RADARSOLO.COM – Nama Razman Arief Nasution kembali menjadi sorotan publik usai membela Hercules Rozario de Marshall di tengah memanasnya polemik dengan para purnawirawan TNI, termasuk Gatot Nurmantyo.
Sebagai Juru Bicara dan Kepala Bidang Komunikasi Publik/Humas DPP GRIB Jaya, Razman tampil membela Hercules yang sebelumnya menghina eks Kepala BIN Sutiyoso dengan menyebutnya "bau tanah".
Pernyataan Hercules itu menuai kemarahan sejumlah tokoh TNI, termasuk mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, yang menyebut sikap Hercules sebagai tindakan tidak tahu diri.
Meski sempat menyampaikan permintaan maaf kepada Sutiyoso dan keluarganya, Hercules tetap menegaskan bahwa dirinya tak takut dengan Gatot.
Dalam situasi inilah, Razman ikut angkat bicara.
Siapa Razman Nasution?
Razman lahir di Singkuang, Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada 8 September 1970.
Ia menempuh pendidikan di daerah asalnya sebelum meraih gelar Sarjana dari Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Sumatera Utara.
Pendidikan lanjutannya ditempuh di Universitas Sains Malaysia, tempat ia meraih gelar Magister dan Doktor.
Sejak mahasiswa, Razman aktif di berbagai organisasi, termasuk menjabat Ketua Senat Mahasiswa dan tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Dari Jurnalis ke Politikus
Sebelum terjun ke dunia hukum, Razman sempat berkarier sebagai wartawan.
Ia tercatat bekerja di Harian Medan Pos dan Majalah Detektif sejak 1992.
Selama 6 tahun jadi wartawan, Razman memulai karier politik dengan bergabung ke Partai Golkar dan terpilih sebagai anggota DPRD Mandailing Natal periode 1999–2004.
Ia kemudian kembali lolos ke parlemen daerah untuk periode 2004–2009 melalui Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB).
Terjun ke Dunia Advokat
Usai meninggalkan dunia politik, Razman mendirikan RAN Law Firm dan dikenal sebagai pengacara sejumlah kasus kontroversial di Indonesia.
Namun karier hukumnya tak lepas dari kontroversi.
Ia pernah dipecat secara tidak hormat dari Kongres Advokat Indonesia (KAI).
Meski begitu, Razman membantah pemecatan tersebut dan mengklaim dirinya mundur serta bergabung dengan KAI versi yang menurutnya lebih sah. (wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono