Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ada Apa di Gunung Kawi? Sejarah Wisata Religi hingga Asal-Usul Pesugihan yang Viral Seret Nama Selebritas

Syahaamah Fikria • Selasa, 19 Mei 2026 | 17:27 WIB
Keindahan Gunung Kawi dari kejauhan yang menyimpan hal mistis. (Radar Malang)
Keindahan Gunung Kawi dari kejauhan yang menyimpan hal mistis. (Radar Malang)

RADARSOLO.COM – Isu mistis seputar pesugihan Gunung Kawi, Jawa Timur, mendadak kembali viral dan jadi buah bibir setelah sebuah konten investigasi menyeret nama selebritas papan atas. 

Banyak netizen yang kemudian penasaran mengenai apa yang sebenarnya ada di dalam kawasan pegunungan tersebut.

Terlepas dari awan mistis dan stereotipe berburu kekayaan instan yang telanjur melekat di benak awam, Gunung Kawi sejatinya merupakan sebuah situs warisan sejarah yang kaya akan nilai pluralisme, nasionalisme, dan keindahan alam yang memukau. 

Di balik rimbunnya mitos perkotaan, tempat ini adalah pesarean agung dari para tokoh pejuang kemerdekaan yang dihormati lintas etnis.

Baca Juga: Apa Itu Pesugihan Gunung Kawi? Viral Dibongkar Pesulap Merah, Nama Sarwendah Mendadak Mencuat

Pesarean Gunung Kawi: Makam Bangsawan Pejuang Pengikut Diponegoro

Pesarean Gunung Kawi. (Instagram @pesareangunungkawi)
Pesarean Gunung Kawi. (Instagram @pesareangunungkawi)

Daya tarik utama sekaligus jantung dari keramaian di Gunung Kawi bukanlah aura gaib, melainkan keberadaan kompleks pemakaman keramat yang disebut Pesarean Gunung Kawi. 

Terletak di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, situs ini merupakan tempat peristirahatan terakhir dua tokoh bangsa yang sangat dihormati.

1. Kanjeng Kyai Zakaria II (Eyang Jugo)

Wafat pada 22 Januari 1871. Beliau merupakan buyut dari Susuhanan Pakubuwono I (Raja Keraton Kartasura periode 1705–1717).

Baca Juga: Pelaku Begal Pantat di Wonogiri Dibekuk, Dalihnya Bikin Geleng-geleng

 

2. Raden Mas Imam Soedjono

Wafat pada 8 Februari 1876. Beliau merupakan buyut dari Sultan Hamengkubuwono I (Pendiri Keraton Yogyakarta).

Secara historis, kedua bangsawan Mataram ini memilih menanggalkan jubah kemewahan istana untuk bergabung dalam barisan gerilya Pangeran Diponegoro melawan penjajahan kolonial Belanda pada Perang Jawa (1825–1830). 

Setelah perang usai, keduanya melarikan diri ke timur dan membuka lahan hutan (babat alas) di lereng gunung ini, yang kemudian dinamakan Wonosari (bermakna "inti hutan yang mendatangkan rezeki").

Baca Juga: Mandi di Sungai Sengkarang, Remaja asal Pekalongan Meninggal Terseret Arus

Karena keluhuran budi dan jasa masa lalu mereka, makam kedua tokoh ini bertransformasi menjadi pusat wisata religi dan budaya yang dikunjungi ribuan peziarah dari berbagai daerah.

Terutama pada malam puncak Jumat Legi.

Akulturasi Budaya

Salah satu keunikan yang langsung menyambut wisatawan saat menginjakkan kaki di area utama Pesarean Gunung Kawi adalah kentalnya atmosfer akulturasi budaya. 

Arsitektur bangunan di sekitar makam dan keraton didominasi oleh corak visual khas Tionghoa zaman dulu dengan ornamen merah dan lampion yang mencolok.

Meski berarsitektur pecinan, seluruh pelayan dan pengelola operasional Pesarean tetap mengenakan pakaian adat tradisional Jawa lengkap. 

Pemandangan ini menjadi bukti nyata bagaimana harmoni dan toleransi antar-etnis serta antar-agama telah mengakar kuat di kaki Gunung Kawi selama ratusan tahun.

Di lokasi ini pula terdapat sebuah pohon yang sangat ikonik bernama Pohon Dewandaru. 

Menurut mitos yang berkembang di kalangan peziarah, kejatuhan daun atau buah dari pohon ini dipercaya dapat membawa keberkahan dan kelancaran usaha bagi siapa saja yang berhasil mendapatkannya.

Baca Juga: Laga Hidup Mati Persis Solo di Markas Persita Tangerang Resmi Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya?

Kemegahan "Gunung Putri Tidur"

Secara geografis, Gunung Kawi merupakan gunung berapi yang sudah lama tidak aktif dan terletak di perbatasan antara Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar. 

Hingga saat ini, tidak ada catatan sejarah modern yang merekam aktivitas letusan dari gunung ini.

Masyarakat lokal sering menyebut bentang alam ini dengan julukan "Gunung Putri Tidur". 

Pasalnya, jika dipandang dari arah timur (Kota Malang) atau dari arah barat (Wlingi, Blitar), siluet gugusan pegunungan ini membentuk formasi menyerupai lekuk tubuh seorang wanita yang sedang berbaring telentang, lengkap dengan bagian kepala di sisi selatan hingga kaki yang menjuntai ke utara.

Baca Juga: 25 Ide Tema Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026, Inspiratif dan Penuh Semangat Harkitnas 2026

Bagi para pencinta alam, Gunung Kawi menyajikan jalur pendakian yang asri melalui pos Precet atau Kucur. 

Gunung ini memiliki puncak tertinggi setinggi 2.880 mdpl, yang dikenal secara spesifik dengan nama Gunung Buthak. 

Dari puncaknya, pendaki akan disuguhi panorama spektakuler 360 derajat yang mengepung area perkotaan mulai dari Kota Batu, Kota Malang, Kepanjen, hingga kilauan air dari Bendungan Sutami (Karangkates) di sisi selatan.

Dengan demikian, di balik narasi viral pesugihan yang kerap menyeret figur publik, Gunung Kawi adalah cagar budaya luhur yang menyimpan nilai historis perjuangan bangsa serta keindahan alam Nusantara yang wajib dilestarikan.

Editor : Syahaamah Fikria
#pesugihan gunung kawi #gunung kawi #pesugihan #viral