Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Buntut Kemendikti Saintek Kena Efisiensi Anggaran Sebesar Rp 14,3 Triliun, Biaya Kuliah di PTN Berpotensi Naik

Damianus Bram • Kamis, 13 Februari 2025 | 18:11 WIB

Mendiktisaintek Satryo Soemantri Brodjonegoro.
Mendiktisaintek Satryo Soemantri Brodjonegoro.

RADARSOLO.COM – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Satryo Soemantri Brodjonegoro, menyebut efisiensi anggaran berdampak pada kenaikan uang kuliah di perguruan tinggi negeri.

Hal ini sangat memungkinkan terjadi, mengingat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) terkena efisiensi anggaran hingga mencapai Rp 14,3 triliun.

"Kami menyampaikan secara ringkas apa yang dilakukan oleh Kementerian kami dengan adanya permintaan efisiensi dari Dirjen Anggaran sebesar Rp 14,3 triliun," ujar Satryo dikutip dari JawaPos.com.

Buntut dari efisiensi anggaran, Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) yang awalnya dialokasikan Rp 6,018 triliun mengalami pemangkasan hingga 50 persen.

Satryo memperingatkan bahwa pemotongan BOPTN ini dapat berdampak pada kenaikan uang kuliah di perguruan tinggi negeri.

Efisiensi juga menyasar program revitalisasi perguruan tinggi negeri, dengan pemotongan 5 persen dari pagu awal Rp 856,2 miliar.

Satryo mengajukan permohonan agar anggaran ini dapat dikembalikan ke jumlah semula untuk menghindari dampak negatif pada pembangunan dan peningkatan kualitas perguruan tinggi.

Selain itu, Kemendikti Saintek memastikan bahwa gaji dan tunjangan pegawai yang berjumlah Rp 13,512 triliun tidak terkena pemangkasan.

Namun, beberapa program lain mengalami penyesuaian anggaran, termasuk tunjangan dosen non-ASN yang semula Rp 2,7 triliun dipangkas sebesar Rp 676 miliar.

Bantuan sosial berupa beasiswa, termasuk Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, juga mengalami pemotongan anggaran.

Awalnya dialokasikan sebesar Rp 14,698 triliun, tetapi mengalami efisiensi sebesar 9 persen atau Rp 1,319 triliun.

"Kami usulkan kembali supaya tetap pada pagu semula, yaitu Rp 14,698 triliun, karena ini termasuk kategori yang tidak kena efisiensi," kata Satryo.

Selain itu, Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) yang semula memiliki pagu Rp 164,7 miliar terkena pemotongan 10 persen atau Rp 19,47 miliar.

Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADiK) juga mengalami efisiensi sebesar 10 persen dari pagu awal Rp 213,73 miliar.

Beasiswa Kerja Sama Negara Berkembang (KNB) dipangkas 25 persen dari pagu awal Rp 85,348 miliar, sementara beasiswa dosen dan teknik dalam dan luar negeri juga terkena pemotongan 25 persen dari pagu awal Rp 236,8 miliar.

Satryo menegaskan bahwa kementeriannya tengah berupaya mengembalikan anggaran ini ke pagu semula.

Program Sekolah Unggulan Garuda, yang semula memiliki pagu Rp 2 triliun, juga mengalami pemangkasan sebesar 60 persen.

Satryo mengusulkan agar program ini tetap mendapatkan anggaran penuh karena termasuk dalam program QuickWin yang diharapkan bisa memberikan dampak cepat bagi peningkatan kualitas pendidikan. (dam)

Editor : Damianus Bram
#Satryo Soemantri Brodjonegoro #Kemendikti Saintek #Mendikti Saintek #efisiensi anggaran #biaya kuliah #ptn