RADARSOLO.COM – Nama Jeffrey Epstein kembali jadi sorotan global setelah rilis dokumen terbaru yang dikenal sebagai Epstein Files.
Dokumen ini mengungkap jaringan sosial dan aktivitas kriminal Epstein, sekaligus menyoroti hubungan dan perjalanan internasionalnya, termasuk beberapa lokasi di Indonesia.
Tapi siapa sebenarnya Jeffrey Epstein, dan mengapa kasusnya begitu kontroversial?
Jeffrey Edward Epstein lahir di New York City pada 20 Januari 1953.
Ia memulai karier profesionalnya sebagai guru di Dalton School pada tahun 1976 sebelum beralih ke dunia keuangan, bekerja di Bear Stearns.
Dia lalu mendirikan perusahaannya sendiri, J. Epstein & Co, yang mengelola aset miliaran dolar bagi para klien kaya.
Epstein dikenal sebagai sosok finansier ulung yang membangun lingkaran sosial elit, termasuk tokoh politik, pebisnis, hingga selebritas internasional.
Namun di balik kemewahan dan jaringan sosialnya, Epstein memiliki catatan kelam. Ia menjadi pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak perempuan, beberapa di antaranya berusia 14 tahun.
Kasus ini mulai terkuak pada 2005 di Palm Beach, Florida, ketika seorang orang tua melaporkan pelecehan yang dialami putrinya.
Investigasi menemukan 36 gadis yang diduga menjadi korban Epstein, sebagian masih di bawah umur.
Pada 2008, Epstein dihukum di Florida atas tuduhan pengadaan anak untuk prostitusi.
Hukuman yang dijatuhkan kontroversial karena hanya mencakup dua kejahatan, dan ia menjalani 13 bulan tahanan dengan pembebasan kerja yang luas.
Kasus ini memicu kritik karena dianggap terlalu ringan bagi pelaku kejahatan seksual berat.
Pada 6 Juli 2019, Epstein kembali ditangkap dengan tuduhan federal terkait perdagangan seks anak di Florida dan New York.
Namun, sebelum kasusnya tuntas, ia ditemukan meninggal di sel penjara pada 10 Agustus 2019.
Saat itu, pihak terkait secara resmi menyatakan kematiannya akibat bunuh diri.
Meski demikian, publik dan beberapa pengacara mempertanyakan kebenaran versi ini, memunculkan berbagai teori konspirasi.
Selain aktivitas kriminalnya, Epstein dikenal memiliki jaringan pertemanan luas.
Jaringan Pertemanan dengan Tokoh Dunia
Ia bersahabat dengan tokoh-tokoh seperti Bill Clinton, Donald Trump, Pangeran Andrew, Elon Musk, Bill Gates, dan Ghislaine Maxwell—sosialita Inggris yang kemudian dihukum karena membantu Epstein merekrut korban anak perempuan.
Dokumen dan foto yang terungkap menunjukkan kedekatannya dengan berbagai figur publik, yang menimbulkan kontroversi global.
Epstein Files, yang dirilis Departemen Kehakiman AS mulai 30 Januari 2026, memuat sekitar tiga juta halaman dokumen, 180.000 gambar, dan 2.000 video.
Dokumen ini menampilkan catatan perjalanan Epstein, email, korespondensi, dan bukti investigasi terkait jaringan pertemanan dan aktivitas kriminalnya.
Salah satu catatan menarik menyebut beberapa lokasi di Indonesia, termasuk Bali dan Jakarta, meski belum ada bukti keterlibatan pihak lokal dalam kasus kriminal Epstein.
Menurut The New York Times, kekayaan Epstein diperoleh sebagian besar melalui pengelolaan warisan dan pajak bagi miliarder.
Ia juga membeli properti mewah di New York, Florida, serta peternakan luas di New Mexico, yang kemudian disebut-sebut menjadi lokasi aktivitas ilegalnya.
Kematian Epstein mencegah kemungkinan pengajuan tuntutan pidana federal.
Semua dakwaan terhadapnya dibatalkan pada 29 Agustus 2019.
Meski begitu, kasusnya terus menjadi sorotan publik karena jejaring sosial dan dampak kriminal yang ditimbulkannya.
Termasuk keterlibatan Ghislaine Maxwell yang divonis pada 2021.
Epstein Files jadi sumber penting bagi publik untuk memahami skala jaringan dan modus operandi Jeffrey Epstein. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria