RADARSOLO.COM – Umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa di penghujung Ramadan 1447 H kini diuji dengan cuaca panas yang sangat menyengat.
Setelah sempat diguyur hujan pada awal puasa, suhu udara di sejumlah wilayah Indonesia belakangan ini melonjak drastis hingga mencapai angka 37 derajat Celsius.
Kondisi panas ekstrem ini memicu pertanyaan masyarakat, apa sebenarnya yang terjadi di atmosfer kita?
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 9-12 Maret 2026, suhu maksimum tertinggi tercatat di Provinsi Papua Selatan sebesar 37°C, sementara wilayah lain rata-rata berkisar di angka 32,9°C hingga 35°C.
Fenomena ini diprediksi masih akan bertahan selama periode pancaroba ini.
Penyebab Utama Indonesia Dilanda Panas Ekstrem
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan bahwa cuaca panas terik ini bukan tanpa alasan.
Setidaknya ada kombinasi faktor meteorologi dan astronomi yang menjadi penyebabnya:
1. Pergeseran Fenomena MJO dan Monsun Asia
Penyebab utama berkaitan dengan pergeseran fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) ke arah timur menjauhi wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.
Di saat yang bersamaan, Monsun Asia yang membawa massa udara basah cenderung melemah. Hal ini mengakibatkan berkurangnya potensi pertumbuhan awan hujan.
2. Gerak Semu Matahari
Memasuki periode Maret, posisi semu matahari berada tepat di dekat ekuator atau garis khatulistiwa.
Kondisi ini membuat intensitas radiasi matahari mencapai puncaknya (maksimum) di wilayah Indonesia.
Tanpa adanya penghalang, sinar matahari langsung mengenai permukaan bumi secara intens.
3. Minimnya Tutupan Awan
Cuaca cerah yang mendominasi menyebabkan tutupan awan sangat minim.
Tanpa awan yang menghalangi radiasi, suhu permukaan meningkat drastis terutama pada siang hari.
Hal ini diperparah dengan kondisi atmosfer yang relatif kering seiring datangnya masa pancaroba.
Asia Tenggara Terancam Gelombang Panas
Laporan dari Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) turut memberikan peringatan serius. Ada kemungkinan 80-100 persen suhu di atas normal melanda seluruh Indonesia dan Malaysia pada periode Maret-Mei 2026.
Fenomena panas yang tidak biasa ini diperkirakan akan meluas ke sebagian besar daratan Asia Tenggara dalam dua bulan ke depan.
Kondisi ini bahkan mengancam operasional pembangkit listrik yang bergantung pada bahan bakar fosil akibat lonjakan penggunaan energi untuk pendingin ruangan.
Waspada Dampak Kesehatan saat Puasa
Suhu panas yang menyengat di tengah ibadah puasa meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius.
Masyarakat perlu mewaspadai tiga kondisi utama:
- Dehidrasi: Kehilangan cairan berlebih yang ditandai dengan mulut kering dan lemas.
- Heat Exhaustion: Kelelahan akibat panas yang menyebabkan pusing dan mual.
- Heatstroke: Kondisi darurat medis saat suhu tubuh naik di atas 40°C. Ini adalah kondisi fatal yang memerlukan penanganan segera.
Editor : Syahaamah Fikria