Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Bali Blackout: Warganet Sebut-sebut Peristiwa di 2019 dan 2024, Ada Apa di Tahun Itu?

Tri wahyu Cahyono • Sabtu, 3 Mei 2025 | 02:18 WIB
Ilustrasi blackout
Ilustrasi blackout

RADARSOLO.COM – Bali yang tak pernah tidur dan selalu gemerlap, mengalami kondisi sangat berbeda, Jumat (2/5/2025) petang.

Seluruh aliran listrik padam. Gelap gulita menyelimuti seluruh sudut Pulau Dewata.

“Bakalan lama ni, dulu di Sumatera ada gangguan global kayak gini 3 hari 3 malam baru selesai, tapi gk tau juga ya, ini kan Bali gk kayak Sumatera yang buka nasabah prioritas," cuit akun @czxtrem.

Kekhawatiran juga dirasakan akun @ditiput. “Mudah2an kelistrikan di RS & airport aman, punya genset yg memadai. Nggak kebayang kalo kejadian 2019 keulang lagi pas mati listril se-Jawa Bali berjam2. Chaos banget!,” cuitnya.

Sebenarnya apa yang terjadi pada 2019?

Kala itu juga terjadi pemadaman listrik secara bersamaan di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Informasi dari berbagai sumber, penyebab blackout pada 2019 yakni gangguan transmisi SUTET 500 kV Ungaran dan Pemalang.

SUTET Ungaran-Pemalang mengaliri listrik dari pembangkit dari timur Jawa.

Selain dari timur Jawa, pasokan listrik di Jawa bagian Barat berasal dari pembangkit Suralaya, Cilegon, dan Muara Karang.

Gangguan transmisi terjadi karena kelebihan beban listrik khususnya di Jakarta, Bekasi, dan Banten.

Peristiwa serupa terjadi pada Juni 2024.

Terjadi di Pulau Sumatera. Listrik padam sejak Selasa (4/6/2024) hingga Rabu (5/6/2024) belum diketahui pasti penyebab utamanya.

Baca Juga: Bali Blackout: Kuta-Legian yang Selalu Terang Benderang, Berubah Gelap Gulita

Pemadaman itu dimulai karena adanya gangguan pada jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kV Linggau-Lahat yang terjadi pada Selasa (4/6/2024).

Sistem transmisi tersebut merupakan jaringan interkoneksi yang terhubung dengan sejumlah wilayah di Sumatra sehingga Sumatra Barat juga turut dirasakan dampaknya.

Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, mengatakan dari hasil penelusuran pada jalur transmisi Sumatra bagian selatan yang mengalami gangguan sepanjang 621 kilometer sirkuit (kms) dengan 898 tower, ditemukan indikasi gangguan.

Ini disebabkan oleh kerusakan penangkal petir (lightning arrester) di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) Bangko di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.

Kondisi itu kemudian mengakibatkan terputusnya aliran listrik pada jalur transmisi 275 kiloVolt (kV) dari GITET Muara Bungo Jambi hingga GITET Gumawang Lampung. Di mana jalur transmisi tersebut menjadi backbone kelistrikan Sumatra bagian selatan.

Kerugian dampak blackout di Sumatera tidak sedikit. Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Sumatera Selatan menyebut mencapai Rp2 triliun.

Kondisi tersebut mengingat sektor usaha besar maupun kecil sangat bergantung dengan pasokan listrik. (wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#blackout #mati lampu #listrik padam #bali