RADARSOLO.COM – Pengadaan armada motor listrik operasional Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menuai sorotan tajam.
Selain isu harga, publik kini mempertanyakan klaim Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) alias klaim produk lokal pada unit Emmo JVX GT yang disebut sebesar 48,5%.
Muncul sorotan jika motor listrik ini sekadar hasil rebranding dari Kollter ES1-X Pro, sebuah platform motor listrik asal China yang melanglang buana di pasar Amerika dan Eropa dengan merek Tinbot.
Di tengah kemiripan desain yang identik itu, lantas dari sektor manakah angka komponen lokal yang diklaim mencapai hampir 50 persen itu?
Klaim TKDN dan Spesifikasi Emmo JVX GT
PT Adlas Sarana Elektrik, perusahaan yang berbasis di Bogor, merupakan produsen di balik Emmo JVX GT.
Mereka mengklaim bahwa motor trail listrik ini memiliki nilai TKDN mencapai 48,5 persen. Dengan harga resmi Rp56.800.000, motor ini dipersenjatai dengan:
Penggerak: Mid-drive BLDC dengan Smart Gear Box.
Tenaga: Standar 3.800 Watt dengan peak power menyentuh 7.000 Watt.
Performa: Kecepatan puncak 80 km/jam dengan jarak tempuh 70 km per sekali pengisian daya.
Baterai: Portable 72V 31Ah dengan fitur fast charging (30% ke 80% dalam 1 jam).
Secara postur, Emmo memiliki ground clearance 320 mm yang sangat jangkung, menggunakan kombinasi pelek 19 inci di depan dan 18 inci di belakang dengan ban dual purpose.
Membedah Kemiripan dengan Kollter ES1-X Pro
Secara visual, sasis, lengan ayun (swing arm), hingga bodi Emmo JVX GT memang bagai pinang dibelah dua dengan Kollter ES1-X Pro yang dipasarkan di Amerika Serikat seharga Rp127 juta hingga Rp130 juta.
Namun, terdapat perbedaan spesifikasi signifikan yang menjadi kunci penyesuaian harga di Indonesia.
Jika Kollter menggunakan roda depan 21 inci dan tenaga puncak 11.000 Watt, Emmo JVX GT menggunakan roda 19 inci dengan tenaga yang dipangkas menjadi 7.000 Watt.
Penyesuaian ini dilakukan untuk menekan biaya produksi agar lebih ekonomis bagi pasar lokal.
Kritik publik muncul karena komponen inti seperti dinamo, desain bodi, sasis, hingga teknologi baterai tampak masih mengadopsi platform global asal China.
Strategi Rebranding atau Manufaktur Lokal?
Kepala BGN, Dadan Hindayana, sebelumnya menegaskan bahwa Emmo adalah merek yang resmi terdaftar dan dijual di Indonesia, berbeda dengan merek internasional seperti Tinbot atau Kollter.
Perdebatan mengenai "rebranding" vs "lokalisasi" ini sebenarnya hal umum dalam industri otomotif global, di mana satu platform manufaktur (white label) digunakan oleh banyak merek di berbagai negara.
Namun, bagi publik, transparansi mengenai rincian komponen lokal mana saja yang digunakan menjadi penting untuk membuktikan bahwa anggaran negara benar-benar memberikan nilai tambah bagi industri dalam negeri.
Hingga kini, publik menanti rincian lebih lanjut mengenai sertifikasi TKDN tersebut untuk memastikan bahwa Emmo JVX GT bukan sekadar motor impor yang "ganti baju".
Melainkan produk yang benar-benar memberikan kontribusi bagi ekonomi nasional. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria