya labuh dari Kepri, dan masih banyak ragam yang lain.
"Sehingga harapan kita, kebaya-kebaya ini bisa segera dipatenkan," ujarnya.
Lebih lanjut, Kota Solo wajib terus mewariskan budaya. Sebab, banyak agenda kebaya yang digelar di Kota Bengawan.
"Seperti Parade Kebaya. Kemudian berkebaya menggunakan batik wiron bersama Bu Iriana (Jokowi) dulu yang sampai memecahkan rekor MURI, juga terlaksana di Solo," papar Febri.
Dia pun berharap, tidak harus menunggu setiap 24 Juli untuk bersemangat menggunakan kebaya.
"Pegawai Pemkot Solo kan setiap Kamis juga sudah menggunakan kebaya, itu bagus. Kalau yang sekolah-sekolah, dulu bisa (seragam kebaya). Kenapa sekarang tidak lagi, saya kurang tahu," tandas Febri. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria