Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Miris! Oknum Guru Ekonomi di Blora Jerumuskan Siswa ke Investasi Bodong Snapboost, Berdalih Ajarkan Ekonomi Digital

Kabun Triyatno • Kamis, 16 April 2026 | 17:13 WIB
Ilustrasi AI Generated/Gemini
Ilustrasi AI Generated/Gemini

RADARSOLO.COM – Alih-alih mendapatkan bekal ilmu finansial yang sehat, puluhan siswa SMA di Blora justru terjebak dalam pusaran investasi bodong aplikasi Snapboost. 

Ironisnya, sosok yang menyeret mereka ke dalam skema tipu-tipu ini adalah guru ekonomi mereka sendiri, berinisial D, yang menggunakan dalih materi "ekonomi digital" di dalam kelas.

Baca Juga: Investasi Bodong Snapboost di Blora Meledak: 700 Warga Tertipu, Kerugian Tembus Rp 2 Miliar

Kini, para siswa tersebut harus gigit jari setelah saldo mereka terkunci total. Mereka menjadi bagian dari 725 warga Blora yang menjadi korban dengan total kerugian kolektif mencapai lebih dari Rp2 miliar.

Modus yang dilakukan D terbilang sangat rapi namun mematikan. Sebagai pengajar mata pelajaran Ekonomi, ia mengenalkan Snapboost kepada murid-muridnya dengan alasan mengedukasi cara menabung demi biaya kuliah di masa depan.

Baca Juga: Korban Investasi Bodong Bisnis Air Kemasan di Sragen Mengadu ke Kompolnas: Kerugian Ratusan Juta

Tak hanya sekadar teori, D bahkan memberikan stimulasi yang sulit ditolak oleh para remaja. D kerap mengunggah kesuksesan membeli mobil mewah hasil Snapboost di media sosial untuk memancing rasa penasaran siswa.

Bagi siswa yang tidak memiliki modal, D menawarkan pinjaman atau "talangan" deposit agar mereka bisa segera bergabung dalam jaringan (downline) miliknya.

Baca Juga: Korban Dugaan Investasi Bodong Koperasi Bahana Lintas Nusantara Terus Meluas, Nasabah di Wonogiri Ramai-ramai Lapor Polisi

Siswa hanya diminta melakukan tugas sederhana berupa klik "like" pada video media sosial dengan iming-iming imbal hasil 1,8 persen per hari.

"Memang ada sekitar tujuh siswa yang depositnya saya talangi, sisanya menggunakan uang pribadi. Saya mengenalkannya sebagai materi ekonomi digital untuk tabungan kuliah mereka," aku D saat dikonfirmasi radarkudus.jawapos.com, Kamis (16/4).

Baca Juga: Investasi Emas Makin Mudah! Cicil Melalui Super App BRImo dan Dapatkan Bonus Cashback Menarik

D mengakui bahwa dirinya sadar aplikasi ini tidak memiliki izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia juga mengonfirmasi bahwa Snapboost menggunakan skema piramida atau Multi Level Marketing (MLM), di mana posisinya sebagai guru memberikan keuntungan besar dari setiap siswa atau warga yang bergabung di bawah jaringannya.

Namun, janji manis itu berubah menjadi mimpi buruk. Sejak beberapa waktu terakhir, fitur penarikan saldo macet total. Uang saku hingga uang tabungan yang disetorkan para siswa kini raib tak berbekas.

Roy, perwakilan para korban, mengungkapkan bahwa dampak psikologis dan finansial di kalangan siswa sangat terasa. Nilai deposit yang masuk bervariasi, mulai dari Rp500 ribu hingga angka fantastis mencapai ratusan juta rupiah untuk kategori umum.

"Data kami menunjukkan ada 725 warga yang terjerat. Bayangkan, anak sekolah yang seharusnya belajar ekonomi dengan benar, justru diajarkan masuk ke skema ponzi oleh gurunya sendiri. Ini preseden buruk bagi dunia pendidikan," tegas Roy. (tos/jpg)

 

Editor : Kabun Triyatno
#Snapboost #finansial #investasi bodong #ekonomi digital