RADARSOLO.COM - KGPH Hangabehi buka suara soal tudingan GKR Timoer Rumbay Rumbai Kusuma Dewayani yang menyebutnya telah berkhianat dalam proses penentuan penerus takhta Keraton Kasunanan Surakarta pasca wafatnya PB XIII.
Hangabehi menegaskan bahwa dirinya justru tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan keluarga terkait suksesi Keraton Solo, termasuk terkait wasiat sang ayah.
Menurut putra PB XIII itu, sejak awal ia hanya menunggu penjelasan resmi dari keluarga besar mengenai wasiat dan mekanisme suksesi.
Namun hingga jenazah sang ayah diberangkatkan ke Imogiri, ia menyebut tidak sekalipun diajak musyawarah.
"Jadi pernyataan Gusti Timoer yang menyebut berkhianat ke kakak-kakak dan adik, saya kira kurang pas karena sampai hari itu saya menunggu jawaban. Sampai sekarang pun saya tidak pernah diberi tahu mengenai wasiat Sinuhun PB XIII itu apa,” ujar Hangabehi.
Ia juga menyinggung kejadian yang membuatnya terkejut saat prosesi pelepasan jenazah PB XIII.
Menurutnya, ia mendapati sudah ada penetapan tertentu tanpa melalui rembukan sebelumnya.
Di mana saat itu, adik laki-lakinya beda ibu, KGPAA Hamangkunegara (Gusti Purbaya), mengikrarkan diri sebagai Pakubuwono XIV di hadapan peti jenazah sang ayah.
“Saat layon mau diberangkatkan, saya kaget karena tahu-tahu sudah ada kepyakan. Padahal katanya mau dibicarakan dulu dalam rembuk keluarga. Ketika saya tanya ke Gusti Timoer, jawabannya ‘setelah ini kita bicarakan dengan keluarga inti’. Keluarga inti yang seperti apa? Saya tidak pernah dilibatkan,” tegasnya.
Sebut Belum Ada Kesepakatan dengan Pemerintah
KGPH Hangabehi juga membantah narasi bahwa pemerintah telah menyetujui atau mendukung salah satu pihak dalam polemik suksesi.
Ia mengklaim bahwa pertemuan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, dan Wali Kota Solo Respati Ardi hanya sebatas koordinasi teknis.
“Pertemuan itu hanya menanyakan apa yang dibutuhkan keluarga besar, seperti pengamanan dan kelancaran prosesi adat dari pemakaman sampai kirab. Tidak ada kesepakatan apa pun soal suksesi,” ujarnya.
Hangabehi menekankan bahwa hingga saat ini dirinya masih menunggu ajakan untuk duduk bersama membahas wasiat PB XIII dan posisi keluarga dalam proses penentuan PB XIV.
“Saya masih menunggu untuk diajak rembukan keluarga,” katanya.
Meski berkata demikian, pada kenyataannya KGPH Hangabehi mengikuti pertemuan internal yang digelar Lembaga Dewan Adat (LDA) pimpinan GKR Koes Murtiyah Wandansari alais Gusti Moeng dan Maha Menteri KGPAA Tedjowulan pada Kamis (13/11/2025).
Di mana dalam pertemuan itu, LDA menobatkan KGPH Hangabehi sebagai penerus takhta Keraton Solo bergelar SISKS Pakubuwono XIV.
GKR Timoer Sebut Ada Pengkhianatan
Sebelumnya, GKR Timoer meluapkan kekecewaannya kepada sang adik.
Ia menilai tindakan Hangabehi dan kelompok pendukungnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kesepakatan keluarga besar.
“Saya sedih sekali. Gusti Mangkubumi (Hangabehi) bisa berkhianat kepada kami, kakak-kakaknya dan adik-adiknya sendiri,” ujarnya, Kamis (13/11/2025).
Gusti Timoer menyebut sudah ada kesepakatan internal keluarga mengenai siapa yang akan meneruskan takhta PB XIV.
Dalam pertemuan yang juga disaksikan Wali Kota Solo, Gubernur Jawa Tengah, dan Wakil Presiden, keluarga telah memutuskan bahwa Putra Mahkota KGPAA Hamangkunegara atau KGPH Purboyo menjadi pewaris sah takhta.
“Kami sudah bicara terbuka di hadapan gubernur, wali kota, dan Mas Gibran. Yang akan meneruskan adalah Putra Mahkota,” katanya.
Karena itu, ia menilai penetapanKGPH Hangabehi oleh kelompok LDA tidak sah, baik secara hukum adat maupun legitimasi internal.
Ia menyebut pertemuan tersebut tidak merepresentasikan suara keluarga besar.
“Dari 23 undangan hanya segelintir yang datang. Dua bahkan walkout. Silakan nilai sendiri apakah sah secara adat,” ujar GKR Timoer.
Penobatan PB XIV Tetap Digelar
Meski polemik meruncing, GKR Timoer memastikan rencana penobatan resmi KGPH Purboyo sebagai SISKS Pakubuwono XIV tetap dilanjutkan pada Sabtu (15/11/2025) di Keraton Surakarta.
“Kami tetap pada kesepakatan. Penobatan tetap berjalan sesuai adat,” tegasnya. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria