Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Potensi Bencana di Jateng Masih Mengintai, Gubernur Ahmad Luthfi Beberkan Cara Hadapi Cuaca Ekstrem Hingga Rob

Syahaamah Fikria • Jumat, 27 Juni 2025 | 03:58 WIB

 

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat Jambore Nasional ke-3 Relawan Muhammadiyah Aisyiyah di Tawangmangu, Karanganyar, Kamis (26/6/2025).
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat Jambore Nasional ke-3 Relawan Muhammadiyah Aisyiyah di Tawangmangu, Karanganyar, Kamis (26/6/2025).

RADARSOLO.COM – Jawa Tengah kembali jadi sorotan dalam peta bencana nasional.

Sepanjang tahun 2025, provinsi ini mencatat jumlah kejadian bencana yang signifikan, menempati posisi ketiga tertinggi di Indonesia.

Menanggapi kondisi ini, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menekankan pentingnya upaya pencegahan komprehensif, melibatkan strategi fisik maupun edukasi masyarakat.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto mengungkapkan, dari 1.713 kejadian bencana di Indonesia periode Januari hingga 23 Juni 2025, Jateng menyumbang 162 kejadian.

Angka ini menempatkan Jateng di bawah Jawa Barat (243 kejadian) dan Jawa Timur (199 kejadian).

Meski tingginya angka bencana, Suharyanto mengapresiasi kemandirian Pemprov Jateng.

"Untuk Jawa Tengah, saya masih ingat, dari 1 Januari sampai Juni ini banyak bencana di Kudus, Sayung Demak, tapi Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah belum teriak ke BNPB. Gubernur bisa mengatasi sendiri," kata Suharyanto saat Jambore Nasional ke-3 Relawan Muhammadiyah Aisyiyah di Tawangmangu, Karanganyar, Kamis (26/6/2025).

Dari total kejadian bencana di Indonesia, 92% merupakan bencana hidrometeorologi basah (banjir, longsor), 7% hidrometeorologi kering (kekeringan, karhutla), serta 1% geologi vulkanologi.

Suharyanto mengingatkan, jumlah bencana di Indonesia fluktuatif namun tidak pernah kurang dari 3.500 kejadian per tahun dalam empat tahun terakhir, atau rata-rata 20-25 bencana per hari.

Gubernur Ahmad Luthfi sendiri tidak menampik tingginya bencana di wilayahnya.

Data BPBD Provinsi Jateng menunjukkan, periode 1 Januari hingga 31 Mei 2025 mencatat 152 kejadian, termasuk 86 banjir, 17 tanah longsor, 42 cuaca ekstrem, 1 karhutla, dan 6 kebakaran.

Potensi bencana yang harus diwaspadai ke depan (Juni–Desember 2025).

Di antaranya bencana kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, banjir rob, gelombang tinggi, gempa bumi, dan tsunami.

"Jawa Tengah merupakan salah satu market bencana nasional. Mencari bencana apa saja di Jateng ada. Ada air yang tidak bisa kita lawan, ada rob yang tidak bisa kita lawan, banjir yang tidak bisa kita lawan," ujar Ahmad Luthfi.

Tingginya bencana di Jateng itu merujuk pada kondisi geologi Jawa Tengah yang terbagi menjadi 7 klasifikasi.

Di antaranya Perbukitan Rembang, Zona Randublatung, Pegunungan Kendeng, Pegunungan Selatan Jateng bagian Timur, Pegunungan Serayu Utara, Pegunungan Serayu Selatan, dan Pegunungan Progo Barat.

Sementara kondisi topografi meliputi daerah pegunungan dan dataran tinggi yang membujur sejajar dengan panjang pulau Jawa bagian tengah, dataran rendah yang hampir tersebar di seluruh wilayah, dan pantai yaitu pantai Utara dan Selatan.

Sedangkan kondisi klimatologi Jateng termasuk tropis dengan curah hujan yang beragam.

Menurut pengukuran Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) tahun 2024, Provinsi Jawa Tengah memiliki kelas risiko sedang dengan nilai 99,61.

Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2024, Jawa Tengah memiliki kelas risiko sedang (nilai 99,61).

Strategi Pencegahan dan Edukasi Tanggap Bencana

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menekankan bahwa antisipasi utama adalah pencegahan.

Contohnya, untuk mengatasi banjir, rob, dan pendangkalan muara, diperlukan normalisasi sungai dan pembangunan mageri segoro (penahan laut) dengan menanam mangrove sebanyak-banyaknya.

Langkah pencegahan lain adalah mengurangi penggunaan air tanah yang dapat menyebabkan turunnya muka tanah dan abrasi.

Dalam hal ini, edukasi masif kepada masyarakat sangat diperlukan untuk beralih ke sumber air alternatif seperti Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) atau desalinasi.

"Upaya pencegahan ini yang ke depan harus kita lakukan sehingga masyarakat kita sudah siap," jelasnya.

Selain itu, edukasi tanggap bencana kepada masyarakat juga diperlukan di semua tingkatan, mulai dari desa, kecamatan, kabupaten/kota, hingga provinsi.

Relawan tanggap bencana dinilai sebagai unsur utama dalam rangka quick response terhadap kejadian bencana. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#gubernur jateng #bencana #Ahmad Luthfi #jateng #normalisasi sungai #bencana nasional #bnpb