Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Mbah Jentit dan Wayang Kardus: Menyuarakan Jeritan Sawah dari Balik Sampah    

Antonius Christian • Minggu, 1 Februari 2026 | 16:51 WIB
Rus Hardjanto alias Mbah Jentit menyuarakan isu lingkungan lewat wayang kardus. (A Chrtistian/Radar Solo)
Rus Hardjanto alias Mbah Jentit menyuarakan isu lingkungan lewat wayang kardus. (A Chrtistian/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Wayang itu bernama Wayang Keong. Dalangnya, Rus Hardjanto, yang akrab disapa Mbah Jentit Sonokolo, bukan sosok yang sejak awal menapaki jalan pewayangan. Justru sebaliknya, perjalanan kreatifnya berangkat dari kegelisahan yang sangat membumi yaitu persoalan sampah.

Pada 2016, Mbah Jentit belum memikirkan wayang sama sekali. Ia lebih sibuk mengolah sampah kertas. Kertas-kertas bekas digiling hingga menjadi bubur, lalu dibentuk menjadi topeng. Baginya, daur ulang bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan sikap hidup—cara manusia berdamai dengan sisa-sisa peradaban yang ia ciptakan sendiri.

“Awalnya itu saya tidak konsen ke wayang. Konsennya ke daur ulang sampah kertas. Saya giling jadi bubur kertas, lalu saya bentuk jadi topeng,” kenangnya.

Kesadaran artistik itu terus berproses, hingga akhirnya pada Oktober 2025, ia mulai melirik wayang sebagai medium tutur. Wayang dipilih bukan tanpa alasan. Wayang, bagi Mbah Jentit, adalah bahasa lama yang masih sangat relevan untuk menyampaikan kegelisahan zaman sekarang.

Alumni Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) ini berpikir tentang material. Pilihannya jatuh pada kardus bekas—mudah ditemukan, murah, lentur dibentuk, dan sarat simbol tentang konsumsi serta limbah manusia modern.

Eksperimen awal itu melahirkan pementasan di Boyolali dengan lakon Kebo Kenanga. Pementasan dilakukan dua hingga tiga kali. Dari panggung sederhana itulah Wayang Keong mulai menemukan jalannya. Saat pentas di wilayah Sawit, Boyolali, Mbah Jentit bertemu dengan trah pengrawit Condong Raos. Obrolan panjang, diskusi lintas perspektif, hingga akhirnya terbangun kerja sama. Mereka sepakat mengiringi pementasan Wayang Keong.

Namun perjalanan itu belum selesai. Konsep cerita masih terasa longgar. Meski telah mengusung fabel, pesan yang ingin disampaikan masih terlalu melebar. Dari proses diskusi dan perenungan bersama, lahirlah keputusan penting: membatasi tema, sekaligus memperdalam makna.

“Kami akhirnya sepakat mengangkat tema hewan yang ada di sawah. Karena secara ekologis, sawah itu sangat penting bagi masyarakat Indonesia,” ujar Mbah Jentit.

Sawah, baginya, bukan sekadar hamparan padi. Sawah adalah sistem kehidupan. Dari sanalah sumber pangan utama bangsa ini berasal. Ketika ekosistem sawah terganggu, maka dampaknya menjalar ke mana-mana. Sedikit saja perubahan dalam keseimbangan sawah, kehidupan di dalamnya ikut terguncang.

Dari kesadaran itu, Wayang Keong menghadirkan tokoh-tokoh yang akrab dengan petani, tetapi kerap luput dari empati manusia: ular, ikan, kerbau, burung hantu, tikus, katak, capung, hingga keong. Hewan-hewan ini diposisikan bukan sebagai hama, melainkan penjaga ekosistem.

“Keong itu sering dianggap remeh, padahal tugasnya membersihkan lumut di sawah. Tanpa dia, sawah juga bermasalah,” jelasnya.

Wayang Keong kemudian memosisikan diri sebagai penyambung lidah hewan sawah kepada manusia. Sebuah medium untuk mengingatkan bahwa di balik setiap rantai makanan, ada keseimbangan yang harus dijaga.

Dalam salah satu lakon, konflik digambarkan lewat perebutan tikus antara ular dan burung hantu. Ketegangan meningkat. Hewan-hewan lain muncul sebagai provokator, memperkeruh suasana. Di tengah konflik itulah, keong tampil sebagai penengah.

Keong meminta ular dan burung hantu melihat lebih dekat tikus yang akan dimakan. Ternyata tikus tersebut berjenis kelamin betina. “Kalau tikus betina itu dimakan, dia tidak bisa menghasilkan keturunan. Artinya, besok-besok tidak ada lagi yang bisa dimakan,” tuturnya.

Pesan yang disampaikan sederhana, tetapi menghunjam di mana manusia boleh mengambil dari alam, tetapi tidak boleh serakah. Keseimbangan harus dijaga, karena ketika batas itu dilampaui, alam akan berbicara dengan caranya sendiri.

Kritik ekologis Wayang Keong lahir dari pengamatan tajam terhadap kondisi sosial hari ini. Mbah Jentit tidak menutup mata terhadap realitas ekonomi. Petani dituntut cepat panen demi menghidupi keluarga. Pemerintah mengejar target swasembada pangan. Akibatnya, sawah dipacu secara berlebihan dengan produk kimia. Tikus diburu massal. Rantai makanan pun terganggu.

“Ular kehilangan pakannya, burung hantu juga kehilangan pakannya. Saya hanya jadi corongnya hewan-hewan ini,” katanya.

Ia menegaskan, Wayang Keong tidak membawa pesan politik. Tidak ada kepentingan ideologis. Yang ia sampaikan murni apa yang ia baca dari alam. “Kalau ekosistem tidak seimbang, alam memberi peringatan lewat bencana. Tanpa pidato, tanpa spanduk,” ujarnya.

Nama Wayang Keong sendiri memiliki makna spiritual. Ia menyebutnya sebagai Wahyuang Keong, wayang yang lahir dari wahyu, ilham, dan perenungan. Cerita-ceritanya berasal dari kegelisahan batin saat membaca realitas sosial, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa simbol. (atn/bun)

 

 

Editor : Kabun Triyatno
#sawah #ekosistem #manusia #kertas #lingkungan #topeng #membumi #wayang