RADARSOLO.COM - Solo tak hanya dikenal sebagai kota budaya dan destinasi wisata, tetapi juga menjadi sorotan nasional sepanjang 2025.
Berbagai peristiwa besar, mulai dari kasus dugaan investasi bodong bernilai triliunan rupiah, gelombang aksi massa yang berujung kerusuhan, hingga konflik internal Keraton Surakarta, silih berganti mengisi ruang publik dan perhatian masyarakat.
Berikut rangkuman peristiwa-peristiwa paling menghebohkan di Kota Solo sepanjang tahun 2025, yang membentuk dinamika sosial, politik, dan budaya di Kota Bengawan.
1. Dugaan Investasi Bodong BLN Rugikan Puluhan Ribu Nasabah
Awal 2025 diwarnai kegemparan akibat mencuatnya dugaan investasi bodong yang melibatkan Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN).
Skandal ini menyeret nama bos koperasi, Nicholas Nyoto Prasetyo, dan ditaksir merugikan sekitar 40 ribu nasabah dengan nilai kerugian mencapai Rp3,1 triliun di Jawa Tengah, termasuk Solo, Boyolali, dan Salatiga.
Para korban tergiur janji imbal hasil tinggi.
Tidak sedikit yang menanamkan modal hingga ratusan juta rupiah, bahkan menggadaikan sertifikat tanah dan dana pensiun.
Awalnya, koperasi masih membayarkan keuntungan, namun pada Maret 2025, pencairan dana mendadak dihentikan dengan alasan sistem keuangan mengalami “overload”.
Ketiadaan kejelasan membuat nasabah berulang kali mendatangi kediaman Nicholas di Salatiga.
Namun, yang bersangkutan tidak lagi berada di tempat.
Laporan pun bermunculan di berbagai kepolisian, termasuk Polresta Solo, Polres Boyolali, dan Polres Salatiga.
Puncaknya, pada Oktober 2025, Polres Salatiga menggeledah dan menyegel rumah ketua BLN serta menyita sejumlah dokumen penting.
Karena luasnya dampak dan jumlah korban, penanganan kasus akhirnya dilimpahkan ke Polda Jawa Tengah.
2. Konvoi “Adili Jokowi” Warnai Jalanan Solo
Februari 2025, Solo menjadi pusat perhatian nasional setelah muncul aksi konvoi bertajuk “Adili Jokowi”.
Massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bergerak turun ke jalan pada Minggu (9/2/2025), berkeliling sejumlah ruas utama kota sambil meneriakkan tuntutan penangkapan dan pengadilan terhadap Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Konvoi melintas kawasan strategis, termasuk pertigaan Sate Dahlan, tak jauh dari rumah Jokowi di Sumber, Banjarsari.
Aparat kepolisian memperketat pengamanan dan mengalihkan arus konvoi menjauh dari kawasan kediaman presiden.
Aksi ini disebut sebagai puncak kemarahan publik setelah maraknya coretan “Adili Jokowi” di tembok-tembok Kota Solo, yang kemudian menyebar ke kota besar lain seperti Yogyakarta, Jakarta, Medan, dan Makassar.
Massa menyoroti sejumlah kebijakan kontroversial selama dua periode kepemimpinan Jokowi, termasuk proyek IKN Nusantara dan masuknya nama Jokowi dalam daftar finalis Tokoh Terkorup 2024 versi OCCRP.
3. Kerusuhan Demo Agustus 2025 Berujung Pembakaran Gedung DPRD
Situasi Kota Solo kembali memanas pada Agustus 2025, ketika aksi unjuk rasa berubah menjadi kerusuhan besar.
Demonstrasi awalnya digelar sebagai bentuk solidaritas atas tewasnya pengemudi ojek online di Jakarta serta penolakan terhadap kebijakan kenaikan tunjangan perumahan anggota DPR RI.
Kericuhan meluas di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, kawasan Manahan, Gladak, hingga depan Gedung DPRD Solo pada 29-30 Agustus 2025.
Massa melakukan aksi anarkis, termasuk membakar Gedung Sekretariat DPRD pada Sabtu (30/8/2025) dini hari setelah merusak pagar dan melempar petasan.
Kerusakan meluas ke berbagai fasilitas umum. Halte Batik Solo Trans (BST), water barrier, rambu lalu lintas, lampu jalan, kamera CCTV, taman kota, dan trotoar turut rusak.
Polresta Solo mengungkap adanya keterlibatan kelompok terorganisir bernama “Budal Ngetan”, yang mengoordinasikan aksi melalui grup WhatsApp.
Sebanyak 17 pemuda asal Boyolali diamankan, termasuk 5 orang di bawah umur, dengan barang bukti bensin, senjata tumpul, dan batu.
4. Konflik Internal Keraton Solo Menyusul Munculnya 2 Raja
Menjelang akhir 2025, perhatian publik tersedot pada konflik internal Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Usai wafatnya Pakubuwono XIII pada 2 November 2025, muncul dualisme kepemimpinan di Keraton Solo, dengan dua tokoh yang sama-sama mengklaim sebagai Pakubuwono XIV.
Kubu pertama mendukung KGPAA Hamangkunegoro (Gusti Purbaya), putra bungsu PB XIII, yang menyatakan diri sebagai penerus sah dan menjalani prosesi Jumenengan Dalem pada 15 November 2025.
Penobatan ini disebut telah disepakati keluarga dan pihak pemerintah.
Sementara itu, Lembaga Dewan Adat (LDA) menobatkan KGPH Hangabehi, putra tertua PB XIII, pada 13 November 2025 di Sasana Handrawina.
Penobatan tersebut disaksikan sejumlah tokoh keraton, termasuk Mahamenteri Keraton Kasunanan Surakarta KGPA Tedjowulan.
Dua penobatan dalam waktu berdekatan menciptakan dualisme kepemimpinan yang memicu perdebatan publik dan perhatian nasional terhadap masa depan Keraton Solo.
Kaleidoskop Solo 2025: Tahun Dinamika dan Gejolak
Sepanjang 2025, Solo menghadapi berbagai peristiwa besar yang membentuk wajah kota, dari sisi hukum, politik, hingga budaya.
Kaleidoskop ini menjadi catatan penting perjalanan Kota Bengawan, sekaligus refleksi tantangan yang dihadapi masyarakat Solo di tengah perubahan sosial yang cepat. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria