RADARSOLO.COM – Kabar duka kembali menyelimuti Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Dua prajurit terbaik yang tergabung dalam misi perdamaian PBB atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan, dinyatakan gugur saat jalankan tugas di Lebanon Selatan, Senin (30/3/2026).
Insiden tragis ini terjadi di wilayah Bani Haiyyan di tengah eskalasi konflik yang kian memanas antara Israel dan Hizbullah.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) telah melayangkan kutukan keras atas serangan beruntun yang menargetkan pasukan penjaga perdamaian (peacekeepers) tersebut.
Baca Juga: Sidang CLS Ijazah Jokowi Masuk Babak Akhir, Penggugat Klaim Bukti Tergugat Lemah
“Pemerintah Republik Indonesia mengutuk sangat keras serangan kedua yang terjadi secara beruntun di dekat Bani Haiyyan, Lebanon selatan, pada 30 Maret 2026, yang menimpa peacekeepers Indonesia yang bertugas di bawah (UNIFIL, yang mengakibatkan gugurnya kembali dua personel dan melukai dua lainnya,” demikian pernyataan Kemlu RI.
Profil Kapten Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan
Kedua prajurit yang gugur dikenal sebagai sosok profesional dengan rekam jejak pengabdian yang gemilang di kesatuan masing-masing.
1. Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar
Kapten Zulmi merupakan perwira lulusan Akademi Militer (Akmil) Magelang 2015 dari kecabangan Angkatan Darat (AD).
Sebelum bertugas di Lebanon, ia mengabdi di satuan elite Grup 2 Kopassus.
Dalam misi UNIFIL, ia dipercaya menjabat sebagai Komandan Kompi (Danki) Task Force B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL.
Perwira dengan latar belakang Manajemen Pertahanan ini memegang peran strategis dalam operasi pengawalan logistik di wilayah rawan konflik.
Baca Juga: Diduga Korsleting Listrik, Mobil Terbakar di Dekat Exit Tol Colomadu
2. Sertu Muhammad Nur Ichwan
Sertu Muhammad Nur Ichwan adalah prajurit TNI AD yang sehari-hari bertugas di Kesdam IX/Udayana.
Dalam misi internasional ini, ia tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda sebagai bagian dari Task Force B Indobatt.
Ia gugur saat berada di kendaraan terdepan bersama Kapten Zulmi dalam menjalankan misi pengawalan logistik dan evakuasi.
Baca Juga: Pengelola SPBU di Sragen Beri Penjelasan Bantah Adanya Borong BBM, Semua Sesuai Barcode dari Dinas
Detik-detik Insiden Ledakan di Bani Haiyyan
Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah memaparkan bahwa insiden bermula pada Senin (30/3) sekitar pukul 11.00 waktu setempat.
Saat itu, Tim Escort Kompi B sedang mengawal konvoi Combat Support Service Unit (CSSU) dari Markas Sektor Timur (UNP 7-2) menuju Markas Satgas Yonmek TNI (UNP 7-1).
Konvoi itu dalam misi pengawalan logistik tim UNIFIL PBB sekaligus penjemputan jenazah Praka Farizal Romadhon, yang gugur sehari sebelumnya.
Konvoi terdiri dari enam kendaraan taktis, di mana kendaraan TNI berada di posisi paling depan.
Saat melintas di wilayah Bani Haiyyan, sebuah ledakan hebat menghantam kendaraan pertama yang ditumpangi empat personel TNI.
Situasi di lokasi kejadian dilaporkan sangat berbahaya dengan intensitas serangan yang tinggi.
Hal ini menyebabkan evakuasi segera terhadap jenazah kedua korban sempat terkendala, sementara rekan lainnya yang terluka langsung dilarikan ke rumah sakit.
Baca Juga: Harga BBM Dijamin Tak Naik per 1 April 2026, Pertalite hingga Pertamax Tetap di Harga Lama?
Kondisi Korban Luka dan Investigasi UNIFIL
Selain dua prajurit yang gugur, dua personel lainnya mengalami luka berat dalam insiden tersebut. Yakni Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto
Keduanya telah dievakuasi menggunakan helikopter dan saat ini mendapatkan penanganan medis intensif di Rumah Sakit St. George, Beirut.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyebutkan, total sudah ada delapan prajurit TNI yang menjadi korban (gugur dan luka) dalam beberapa hari terakhir akibat eskalasi konflik di Lebanon Selatan.
Termasuk di antaranya Praka Farizal yang gugur pada 29 Maret 2026.
Saat ini, pihak UNIFIL tengah melaksanakan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti ledakan tersebut.
Pemerintah RI menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan PBB merupakan pelanggaran serius terhadap mandat internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria