RADARSOLO.COM- Keluarga besar Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fadlu wal Fadilah Kendal berduka.
Pengasuh ponpes setempat, KH Alamudin Dimyati Rois atau dikenal sebagai Gus Alam meninggal dunia.
Anggota Komisi IX DPR RI ini sebelumnya mengalami kecelakaan di Tol Pemalang, Jawa Tengah, Jumat (2/5/2025) lalu.
Dalam kecelakaan itu KH Alamudin Dimyati Rois yang akrab disapa Gus Alam mengalami luka berat.
Diketahui, Gus Alam yang lahir di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, pada 26 Desember 1980 ini merupakan putra dari ulama kharismatik, almarhum KH. Dimyati Rois, pengasuh Pondok Pesantren Al-Fadllu wal Fadilah Kendal.
Dikutip dari jateng.nu.or.id, KH Dimyati Rois, yang lebih dikenal dengan panggilan Abah Dim, lahir pada 5 Juni 1945 di Tegal Glagah, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes.
KH Dimyati Rois adalah putra kelima dari 10 bersaudara yang merupakan anak dari pasangan KH Rois dan Nyai Djusminah.
Abah Dim berasal dari keluarga petani dan santri, baik dari pihak ayah maupun ibu.
Sejak kecil, beliau dididik untuk taat beribadah dan selalu berusaha menuntut ilmu.
Sebagai anak yang pendiam, rajin, disiplin, dan ulet, Abah Dim memulai pendidikan formal di SR (Sekolah Rakyat) dan melanjutkan belajar di Pesantren APIK Kauman, Kaliwungu, Kendal pada 1956, di bawah asuhan KH Ahmad Ru'yat.
Beliau belajar di sana selama 14-15 tahun sebelum melanjutkan pendidikannya di Pesantren Lirboyo, Kediri, dan Pesantren Sarang, Rembang.
Setelah menuntut ilmu di berbagai pesantren, Abah Dim kembali ke Pesantren APIK dan diangkat menjadi lurah pondok oleh KH Humaidullah Irfan.
Ilmu yang beliau pelajari meliputi nahwu, sorof, ushul fiqh, dan kitab-kitab Imam Al-Ghazali, serta berbagai disiplin ilmu Islam lainnya.
KH Dimyati Rois memiliki peran penting dalam Nahdlatul Ulama (NU).
Beliau terpilih menjadi bagian dari Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar NU di Jombang, yang terdiri dari sembilan ulama khos se-Indonesia.
Abah Dim juga menjabat di berbagai tingkat kepengurusan NU, dari PCNU Kendal hingga PBNU.
Selain menjadi ulama yang berwawasan luas, beliau juga dikenal sebagai mubaligh ulung yang mampu menyampaikan dakwah dengan bahasa yang sederhana dan dapat dipahami oleh berbagai kalangan.
Abah Dim turut berperan dalam dunia politik Indonesia, menjadi pengurus DPW PPP Jawa Tengah, DPP PKB, dan DPP PKD.
Abah Dim pernah menjadi anggota MPR RI pada masa Orde Baru melalui jalur Utusan Golongan yang diajukan oleh PPP.
Setelah era reformasi, beliau juga mendeklarasikan lahirnya PKB bersama tokoh-tokoh NU lainnya.
Namun, dalam perjalanan politiknya, PKB mengalami perpecahan.
Abah Dim mendirikan Partai Kejayaan Demokrasi (PKD), meski akhirnya bubar setelah gagal dalam verifikasi KPU.
Beliau kembali aktif di PKB dan setelah beberapa waktu, Muhaimin Iskandar memintanya untuk menjadi Ketua Dewan Syura DPP PKB, menggantikan KH Aziz Manshur.
Abah Dim dikenal memiliki kepribadian yang sederhana dan rendah hati.
Meskipun beliau seorang ulama besar, Abah Dim tidak pernah membedakan golongan, selalu bergaul dengan masyarakat dari berbagai kalangan, baik pedagang, pejabat, hingga buruh dan anak-anak.
Beliau juga mengajarkan kepada para santri untuk tidak hanya mengaji tetapi juga mengembangkan keterampilan, terutama dalam kewirausahaan.
Abah Dim meninggalkan warisan yang besar, baik dalam dunia agama, sosial, maupun politik. Kecerdasan, kesederhanaan, dan dedikasinya dalam mendidik dan memberdayakan umat serta santri menjadikannya panutan bagi banyak orang. (wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono