Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Gen Z Enggan Menikah, KUA Lakukan Cara Tak Biasa

Niko auglandy • Jumat, 23 Januari 2026 | 08:35 WIB
Photo
Photo

RADARSOLO.COM - Di tengah tren penurunan angka pernikahan nasional, Kantor Urusan Agama (KUA) mulai mengambil langkah komunikasi yang tak lazim. Setelah sempat memviralkan “tepuk sakinah” di akhir 2025, kini sejumlah KUA di berbagai daerah tampil mengikuti arus media sosial—khususnya TikTok—dengan konten bernuansa santai, humoris, bahkan penuh gimmick.

Mulai dari tren menyebut nama-nama yang belum menikah, konten edukasi berlatar foto artis Korea, hingga iming-iming bonus buah bagi pasangan yang mendaftar nikah di bulan Januari, dilakukan demi satu tujuan: mendekatkan pesan pernikahan kepada generasi Z.

Langkah ini lahir dari realitas yang tak bisa diabaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka pernikahan di Indonesia terus menurun sejak 2014. Dari sekira 2 juta peristiwa pernikahan per tahun, jumlahnya merosot hingga sekira 1,48 juta pada 2024. Ini menjadi salah satu yang terendah dalam satu dekade terakhir.

Bagi Gen Z, pernikahan kini bukan lagi simbol pencapaian hidup, melainkan keputusan besar yang kerap dibayangi kecemasan. Ketidakpastian ekonomi, beban finansial, hingga tingginya angka perceraian membuat institusi pernikahan terasa semakin kompleks.

Di titik itulah KUA hadir dengan pendekatan baru. Alih-alih sosialisasi formal bernada kaku, ajakan menikah dikemas ala TikTok. Sejumlah video menampilkan pegawai KUA berdiri di depan kantor sambil memegang buku nikah dan setandan buah, disertai tulisan promosi seperti “Nikah get rambutan”, “Promo Januari”, atau “Bonus lengkeng, don’t miss it”.

Konten semacam ini cepat menyebar. Beberapa unggahan menembus ratusan ribu tayangan dan dipenuhi ribuan komentar. Kolom komentar pun berubah menjadi ruang candaan sekaligus kritik khas Gen Z.

Komentar seperti “Yang heboh marketing KUA, yang rame pengadilan agama” hingga “Kalau bonusnya kestabilan kerja dan ekonomi, saya mau, Pak” ramai bermunculan.

Di balik kelucuan, terselip kegelisahan kolektif soal kesiapan hidup berumah tangga.

Fenomena ini sekaligus menandai perubahan cara lembaga negara berkomunikasi dengan masyarakat. KUA, sebagai garda terdepan urusan pernikahan di bawah Kementerian Agama, mulai menyesuaikan diri dengan budaya digital. Media sosial dipilih sebagai ruang dialog baru, sementara bonus buah atau makanan digunakan sebagai simbol pendekatan agar pesan terasa lebih dekat dan tidak menggurui.

Namun, pendekatan ini tak selalu berjalan mulus. Salah satu unggahan KUA Rejoso, Nganjuk, yang menggunakan foto artis Korea sebagai ilustrasi pernikahan justru memicu gelak tawa warganet karena figur tersebut diketahui telah bercerai. Konten lanjutan pun kembali menuai ironi serupa ketika diiringi lagu dari penyanyi yang juga berstatus cerai.

Alih-alih memperkuat pesan, hal ini justru membuka diskusi soal rapuhnya relasi pernikahan. Walaupun itu terjadi pada figur yang sebelumnya dianggap ideal.

Respons warganet menunjukkan satu hal penting: realitas hidup Gen Z tak sesederhana konten viral. Pernikahan tak lagi dipahami sebagai kewajiban sosial, melainkan keputusan hidup yang menuntut kesiapan mental, ekonomi, dan sistem pendukung yang memadai.

Candaan seperti “lebih takut ke pengadilan agama daripada ke KUA”; “KUA yang promosi, pengadilan yang rame”, atau “marketing pengadilan agama lebih menggiurkan, enggak perlu janji manis tapi banyak yang datang” mencerminkan kehati-hatian tersebut.

Jika diukur dari sisi atensi publik, terobosan KUA terbilang berhasil. Namun hingga kini, belum ada data yang menunjukkan bahwa viralnya konten tersebut berbanding lurus dengan peningkatan angka pernikahan.

Meski demikian, langkah ini menjadi titik awal yang penting. KUA berhasil membuka ruang diskusi yang lebih luas—bahwa pernikahan bukan sekadar target statistik, melainkan keputusan hidup yang layak dibicarakan secara jujur, kritis, dan relevan dengan realitas generasi muda hari ini. (mg1)

Penulis: Agna Niha Azzahra  

Editor : Niko auglandy
#kua #Gen Z #tren