Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sejarah Batik Danar Hadi Solo: dari Kain Mori Hadiah Pernikahan, Kini Jadi Raksasa Industri Batik Nasional

Syahaamah Fikria • Sabtu, 22 Februari 2025 | 20:19 WIB
Batik Danar Hadi didirikan Santosa Doellah dan istrinya, Danarsih Hadipriyono.
Batik Danar Hadi didirikan Santosa Doellah dan istrinya, Danarsih Hadipriyono.

RADARSOLO.COM - Belum lama ini, kabar duka datang dari keluarga besar Batik Danar Hadi. Salah satu pewaris batik legendaris asal Solo itu, H Dian Kusuma Hadi Santosa meninggal dunia.

Dian Kusuma meninggal dunia Rabu (19/2/2025) pukul 17.30 di Rumah Sakit Kasih Ibu Solo.

"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Segenap keluarga besar PT Batik Danar Hadi mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Dian Kusuma Hadi Santosa bin Santosa Doellah Hadikusumo," demikian pengumuman yang disampaikan lewat Instagram resmi Batik Danar Hadi.

Jenazah Dian Kusuma Hadi telah dimakamkan di di TPU Pracimaloyo, Makamhaji, Sukoharjo.

Almarhum merupakan sosok pewaris penting Batik Danar Hadi, yang merupakan salah satu brand batik legenda dan kebanggaan Kota Solo.

Sejarah Singkat Batik Danar Hadi

Dilansir dari laman resminya, Danar Hadi bermula dari sebuah industri rumahan.

Didirikan oleh Santosa Doellah dan istrinya, Danarsih Hadipriyono, yang merupakan keturunan para pelaku usaha batik di Laweyan, Solo, Jawa Tengah.

Kakek Santosa Doellah, RH Wongsidinomo adalah pendiri dan pemilik WS Batik di Laweyan, Solo.

Sementara ayah Santosa Doellah adalah seorang dokter yang dibesarkan oleh kakek-neneknya.

Adapun Danarsih Hadipriyono merupakan putri dari perajin dan produsen batik, H Hadipriyono.

Danarsih dinikahi Santosa Doellah pada tahun 1967, yakni setelah Santosa lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana ekonomi.

Keduanya kemudian mendirikan usaha batik dengan Danarsih Hadipriyono.

Didorong oleh semangat kewirausahaan dan kecintaan pada seni batik, mereka mengubah rumah menjadi kantor dan sanggar batik dengan memanfaatkan mori.

Mori itu diperoleh sebagai hadiah pernikahan mereka.

Dengan tekun, keduanya mengelola usaha rumahan tersebut, sembari membesarkan empat anak.

Seiring waktu, usaha tersebut berkembang pesat dan membuka toko alias gerai di luar Solo.

Pada tahun 1975, mereka membuka toko di Jakarta.

Kemudian diikuti toko-toko lain di berbagai daerah di Indonesia. Seperti Bandung, Medan, Surabaya, Yogyakarta, hingga Semarang.

Kini, Danar Hadi telah menjelma menjadi salah satu raksasa industri batik nasional, yang kerap berkolaborasi dengan desainer ternama.

Selain itu, Danar Hadi menawarkan layanan lengkap mulai dari produksi, pesanan khusus, hingga ekspor dan pariwisata budaya batik.

Ekspor

Bisnis ekspor Danar Hadi terus bertumbuh pesat, dengan tujuan utama pasar Eropa.

"Namun selain Eropa, kami juga melayani negara-negara lain di Asia dan Amerika Utara sebagai pasar yang marak dan berkembang," tulis Danar Hadi.

 

Kontribusi Budaya dan Lini Bisnis

Selama lebih dari lima dekade, Danar Hadi telah memainkan peran penting dalam melestarikan dan mengembangkan budaya batik.

Selain sebagai produsen batik berkualitas tinggi, perusahaan ini juga mengelola pusat pelestarian budaya dan museum yang menjadi destinasi wisata budaya di Solo.

Bahkan lini usaha Danar Hadi Group telah berkembang, meliputi bidang perhotelan, restoran dan furniture. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#Batik Danar Hadi #dian kusuma hadi santosa #laweyan #sejarah #batik