RADARSOLO.COM – Nama Susilo Wonowidjojo, bos besar PT Gudang Garam Tbk, mendadak menjadi perbincangan hangat di tengah isu pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan karyawan.
Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan para pekerja berseragam khas merah dan biru dongker dengan logo Gudang Garam, menangis, berpelukan, dan meninggalkan pabrik dengan wajah penuh kesedihan.
Dalam narasinya, disebutkan para buruh itu merupakan pekerja di PT Gudang Garam Tbk.
Isu PHK massal ribuan buruh rokok itu langsung memantik reaksi publik.
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyatakan masih melakukan penelusuran untuk memastikan kebenarannya.
"Jika benar memang terjadi PHK di PT Gudang Garam, hal ini membuktikan daya beli masyarakat masih rendah sehingga produk menurun," tulis keterangan resmi Partai Buruh dan KSPI, Sabtu (6/9/2025).
Namun, rumor tersebut sudah membuat perhatian publik tertuju pada kondisi bisnis Gudang Garam, sekaligus menyoroti figur di balik perusahaan raksasa itu, yakni Susilo Wonowidjojo.
Laba Turun, Industri Rokok Tersendat
Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja keuangan Gudang Garam memang tengah melorot.
Sepanjang 2024, perusahaan hanya mengantongi laba bersih Rp980,8 miliar, anjlok hingga 81,57 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,32 triliun.
Penurunan daya beli masyarakat dan ketatnya persaingan industri rokok dinilai menjadi faktor utama.
Situasi inilah yang membuat banyak pihak menyoroti strategi bisnis Susilo Wonowidjojo.
Apalagi, perusahaan yang berdiri sejak 1958 ini sebelumnya dikenal sebagai salah satu produsen rokok kretek terbesar dan paling stabil di Indonesia.
Profil Susilo Wonowidjojo
Lahir di Kediri pada 18 November 1956, Susilo Wonowidjojo adalah generasi kedua keluarga pendiri Gudang Garam.
Ia merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara pasangan Surya Wonowidjojo, sang perintis usaha, dan tumbuh di lingkungan keluarga yang membangun bisnis rokok dari nol.
Karier Susilo dimulai sejak usia muda. Pada era 1970-an, ia sudah aktif di operasional pabrik.
Di usia 20-an, ia dipercaya menjadi direktur dan terlibat dalam modernisasi produksi dengan penggunaan mesin pelinting kretek.
Setelah ayahnya wafat pada 1985, kepemimpinan perusahaan sempat dipegang kakaknya, Rahman Halim.
Namun sejak 2008, tongkat estafet beralih ke Susilo usai sang kakak meninggal dunia.
Di tangan Susilo, Gudang Garam melakukan perluasan area produksi pada tahun 2013.
Memiliki total luas area produksi sekira 208 hektare, pabrik Gudang Garam tersebar di sejumlah wilayah di Jawa Timur.
Susilo juga tercatat masuk dalam daftar orang kaya dengan harta kekayaan fantastis di Indonesia.
Berdasarkan data Forbes, kekayaan Susilo diperkirakan mencapai USD2.9 juta pada tahun 2024, dan masuk daftar 50 orang terkaya di Indonesia. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria