Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Profil Lengkap 10 Pahlawan Nasional yang Ditetapkan Presiden Prabowo, Ada Marsinah hingga Mbah Kholil Bangkalan

Tri wahyu Cahyono • Senin, 10 November 2025 | 19:23 WIB
Ilustrasi semangat peringati Hari Pahlawan 10 November 2025.
Ilustrasi semangat peringati Hari Pahlawan 10 November 2025.

RADARSOLO.COM- Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional, Presiden Prabowo Subianto menetapkan 10 pahlawan nasional baru.

Berikut profil masing-masing pahlawan nasional:

 

1. K. H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Photo
Photo

Gus Dur adalah Presiden RI keempat (1999-2001). Lahir di Jombang pada 7 September 1940 dari pasangan K. H. Abdul Wahid Hasyim (Menteri Agama RI di era Presiden Sukarno) dan Nyai Hj. Siti Sholehah, serta merupakan cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama, K. H. Hasyim Asy'ari.

Pada 1963, Gus Dur mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Universitas Al Azhar Mesir, yang kemudian berlanjut dengan beasiswa di Universitas Baghdad Irak.

Setelah kepulangan Gus Dur ke tanah air pada 1971, Gus Dur berperan aktif dalam mengembangkan pondok pesantren dan pendidikan Islam, serta berkiprah sebagai jurnalis yang kritis terhadap pemerintah Orde Baru.

Pada tahun 1984 Gus Dur terpilih sebagai Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), jabatan yang akhirnya beliau sandang selama 3 periode hingga 1999.

Langkah kritis beliau sejak muda terus dilanjutkan, hingga tercatat sebagai salah satu tokoh sentral penggerak Reformasi.

Pasca berakhirnya Orde Baru, Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai wadah perjuangan politik.

PKB berhasil menjadi peserta Pemilu 1999, pemilu pertama era Reformasi dan mengantar Gus Dur ke kursi kepresidenan.

Beberapa kebijakan monumental yang dilakukan beliau saat menjabat Presiden diantaranya pembubaran Departemen Sosial, perubahan nama Provinsi Irian Jaya menjadi Papua, pencabutan TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966.

Berikutnya pengakuan Konghucu sebagai salah satu agama resmi, menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur, hingga pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa.

Karena konsistensinya dalam menjaga kebhinnekaan, beliau populer dengan sebutan Bapak Pluralisme.

Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009 dan dimakamkan di Jombang, Jawa Timur.


2. Soeharto

Presiden ke-2 RI Soeharto.
Presiden ke-2 RI Soeharto.

Soeharto adalah Presiden RI kedua (1968-1998), dengan masa jabatan terlama sepanjang sejarah republik ini.

Soeharto populer dengan sebutan Bapak Pembangunan karena pada masa jabatannya, Indonesia dinilai mengalami industrialisasi yang signifikan, pertumbuhan ekonomi, peningkatan taraf pendidikan, dan kebangkitan kewirausahaan.

Soeharto lahir di Bantul pada 8 Juni 1921 dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah.

Soeharto merintis karier di militer sejak masa penjajahan Belanda dan turut berperan aktif dalam episode sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 serta Komando Mandala Pembebasan Irian Barat.

Termasuk salah satu dari tiga figur di Indonesia yang mendapat pangkat Jenderal Besar, pangkat tertinggi di TNI AD (bersama Sudirman dan A. H. Nasution).
Soeharto adalah pencetus ide fusi parpol pada tahun 1973, yakni penyederhanaan jumlah partai politik peserta Pemilu menjadi tiga: PDI, PPP dan Golkar.

Beberapa peninggalan monumental era Pak Harto diantaranya: ASEAN, Integrasi Timor Timur, TMII, Bandara Soekarno-Hatta, jalan tol Jagorawi, program Repelita, program Keluarga Berencana, dan sebagainya.

Soeharto wafat pada 27 Januari 2008 dan dimakamkan di Karanganyar, Jawa Tengah.

3. Marsinah

Photo
Photo

Marsinah adalah buruh PT Catur Putera Surya (CPS) di Porong, Jawa Timur, yang aktif mengadvokasi hak-hak buruh.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menetapkan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP), namun PT CPS menolak menaikkan gaji pokok buruh (tetap Rp1.700), hanya ingin menaikkan tunjangan.

Marsinah memprotes keras karena kenaikan tunjangan dinilai merugikan buruh, terutama jika sakit, cuti haid/hamil, atau tidak masuk kerja.

Marsinah mendorong pemogokan massal untuk menuntut kenaikan gaji.

Beberapa buruh dipanggil ke Kodim (di masa Orde Baru, militer sering jadi mediator) dan dipaksa mengundurkan diri dari PT CPS.

Pada 8 Mei 1993, setelah pemanggilan tersebut, Marsinah ditemukan tewas di gubuk dengan tanda-tanda kekerasan berat (banyak tulang patah dan organ dalam rusak).

Kematian Marsinah menjadi sorotan publik dan simbol perjuangan buruh perempuan melawan ketidakadilan.

Kasus ini diduga kuat sebagai pelanggaran HAM.

Meskipun sembilan orang sempat diseret ke pengadilan, Mahkamah Agung (MA) membatalkan seluruh vonis pada tahun 1999 karena kurang bukti.

Hingga hari ini, pelaku pembunuhan Marsinah yang sebenarnya belum pernah diadili, dan kasusnya tetap menjadi misteri.


4. Mochtar Kusumaatmadja

Photo
Photo

Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja layak disebut sebagai Bapak Hukum Indonesia. Kiprahnya di dunia hukum, terutama hukum internasional Indonesia, tidak perlu diragukan lagi.

Mantan diplomat yang sempat menjabat sebagai Rektor Unpad ini telah menghasilkan banyak konsep serta berbagai penerapannya dalam kajian hukum internasional.

Salah satu jejak Mochtar Kusumaatmadja yang bermanfaat bagi Indonesia dan masyarakat internasional bisa dilacak pada Konferensi PBB terkait Hukum Laut pada 1958 dan 1960.

Selain itu, konseptor Wawasan Nusantara ini juga telah mewujudkan legitimasi Indonesia di dunia internasional sebagai negara kepulauan.

5. Rahmah El-Yunusiyah

Photo
Photo

Rahmah lahir 20 Desember 1900 di Padang Panjang. Adalah tokoh wanita hebat dari Minangkabau yang memiliki tekad baja dalam memajukan kaum perempuan.

Prihatin dengan pandangan masyarakat yang merendahkan pendidikan perempuan, Rahmah bertekad mengangkat harkat dan martabat wanita melalui pendidikan.

Pada 1 November 1923, ia mendirikan Madrasah Diniyah Li al-Banat (kini Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang), sekolah khusus perempuan yang mengajarkan ilmu agama dan umum.

Rahmah berjuang keras menggalang dana untuk membangun gedung, menyempurnakan kurikulum, dan mendirikan sekolah dari tingkat TK hingga setingkat perguruan tinggi (Kulliyat al Mu’alimat al Islamiyah untuk mencetak guru muslimah profesional).

Rahmah menolak subsidi dan intervensi dari pemerintah kolonial Belanda, menegaskan sikap independen agar sekolah bebas menjalankan visi-misinya.

Di masa kemerdekaan, ia aktif dalam organisasi kemasyarakatan, menjadikan Diniyah School sebagai rumah sakit darurat di masa perang, dan menjadi orang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat pasca-proklamasi.

Pada tahun 1957, Rahmah menjadi wanita pertama yang menerima gelar Syaikhah dari Universitas Al-Azhar Mesir, sebagai penghormatan atas jasanya dalam pendidikan kaum perempuan, yang sistemnya kemudian diadopsi oleh Al-Azhar.

Rahmah El-Yunusiyah wafat pada 26 Februari 1969, meninggalkan warisan berupa lembaga pendidikan yang hingga kini tetap eksis dan menginspirasi muslimah Indonesia.

6. Sarwo Eddie

Photo
Photo

Letnan Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (25 Juli 1925 – 9 November 1989) adalah seorang tokoh militer penting di Indonesia dengan peran sentral dalam peristiwa G30S/PKI.

Memulai karir militer dari PETA pada masa pendudukan Jepang (1942).

Setelah Kemerdekaan, ia bergabung dengan BKR (cikal bakal TNI).

Diangkat menjadi Panglima RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, kini Kopassus) pada tahun 1964 atas penunjukan KSAD Ahmad Yani.

Ketika peristiwa G30S meletus, Sarwo Edhie dan pasukannya dari RPKAD diperintahkan oleh Markas Kostrad (di bawah komando Soeharto) untuk mengambil tindakan.

Ia memimpin RPKAD dalam operasi militer untuk merebut kembali fasilitas vital yang diduduki pasukan tak dikenal (seperti RRI, gedung telekomunikasi, dan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma) pada 1 Oktober 1965, yang berhasil dilakukan tanpa perlawanan berarti.

Setelah Soeharto diangkat sebagai Panglima Angkatan Darat, Sarwo Edhie ditugaskan untuk melenyapkan anggota PKI di Jawa Tengah.

Dalam karir selanjutnya, ia pernah menjabat sebagai Komandan di berbagai divisi.

Sebelum meninggal, di hadapan DPR, Sarwo Edhie Wibowo mengaku bahwa jumlah korban tewas dalam penumpasan anggota PKI pasca-G30S/PKI diperkirakan mencapai sekitar 3 juta orang.

7. Sultan Muhammad Salahuddin

Photo
Photo

Lahir 14 Juli 1889 di Bima. Adalah Sultan Bima XIV yang memerintah dari tahun 1915 hingga 1951 Masehi.

Ia dikenal sebagai sosok ulama, cendekiawan, dan pemimpin yang memajukan rakyat dan pro-Republik.

Mendapat pendidikan agama dan ilmu pemerintahan dari ulama lokal, ulama dari Batavia (H. Hasan), dan Syekh Abdul Wahab dari Makkah.

Dikenal cerdas, rajin membaca, menguasai ilmu tauhid dan politik, serta gemar menulis (karya terkenal: Nurul Mubin).

Diangkat menjadi "Jena Teke" (Putera Mahkota) pada 1899 dan menjadi Jeneli Donggo (setingkat camat) pada 1908 untuk menimba pengalaman.

Sultan Salahuddin fokus pada modernisasi dan kesejahteraan rakyat:

Merintis sistem pendidikan modern dengan mendirikan HIS (1921), Kopschool (Sekolah Kejuruan Wanita, 1922), dan sekolah agama/umum (Sakola Kita dan Sekolah Desa) di seluruh wilayah.

Mendukung penuh dan memberi bantuan pada pendirian madrasah seperti Madrasah Darul Tarbiyah (1931) dan mendirikan Madrasah Darul Ulum (1934), yang mencetak kader Islam nasionalis.

Memberikan beasiswa kepada pelajar berprestasi tanpa memandang status sosial atau jenis kelamin, untuk belajar di Jawa, Makassar, bahkan Timur Tengah.

Mendukung berbagai organisasi pergerakan (IQAM, NU, Masyumi, Parindra, PNI) dengan syarat visi akhirnya tetap merebut kemerdekaan.

Mendirikan dua Istana (termasuk Asi Bou) dan Masjid Raya Al Muwahiddin Bima (1947).

Sikap politik terpentingnya, ia menyatakan Kesultanan Bima sebagai daerah istimewa dan berdiri langsung di belakang NKRI.

Mengabaikan tekanan dari Pemerintah Jepang dan sekutu untuk mengubah sikapnya.

Berani menunjukkan kesetiaan kepada NKRI dengan mengadakan peringatan kemerdekaan pada 17 Desember 1945) dan dicintai oleh Dwi Tunggal Soekarno-Hatta.

Diberi gelar kehormatan oleh rakyat Bima: "Maka Kidi Agama" (Sultan yang menegakkan kebesaran agama Islam).


8. Syaikhona Muhammad Kholil

Photo
Photo

KH Muhammad Kholil bin Abdul Lathif atau Syaikhona Kholil Bangkalan (Lahir 27 Januari 1820 M, Bangkalan, Madura; Wafat 1925 M) adalah ulama besar dan guru dari para syekh/kiai terkemuka di Indonesia (Syaikhona berarti 'guru kami para syekh').

Berasal dari keluarga ulama dan memiliki pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati melalui kakek buyutnya, Sayyid Sulaiman.

Sejak kecil menunjukkan kecerdasan luar biasa, terutama dalam ilmu fikih dan nahwu.

Ia sudah hafal Nazham Alfiyah Ibnu Malik (seribu bait tata bahasa Arab) sejak usia muda.

Syaikhona Kholil belajar di berbagai pesantren terkemuka, antara lain:

Pondok Pesantren Langitan (Tuban)

Pondok Pesantren Cangaan (Bangil, Pasuruan)

Pondok Pesantren Keboncandi

Belajar kepada Kyai Nur Hasan di Sidogiri (Meski jauh, beliau rela berjalan kaki 7 km setiap hari sambil membaca Surat Yasin hingga khatam berkali-kali).

Selain menguasai banyak matan kitab, Mbah Kholil adalah seorang Hafidz Al-Qur'an yang mampu membaca Al-Qur'an dalam Qira'at Sab'ah (tujuh model bacaan).

Selama nyantri di Sidogiri, Mbah Kholil tetap tinggal di Keboncandi dan nyambi menjadi buruh batik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, meskipun berasal dari keluarga berada, demi menjadi sosok yang mandiri.

Peran utamanya adalah mendidik banyak santri yang kemudian hari menjadi ulama besar dan pendiri organisasi berpengaruh, salah satunya adalah KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

9. Rondahaim Saragih Garingging

Photo
Photo

Tuan Rondahaim Saragih Garingging (1828–wafat tidak disebutkan) adalah Raja ke-14 Kerajaan Raya Simalungun, Sumatera Utara.
Dikenal dengan gelar kehormatan "Namabajan".

Sejak muda dikenal visioner, memadukan pengetahuan adat, politik, dan strategi perang tradisional untuk melawan Belanda.

Dijuluki "Napoleon-nya Orang Batak" berkat kecerdikannya dalam taktik gerilya melawan pasukan Belanda dengan strategi matang dan peralatan sederhana.

Rondahaim menyadari ancaman politik pecah belah Belanda (devide et impera) di antara kerajaan-kerajaan Batak yang terpecah.

Ia memimpin perlawanan dengan menginisiasi pertemuan rahasia dan menjalin diplomasi dengan para raja di Simalungun dan sekitarnya (Siantar, Bandar, Sidamanik, dll.) untuk membangun front bersama melawan penjajah.

Memimpin serangan gerilya hit-and-run di hutan pegunungan Simalungun, memanfaatkan pengetahuan lokal untuk penyergapan mendadak dan memutus logistik musuh.

Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Raya menjadi satu-satunya kerajaan di Sumatera Utara yang tak dapat ditaklukkan Kolonial. Ia juga menanamkan semangat nasionalisme awal kepada masyarakat Batak.

 Baca Juga: Crashlab, Ruang Aman untuk Marah tanpa Dianggap Salah, Bebas Berteriak dan Pecahkan Barang

10. Sultan Zainal Abidin Syah

Photo
Photo

Lahir 1912 di Tidore dan wafat 4 Juli 1967 di, Ambon. Ia Sultan Tidore ke-26 (periode 1947–1967) yang memiliki peran krusial dalam sejarah integrasi Irian Barat (Papua) ke dalam NKRI.

Ayahnya, Dano Husain, adalah cicit Sultan Ahmad Saifuddin Alting (keluarga sering dinamai berdasarkan pejabat Belanda, seperti Gubernur Jenderal Willem Arnold Alting).

Kesultanan Tidore telah memiliki wilayah kekuasaan yang mencakup Papua dan pulau-pulau sekitarnya selama ratusan tahun.

Berdasarkan sejarah kekuasaan Tidore atas Papua, Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1956 mengumumkan pembentukan Provinsi Perjuangan Irian Barat dengan ibu kota sementara di Soa-Sio, Tidore.

Sultan Zainal Abidin Syah ditetapkan sebagai Gubernur sementara (23 September 1956) dan kemudian Gubernur tetap (4 Mei 1962) Provinsi Irian Barat.

Operasi Mandala (TRIKORA): Sebagai gubernur, ia diperbantukan pada Operasi Mandala di Makassar untuk perjuangan pembebasan Irian Barat. Ia menjabat hingga tahun 1961. (wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#penetapan #Mbah Kholil Bangkalan #marsinah #Presiden Prabowo #perjuangan #Berjuang #profil lengkap #Pahlawan Nasional 2025