RADARSOLO.COM - Nama Memed Potensio atau Ahmad Abdul Aziz, 29, sontak viral di media sosial, terutama di tengah perdebatan sengit tentang fenomena sound horeg di Jawa Timur.
Ia bahkan kini dijuluki sebagai Thomas Alva Edisound Horeg, sebuah plesetan cerdas dari nama ilmuwan legendaris Thomas Alva Edison.
Julukan yang disingkat menjadi Edi Sound ini disematkan karena Memed dianggap sebagai penemu inovasi sistem audio revolusioner dalam kancah lokal.
Hingga kemudian, Edi Sound berhasil merancang sistem sound Horeg yang kini viral dan banyak digunakan di seluruh Indonesia.
Memed Potensio sendiri memulai kariernya sebagai operator sound system sejak remaja, tepatnya pada tahun 2007.
Kala itu, ia sering menemani sang ayah yang juga berprofesi sebagai teknisi sound system.
"Lama-kelamaan jadi suka sound system, karena nyaman kerja jadi tukang sound. Sampai akhirnya kenal dengan Mas Brewog," terang Memed.
Mas Brewog atau Muzahidin memulai bisnis sound system Brewog Audio sekitar tahun 2018 di Blitar, Jawa Timur.
Kini, Brewog Audio dikenal sebagai salah satu penyedia sound system terkemuka di wilayah tersebut, khususnya untuk acara berskala besar.
Edi Sound kemudian diajak bergabung dengan Brewog Audio sebagai operator, terlibat dalam berbagai acara, mulai dari hajatan, sholawatan, hingga karnaval besar.
Jejak Karier dan Sumber Kekayaan Maestro Sound Horeg?
Menyandang julukan sebagai penemu sound horeg, tak sedikit yang penasaran, berapa sebenarnya penghasilan Memed Potensio alias Edi Sound ini?
Edi Sound sendiri sudah memiliki usaha sound system yang dirintis dari garasi sederhana di Ngawi sejak tahun 2003.
Ini membuktikan bahwa julukan maestro sound horeg, memang pantas disandangnya.
Sulit untuk memberikan angka pasti mengenai penghasilan Memed, sebab ia bukan pekerja kantoran dengan gaji tetap.
Penghasilannya berasal dari beberapa sumber utama yang saling terkait dengan bisnis sound system dan popularitasnya yang kian meroket.
1. Jasa Sewa Sound System
Bisnis persewaan sound system, terutama yang mampu menghasilkan efek horeg berkualitas tinggi adalah sumber pendapatan utamanya yang sangat signifikan.
Beberapa sumber menyebutkan, untuk skala sound system besar seperti 16 subwoofer lengkap dengan lighting, biaya sewanya bisa mencapai Rp70 juta per malam.
Bahkan, untuk kelas yang lebih besar lagi, seperti kelas "Sultan" atau untuk Battle Sound System, biayanya bisa melonjak drastis hingga Rp500 juta hingga Rp1 miliar atau lebih per acara, tergantung merek komponen dan skala acara.
Meskipun tidak semua acara mencapai skala sebesar itu, frekuensi acara yang tinggi, terutama di musim hajatan atau karnaval, berpotensi menghasilkan omzet miliaran rupiah per tahun.
2. Jasa Rakit dan Konsultasi
Selain penyewaan, Edi Sound juga disebut menerima jasa rakit atau konsultasi bagi pengusaha sound system lain yang ingin mengadopsi racikan sound horeg ala dirinya.
3. Konten Kreator Media Sosial
Dengan popularitasnya saat ini, Edi Sound juga aktif sebagai konten kreator di berbagai media sosial seperti TikTok dan YouTube. Akun TikTok-nya, @memed_potensio atau SAMmemed, sudah memiliki lebih dari 180,2 ribu pengikut.
Penghasilan dari konten kreator papan atas di Indonesia bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta, bahkan miliaran rupiah per bulan, tergantung jumlah subscriber, views, dan kerja sama endorsement.
4. Penjualan Merchandise
Edi Sound juga menjual merchandise seperti kaus di e-commerce, yang cukup diminati oleh para penggemar setianya.
Meski tidak ada angka spesifik yang dirilis mengenai penghasilan pribadinya, dari kombinasi bisnis persewaan sound system skala besar, jasa konsultasi, popularitas sebagai inovator, dan aktivitas sebagai konten kreator, dapat dipastikan Memed Potensio memiliki penghasilan yang sangat besar.
Potensinya mencapai miliaran rupiah per tahun dari berbagai sumber tersebut.
Fenomena sound horeg sendiri telah menciptakan sebuah industri bernilai miliaran rupiah di Indonesia.
Sebagai perbandingan, harga sewa Brewog Audio, tempat Edi Sound juga berkarya, memiliki penawaran bervariasi.
Paket termurah untuk sekali tampil bisa antara Rp30 juta - Rp35 juta. Sementara untuk acara yang lebih besar, banyak klien yang bersedia membayar jauh lebih mahal.
Di beberapa daerah, seperti Malang, biaya sewa untuk 12 sap bisa mencapai Rp24 juta - Rp25 juta.
Namun demikian, kemunculan tren sound horeg ini pun menimbulkan masalah sosial di masyarakat.
Sebab, kebisingan yang dihasilkan dinilai berisiko mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan.
Bahkan, MUI Jatim resmi mengeluarkan fatwa haram sound horeg karena menimbulkan mudarat atau kebisingan melebihi ambang batas dan berpotensi tabdzir dan idha'atul mal atau menyia-nyiakan harta. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria