RADARSOLO.COM - Netizen tanah air kompak mengkritik akronim dari Kementerian Kebudayaan yakni Kemenkebud yang saat ini dipimpin oleh Fadli Zon.
Kemenkebud yang merupakan singkatan dari Kementerian Kebudayaan dianggap kurang pas oleh para pengguna media sosial.
Sebagai informasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan awalnya disatukan dalam satu kementerian.
Namun pada masa pemerintahan Prabowo-Gibran, keduanya secara resmi dipisah dengan harapan keduanya bidang tersebut dapat lebih tertangani dengan baik.
Namun sayangnya netizen justru menganggap aneh singkatan dari Kementerian Kebudayaan aneh dan tidak pas.
Oleh karena itu, netizen pun kompak melayangkan kritikan meminta agar singkatan Kemenkebud diganti.
Tidak hanya itu saja, sejumlah netizen juga memberikan opsi solusi untuk kebaikan Kementerian Kebudayaan ini ke depannya.
"Min, akronimnya ganti dong yang lebih enak, KEMENDAYA/ KEMENBUD jangan ada kebudnya, terdengar kurang pas," kritik salah salah satu netizen, dikutip dari JawaPos.com.
"Bagus Logonya tapi akronimnya kureng. KEMENDAYA lebih terdengar masuk akal dan langsung ngeh kalau itu kementrian kebudayaan," timpal yang lainnya.
Atas munculnya singkatan tersebut, netizen lain justru semakin tercerahkan menganggap singkatan yang saat ini dipakai Kementerian Kebudayaan memang kurang tepat atau mengganjal di hati.
Mereka pun mendukung supaya Kementerian Kebudayaan mengganti akronimnya.
"Dukung akronim Kemendaya menjadi resmi, makasih mas/ mbak yang sudah mencetuskan ide ini," komentar salah satu warganet.
"Ayo serukan dan suarakan KEMENKEBUD menjadi KEMENDAYA. Sebutan KEMENDAYA terasa indah dan puitis," timpal yang lainnya.
Selain melayangkan kritikan soal singkatan, netizen juga menyoroti kehadiran logo baru Kementerian Kebudayaan. Mayoritas dari mereka menganggap logo barunya sangat keren.
"Logo sudah oke. Tinggal akronim kemenkebud ini yang mengganjal."
"Filosofinya dalam dan luar biasa. Selamat buat logonya bro Wamen, keren pol," komentar salah satu netizen.
"Sekelebat mirip logo IKJ, tapi pas ditegesin, wah ini beda. Cakeplah pokoknya," timpal yang lainnya. (dam)
Editor : Damianus Bram