RADARSOLO.COM-Menyusul viralnya video dokter obgyn (kandungan) di Garut yang melakukan pelecehan terhadap pasien saat ultrasonografi (USG), muncul beragam pertanyaan dari warganet.
Di antaranya tidak adanya bidan pendamping saat dokter kandungan berinisial MSF melakukan USG terhadap pasien.
Termasuk pemasangan CCTV di ruang USG. Sebab dengan adanya kamera tersebut, bagian sensitif pasien bisa terekam kamera.
Pertanyaan tersebut dijawab secara gamblang oleh akun Vhizhenmaula di Instagram.
"Guys buat yang nanya "kok ga ada asisten bidan atau perawat?" ada kok guys tapi beliau (MSF) ada beribu alasan dan cara buat bikin asistennya tidak ditempat saat dirasa ada "target" kalau pasien biasa asistennya selalu mendampingi.
"Dan buat yang nanya kenapa ada CCTV di dalem ruangan sebelumnya ada kecurigaan dari pihak klinik yang bersamngkutan melakukan hal tercela, pimpinan atau penanggung jawab klinik memasang CCTV untuk mendapatkan bukti. cmiiw buat yang tau" sambungnya.
"Kebongkar juga dok, setelah banyak yang speak up tapi ga viral. Makanya ga pernah recomendasiin ke pasien,"
Diketahui, dalam video berdurasi 53 menit tersebut si dokter kandungan melakukan Ultrasonografi (USG) kepada seorang wanita.
Nah sembari menggerakkan alat USG dengan tangan kanannya, si dokter berkemeja batik lengan panjang terlihat meraba bagian sensitif pasien menggunakan tangan kirinya.
Disebutkan oknum dokter obgyn tersebut berinisial MSF dan praktik di salah satu klinik swasta di Garut.
Kepala Dinkes Garut Leli Yuliani mengamini terjadinya kasus tersebut.
Perbuatan asusila tersebut diperkirakan terjadi pada 2024. "Kejadiannya bukan di RS milik pemerintah," ungkap Leli kepada wartawan.
Menurut Leli, kejadian tersebut diduga kuat terjadi di sebuah klinik swasta.
MSF pernah bekerja sama dengan Pemkab Garut dan berdinas di RS Malangbong. "Yang bersangkutan bukan orang sini (Garut)," ujar Leli.
Rencananya, Selasa siang ini, pihak Dinkes Garut akan memberikan keterangan resminya.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh mengutuk perbuatan MSF karena sama sekali tidak mencerminkan etika seorang dokter, tapi justru seperti penjahat.
"Saya minta aparat kepolisian mengusut serius kasus ini," tegasnya.
"Mereka itu kan disumpah, ada kode etik kedokteran. Tidak mudah menjadi dokter, tapi kalau tindakannya justru asusila ya tentu saja itu bukan cerminan dokter, malah mengkhianati sumpahnya sendiri," beber politisi yang akrab disapa Ninik. (wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono