RADARSOLO.COM – Cuaca ekstrem yang memicu luapan air di wilayah Jawa Tengah berdampak pada jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api lintas utara menuju Jawa Timur. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya mengonfirmasi adanya keterlambatan sejumlah perjalanan akibat tergenangnya jalur kereta api di dua titik krusial, yakni antara Stasiun Gubug–Stasiun Tegowanu hingga Stasiun Brumbung.
Baca Juga: Rapor Merah Laka Lantas Solo: Serdik Sespimen Polri Desak Reformasi Lima Pilar Keselamatan Jalan
Kondisi prasarana yang terdampak luapan air memaksa KAI melakukan rekayasa pola operasi demi menjamin keselamatan penumpang. Setelah dilakukan penanganan darurat dan pemeriksaan menyeluruh oleh tim teknis, jalur pada petak tersebut kini dinyatakan dapat dilalui kembali, meski dengan pemberlakuan kecepatan terbatas.
Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya Mahendro Trang Bawono menjelaskan, pembatasan kecepatan merupakan langkah mitigasi wajib mengingat kondisi cuaca yang belum stabil. Petugas prasarana saat ini masih disiagakan di lapangan untuk memantau stabilitas jalur secara berkala.
"Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami para pelanggan. Jalur terdampak sudah bisa dilalui kembali dengan kecepatan terbatas sebagai langkah mitigasi risiko. Keselamatan dan keamanan perjalanan tetap menjadi prioritas utama kami," ujar Mahendro, Senin (16/2).
Sebelum jalur berhasil dinormalisasi, KAI sempat mengalihkan rute sejumlah kereta api melalui lintas alternatif Brumbung–Gundih–Gambringan. Rekayasa rute memutar ini berdampak pada keterlambatan waktu kedatangan empat kereta api unggulan yang menuju Surabaya dan Malang, yaitu KA Argo Anjasmoro, KA Gumarang, KA Jayabaya, dan KA Harina.
KAI Daop 8 Surabaya terus berkoordinasi dengan wilayah terdampak untuk memastikan operasional kembali berjalan normal sepenuhnya. Penumpang diimbau untuk memantau perkembangan status perjalanan melalui aplikasi Access by KAI atau kanal komunikasi resmi lainnya guna menyesuaikan rencana perjalanan di tengah potensi keterlambatan.
Editor : Kabun Triyatno