Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Tak Banyak yang Tahu, Ini Alasan Bisa Ular Weling Lebih Mematikan dari Kobra

Nur Pramudito • Senin, 21 Juli 2025 | 18:08 WIB

Tak Banyak yang Tahu, Ini Alasan Bisa Ular Weling Lebih Mematikan dari Kobra
Tak Banyak yang Tahu, Ini Alasan Bisa Ular Weling Lebih Mematikan dari Kobra

RADARSOLO.COM - Ular weling atau Bungarus candidus dikenal sebagai salah satu spesies ular paling berbisa di Asia Tenggara.

Meski sering disamakan dengan ular kobra karena sama-sama memiliki bisa mematikan, penelitian menunjukkan bahwa kekuatan racun ular weling justru jauh lebih berbahaya dibandingkan sang kerabat populer itu.

Bisa Neurotoksik: Serang Saraf dalam Hitungan Jam

Menurut Syahfitri Anita, peneliti venom dari Pusat Penelitian Biologi LIPI (kini BRIN), bisa ular weling bersifat neurotoksik, artinya bekerja langsung menyerang sistem saraf pusat.

Efek awalnya bisa muncul dalam beberapa jam setelah gigitan, dengan gejala seperti mual, muntah, kelopak mata terasa berat, hingga kesulitan bernapas.

Baca Juga: Parah! Kronologi Petugas Damkar Bekasi Kena Prank: Diminta Evakuasi Ular Besar, Ujungnya Malah Dimaki Debt Collector Pinjol

“Jika setelah digigit tidak segera ditangani secara medis, korban dapat meninggal dalam waktu 12–24 jam,” ujar Syahfitri kepada Antara, Februari 2020.

Studi toksikologi mencatat bahwa dosis mematikan (LD50) untuk mencit hanya 0,06–0,23 mikrogram per gram berat badan.

Untuk manusia dengan berat badan sekitar 75 kg, dosis mematikan diperkirakan hanya 1 mg.

Padahal, dalam sekali gigitan, ular weling bisa menyuntikkan hingga 5 mg bisa—cukup untuk membunuh beberapa orang sekaligus jika tak segera mendapatkan pertolongan medis.

Penanganan gigitan ular weling memerlukan antibisa yang benar-benar spesifik.

Baca Juga: Ular Sanca Kembang 3,8 Meter Kagetkan Pemancing hingga Pengunjung Angkringan di Klaten, Ini Penampakannya

Antibisa umum terkadang digunakan, namun efektivitasnya sangat terbatas.

Jenis toksin dalam bisa ular ini—terutama three-finger toxins (3FTxs) dan Kunitz-type inhibitors—mampu melumpuhkan sistem neuromuskular dengan sangat cepat.

“Antibisa harus spesifik untuk bisa ular weling. Tanpa itu, pengobatan hanya bisa meredakan sebagian gejala, bukan menetralkan racun,” jelas Syahfitri.

Dampak Sistemik: Tak Hanya Saraf, Tapi Juga Jantung dan Ginjal

Penelitian yang dipublikasikan pada Juli 2010 di jurnal Asian Biomedicine mengungkap bahwa bisa ular weling juga berdampak serius terhadap sistem peredaran darah dan fungsi ginjal.

Dalam waktu dua menit setelah penyuntikan bisa, tekanan darah korban langsung turun drastis dan bertahan selama lebih dari dua jam.

Penurunan ini mirip dengan efek obat penghambat kanal kalsium, namun dalam konteks gigitan ular, justru menjadi sangat berbahaya.

Penurunan aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus (GFR) mengindikasikan potensi terjadinya gagal ginjal akut.

Selain itu, ekskresi elektrolit seperti natrium, kalium, dan klorida menurun drastis, yang bisa memicu gangguan keseimbangan ion dan ritme jantung.

Beberapa kasus bahkan menunjukkan rhabdomyolysis, atau kerusakan jaringan otot, yang ditandai dengan lonjakan enzim CPK dan LDH—faktor pemicu aritmia jantung yang mematikan.

Baca Juga: Terdengar Suara Desis dari Bawah Meja, Gadis asal Masaran Sragen Ini Dikejutkan Adanya Ular Kobra Jawa

Tingkat Kematian Tinggi Jika Terlambat Diobati

Data dari Thailand menunjukkan bahwa sebelum tersedia antibisa spesifik, tingkat kematian akibat gigitan ular weling mencapai 33%.

Beberapa literatur internasional bahkan menyebutkan angka kematian bisa mencapai 60–70% jika tidak segera ditangani.

Gejala umum yang muncul antara lain:

Pertolongan Pertama: Tetap Tenang dan Segera Cari Bantuan Medis

Saat terjadi gigitan, langkah paling awal yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan menghindari banyak bergerak.

Gerakan tubuh yang tinggi akan mempercepat penyebaran racun ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

Jika memungkinkan, perhatikan dan ingat ciri-ciri fisik ular yang menggigit, seperti warna tubuh, pola belang, dan ukuran.

Informasi ini sangat penting untuk membantu dokter dalam identifikasi dan pemberian terapi yang tepat.

“Usahakan mengingat karakteristik ular dan segera cari pertolongan medis,” kata Syahfitri.

Gigitan ular weling adalah kondisi darurat medis. Riset terkini menegaskan bahwa penanganan medis tidak boleh hanya berfokus pada gejala neurologis, tetapi juga harus memantau fungsi jantung, ginjal, dan tekanan darah secara menyeluruh.

Dengan ancaman sebesar ini, sudah saatnya Indonesia mengembangkan antibisa spesifik untuk Bungarus candidus serta menyosialisasikan panduan pertolongan pertama kepada masyarakat luas.(np)

Editor : Nur Pramudito
#ular weling #gagal ginjal #bungarus candidus #bisa ular kobra #anti bisa ular #ular kobra #bisa ular