Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Khutbah Jumat 1 Mei 2026: Derajat Mulia Pekerja dan Pencari Nafkah, Setiap Keringat Bernilai Ibadah

Nur Pramudito • Jumat, 1 Mei 2026 | 06:10 WIB
ILUSTRASI. Khutbah Jumat 1 Mei 2026: Derajat Mulia Pekerja dan Pencari Nafkah, Setiap Keringat Bernilai Ibadah (GEMINI AI)
ILUSTRASI. Khutbah Jumat 1 Mei 2026: Derajat Mulia Pekerja dan Pencari Nafkah, Setiap Keringat Bernilai Ibadah (GEMINI AI)

RADARSOLO.COM - Khutbah Jumat kali ini mengingatkan kita bahwa setiap pekerja dan pencari nafkah memiliki derajat mulia di hadapan Allah SWT.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita menyaksikan berbagai bentuk perjuangan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ada yang menjadi petani, buruh, pedagang, pegawai, hingga profesi lainnya.

Semua bergerak dengan satu tujuan yang sama, yakni mencari nafkah demi keberlangsungan hidup diri dan keluarga dengan cara yang halal.

Dalam Islam, bekerja bukan sekadar aktivitas duniawi untuk mengumpulkan harta.

Lebih dari itu, setiap usaha yang dilakukan dengan niat yang benar merupakan bagian dari ibadah.

Baca Juga: Khutbah Jumat 24 April 2026: 2 Nikmat Allah yang Kerap Terlupakan dalam Kehidupan

Inilah yang menjadikan pekerja dan pencari nafkah memiliki derajat yang tinggi dan mulia.

Setiap tetes keringat yang jatuh dalam usaha mencari rezeki halal tidak akan sia-sia.

Justru, hal itu menjadi saksi perjuangan sekaligus ladang pahala yang besar di sisi Allah SWT.

Melalui Khutbah Jumat 1 Mei 2026 ini, kita diajak untuk menumbuhkan rasa hormat dan apresiasi terhadap setiap pekerja dan pencari nafkah.

Sebab, tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan cara yang halal dan penuh keikhlasan.

Dengan demikian, setiap langkah dalam mencari rezeki dapat menjadi jalan menuju kemuliaan, serta mengantarkan seseorang pada derajat yang tinggi di hadapan Allah SWT.

Khutbah I
 
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Mengawali khutbah Jumat ini, marilah kita senantiasa mengingat akan segala anugerah yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada kita. Untuk kemudian kita syukuri dan gunakan di jalan kebaikan serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Pada kesempatan ini, khatib mengajak kepada seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebagaimana firmannya dalam Al-Qur’an:

وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Artinya, "Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." (QS. An-Nisa : 1)

Jamaah sholat Jumat yang dirahmati oleh Allah

Manusia terlahir di dunia ini dengan rezeki dan nasib yang berbeda-beda. Ada yang terlahir dari keluarga yang kaya raya serba berkecukupan. Adapula dari keluarga papa, yang untuk sekadar kebutuhan makan sehari-hari saja sudah merasa kesulitan.

Namun, akhirnya ketika manusia telah dewasa, pada umumnya semua akan dituntut untuk menjadi individu yang mandiri. Tak lagi menggantungkan hidupnya kepada orang tua. Mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terlebih bagi mereka yang telah berkeluarga. Seorang kepala keluarga, berkewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarganya.

Bahkan, adapula seseorang yang mesti menanggung kebutuhan beberapa generasi sekaligus. Kebutuhan dirinya, istri anaknya, dan juga orang tua yang mungkin sudah tak lagi bisa bekerja. Istilah zaman sekarang generasi sandwich.

Namun, bagaimanapun kerasnya hidup harus dijalani. Kita harus berjuang dan bekerja untuk mencari sesuatu yang halal dan agar terhindar dari perbuatan meminta-minta. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah apa-apa yang baik yang Kami anugerahkan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 172)

Untuk mengupayakan makanan ataupun sesuatu lainnya yang menjadi kebutuhan kita sehari-hari, yang halal dan baik, maka perlu kita usahakan dengan cara yang halal dan baik pula. Maka carilah rezeki atau bekerjalah dengan cara yang baik sesuai dengan tuntunan agama. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

Artinya, "Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)

Begitulah, Allah senantiasa akan memperhatikan apa saja yang kita lakukan. Termasuk dalam kita bekerja. Maka, tidak ada pekerjaan yang hina di mata Allah, selama itu dilakukan dengan cara yang baik dan halal. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA:

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

Artinya, "Sungguh seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Allah juga akan memberikan balasan yang istimewa bagi para pekerja atau pencari nafkah untuk keluarganya. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW:

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ

Artinya, “Sungguh, tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan semata-mata karena Allah, kecuali kamu akan mendapatkan pahala karenanya, bahkan makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Al-Bukhari).

Sidang Jumat rahimakumullah,

Keterangan-keterangan yang telah disebutkan di atas merupakan landasan penting, bagi orang-orang yang bekerja ataupun para pencari nafkah. Namun, bagaimana bila posisi kita adalah, seorang pencari nafkah, yang sekaligus juga menjadi pemimpin/majikan dari sebuah usaha yang mempekerjakan banyak orang? Tentu, ada beberapa hal lain yang perlu untuk diperhatikan.

Pertama, perlakukanlah para pekerja tersebut dengan baik. Bayarkanlah upah mereka dengan tepat waktu. Jangan sampai terlalu lama menunda pembayaran upah, hingga digambarkan sampai mengering keringat para pekerja tersebut.

Seorang majikan yang melalaikan upah buruh yang telah menyelesaikan pekerjaannya, mendapat ancaman dari Allah swt, yakni akan menjadi musuh-Nya di Hari Kiamat kelak. Na'udzubillah min dzalik.

ثَلاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِهِ أَجْرَهُ

Artinya, “Ada tiga golongan orang yang kelak pada hari kiamat akan menjadi musuh-Ku. Barangsiapa menjadi musuh-Ku maka Aku memusuhinya. Pertama, seorang yang berjanji dengan menyebut nama-Ku, lalu dia ingkar (berkhianat). Kedua, seorang yang menjual orang merdeka (bukan budak) lalu memakan uang hasil penjualannya. Ketiga, seorang yang mempekerjakan seorang buruh tapi setelah menyelesaikan pekerjaannya orang tersebut tidak memberinya upah.” (HR. Ibnu Majah)

Kemudian, yang kedua perlakukanlah mereka dengan baik. Para karyawan atau buruh, mereka adalah orang-orang yang berjasa dalam usaha kita. Maka perhatikan kesejahteraan dan perlindungan mereka saat bekerja. Selain dari ajaran agama, hal ini juga telah diamanatkan dalam UU Nomor 6 Tahun 2023.

Selain kedua hal tersebut, tentu masih banyak lagi hal yang perlu diperhatikan dalam kaitan seorang pemimpin usaha/majikan kepada karyawan/buruh.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Untuk mengakhiri khutbah ini, marilah kita senantiasa berdoa agar Allah memberikan kita semua rahmat, keberkahan, dan keselamatan. Serta menjauhkan kita dari segala penyakit dan musibah. Amin ya Rabbal Alamin
 
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
 
Khutbah II
 
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرْ
Editor : Nur Pramudito
#1 Mei 2026 #Khutbah Jumat 1 Mei 2026 #Hari Buruh Nasional 2026 #teks khutbah jumat #khutbah jumat