Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Pasca Geger Perbuatan Asusilanya Terungkap, Bu Guru di Grobogan Masih Nekat Cari Siswa SMP yang Pindah ke Ponpes

Syahaamah Fikria • Sabtu, 11 Januari 2025 | 20:29 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

RADARSOLO.COM - Usai geger tindakannya yang mengajak siswa SMP berbuat asusila terungkap, ST, 35, guru perempuan alias bu guru agama di Grobogan masih juga mencari keberadaan korban.

Padahal, saat itu siswa SMP yang masih berusia 15 tahun itu tengah menenangkan diri dan menjalani terapi di salah satu pondok pesantren.

Sebab, pasca viral perbuatan tidak senonoh bu guru agama, siswa SMP tersebut menjadi stress dan tertekan.

Apalagi kejadian penganiayaan oleh ayah bu guru ST juga membuat korban trauma.

Korban pun akhirnya keluar dari sekolah dan memilih pindah ke ponpes.

Remaja SMP yang dicabuli bu gurunya di Grobogan kini menjalani terapi di sebuah pondok pesantren. Kondisinya sudah mulai pulih setelah ponselnya disita oleh pihak pondok karena guru berinisial ST (35) itu masih berusaha berkomunikasi dan menemui.

Pengasuh pondok pesantren tersebut, Ahmad Gufron mengatakan, sudah tiga bulan korban berada di ponpes.

Hal itu atas permintaan pihak keluarga korban dan rekomendasi kepala dusun setempat.

Diakui Ahmad, awalnya saat baru datang di ponpes, korban hanya banyak diam. Dia juga tidak mau berkumpul dengan teman-teman sesama santri di sana.

"Alhamdulillah sekarang perkembangan kondisinya baik. Sudah mengikuti kegiatan belajar bersama teman-temannya, mau ngaji dan cerita," ungkap Ahmad.

Selama di pondok, siswa SMP tersebut menjalani terapi psikologi.

"Ya agar psikisnya normalnya lagi. Kita didik kembali," kata pengasuh ponpes.

 

Bu Guru Agama Sempat Mencari

Lebih lanjut, dikatakan Ahmad, saat baru sepekan berada di pondok, siswa SMP tersebut ternyata dicari oleh bu guru ST.

Guru perempuan itu menghubungi korban lewat handphone (HP), lalu mereka bertemu.

Setelah kejadian itu, HP korban pun disita oleh pihak ponpes.

"HP-nya saya sita, ternyata setelah itu lebih enjoy, mau diajak bicara, mau berbaur dengan teman lain," ucap Ahmad.

Kondisi itu jauh berbeda dengan di awal-awal, korban tiba-tiba menghilang dari pondok. Saat dicari santri lain, ternyata ada di sawah.

"Waktu itu masih belum jujur, ngomong nggak bawa HP. Dia seperti takut, bingung, tertekan harus bagaimana," jelas Ahmad. (ria)

 

 

Editor : Syahaamah Fikria
#guru perempuan #viral #terapi #siswa smp #Pondok Pesantren #grobogan #asusila #Perbuatan Tidak Senonoh