Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Heboh Angin Kencang Sapu Sejumlah Wilayah, Apa yang Sebenarnya Terjadi? Ini Penjelasan BMKG

Syahaamah Fikria • Sabtu, 24 Januari 2026 | 18:27 WIB
Atap rumah warga yang rusak akibat angin kencang di wilayah Kecamatan Jatipurno, Wonogiri, Sabtu (24/1/2026).
Atap rumah warga yang rusak akibat angin kencang di wilayah Kecamatan Jatipurno, Wonogiri, Sabtu (24/1/2026).

RADARSOLO.COM - Sejumlah wilayah di Indonesia tengah dihebohkan oleh angin kencang dan hujan lebat.

Di wilayah Solo Raya misalnya. Angin kencang dilaporkan mengakibatkan sejumlah pohon tumbang hingga bangunan roboh di Sukoharjo dan Wonogiri.

Apa yang sebenarnya terjadi dan penyebabnya?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan, kondisi ini merupakan dampak kombinasi fenomena atmosfer skala global dan regional yang masih akan berlanjut hingga beberapa hari ke depan.

Hujan Lebat Disertai Angin Kencang di Banyak Wilayah

BMKG mencatat sejak Kamis (22/1/2026), sejumlah daerah mengalami hujan intensitas sedang hingga lebat, disertai angin kencang dan petir.

Beberapa wilayah yang terdampak, antara lain Nusa Tenggara Barat, Maluku, Sulawesi Selatan, Bali, Banten, Jawa Barat, dan Sulawesi Barat.

Fenomena ini disebabkan oleh adanya Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia dengan tekanan udara 1001 hPa dan kecepatan angin maksimum 28 km/jam.

Ditambah pengaruh angin monsun Asia serta gelombang atmosfer yang memicu pertumbuhan awan hujan masif.

Baca Juga: Disapu Angin Kencang, Pohon Tumbang di Wonogiri Timpa 5 Warga

Bibit Siklon Tropis 91S dan 92P Masih Mengintai

BMKG memantau Bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia selatan Sumbawa dengan potensi menjadi siklon tropis kategori tinggi dalam 48–72 jam ke depan.

Kecepatan angin di sekitarnya diperkirakan melebihi 25 knot, memengaruhi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga perairan utara Madura.

Sementara Bibit Siklon Tropis 92P di Teluk Carpentaria diprediksi berpotensi rendah, namun tetap meningkatkan kecepatan angin melebihi 25 knot di Laut Banda, Maluku Selatan, dan Papua Selatan.

Kedua sistem ini membentuk daerah pertemuan angin (konfluensi) dan perlambatan angin (konvergensi), meningkatkan risiko hujan lebat dan angin kencang.

Dampak Monsun Asia dan Dinamika Global

BMKG menjelaskan, penguatan Monsun Asia membawa massa udara lembap dari Laut Cina Selatan ke wilayah selatan Indonesia, diperkuat oleh cold surge dari Siberia.

Fenomena ini, ditambah aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby, dan Gelombang Kelvin, memperbesar potensi cuaca ekstrem di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua.

Selain itu, kondisi ENSO menunjukkan La Niña lemah dengan SOI positif, yang meningkatkan pasokan uap air dan mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah timur Indonesia.

BMKG menekankan bahwa potensi hujan deras, petir, dan angin kencang masih tinggi.

Untuk itu, masyarakat diimbau waspada terhadap risiko hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan gelombang tinggi.

"Selalu perhatikan peringatan dini dan lakukan mitigasi diri, keluarga, dan lingkungan. Keselamatan adalah prioritas utama," ujar BMKG dalam rilis resmi. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#angin kencang #siklon tropis #BMKG #pohon tumbang #hujan #cuaca ekstrem #angin Monsun Asia