RADARSOLO.COM – Kasus dugaan skandal akademik riset palsu yang menyeret nama Rifaldy Fajar kini memasuki babak baru.
Setelah sempat memicu kehebohan di jagat maya, lulusan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tersebut akhirnya muncul dan blak-blakan mengakui keculasannya.
Rifaldy secara terbuka memohon maaf karena telah mencatut nama ibu kandungnya, Elfiany Syafruddin, serta institusi Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UMB) dalam puluhan karya ilmiah yang terindikasi sebagai riset palsu.
Pengakuan dosa akademik tersebut disampaikan Rifaldy melalui sebuah rekaman video klarifikasi yang diunggah ulang oleh akun Instagram resmi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMB.
Langkah ini diambil Rifaldy setelah pihak kampus melayangkan somasi keras karena nama institusi mereka dicantumkan tanpa izin dalam ringkasan ilmiah (abstrak) di berbagai konferensi dunia.
Siasat Licik Manipulasi Kolaborasi
Dalam pernyataan resminya, Rifaldy Fajar memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh civitas academica UMB atas pencatutan sepihak yang ia lakukan.
Baca Juga: Berapa Harta Kekayaan Dadan Hindayana? Dicopot dari Kepala BGN, Kini Terungkap Dugaan Jual Beli SPPG
Ia membenarkan telah mendaftarkan nama ibunya, Elfiany Syafruddin, sebagai salah satu tim periset dengan menyantumkan afiliasi palsu ke kampus UMB.
Rifaldy mengungkapkan, motif utama di balik aksi nekatnya tersebut murni agar karya ilmiah buatannya terlihat meyakinkan dan memiliki bobot akademik yang tinggi di mata kurator internasional.
"Dan saya mengakui kesalahan saya dalam hal itu memang semata-mata untuk seperti membuat sebuah karya seolah-olah itu banyak kolaborasi penelitian di dalamnya," tutur Rifaldy dalam unggahan di akun @lp2m_umbulukumba.
Demi melancarkan aksinya di rumpun keilmuan matematika dan ilmu komputer, Rifaldy bahkan tidak ragu mengarang sebuah departemen fiktif bernama Computer Science UMB.
Padahal, setelah diverifikasi, program studi atau departemen tersebut sama sekali tidak pernah ada di Universitas Muhammadiyah Bulukumba.
Ibu Kandung Jadi Tameng
Sengkarut pemalsuan data riset ini mulai terendus setelah nama Elfiany Syafruddin tercantum dalam akun Google Scholar milik Rifaldy Fajar.
Serta ikut terseret dalam kehebohan konferensi medis dunia International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISSPD) di Kopenhagen, Denmark, pertengahan Mei 2026 lalu.
Pihak LPPM UMB yang berang namanya dicatut kemudian memanggil Elfiany yang notabene merupakan salah satu alumni kampus tersebut.
UMB juga sempat melayangkan somasui terbuka terhadap Elfiany Syafruddin usai ditemukan pencatutan nama kampus itu dalam sejumlah abstrak konferensi internasional dan pengajuan travel grant tanpa izin.
Baca Juga: Gedor 10 Ribu Rumah, Pemkot Solo Pasang Stiker Miskin Serentak demi Bersihkan Data Bansos Siluman
Dalam pertemuan tatap muka, Elfiany menangis dan mengaku terkejut namanya terdaftar dalam berbagai dokumen pengajuan dana bantuan.
Ia menegaskan sama sekali tidak tahu-menahu, tidak pernah ikut meneliti, apalagi menyetujui pencantuman identitas dirinya.
"Kondisinya ibu saya tidak mengetahui tentang hal ini sehingga saya mencatut secara langsung nama ibu saya dan menggunakan Universitas Muhammadiyah Bulukumba sebagai afiliasinya," aku Rifaldy.
Sementara pihak UMB menyebut, pencatutan nama kampus tersebut telah dilakukan dalam 2 tahun terakhir, yakni rentang 2024 hingga 2026.
Modus Conference Hunter: 2 Tahun Terbang 229 Kali Modal Dana Hibah
Di balik aksi nekat membobol kredibilitas dunia akademik, terungkap sebuah fakta mengejutkan mengenai gaya hidup mewah Rifaldy.
Berdasarkan jejak digital yang dibongkar netizen di media sosial, pria ini diketahui berhasil keliling dunia secara gratis selama dua tahun terakhir.
Rekam jejak perjalanannya tercatat sangat fantastis, yakni menembus total 229 kali penerbangan.
Baca Juga: Apa Kasus di BGN yang Bikin Dadan Hindayana Dicopot Prabowo? Terungkap Dugaan Jual Beli SPPG
Tahun 2024, Rifaldy diketahui melakukan 115 penerbangan (17 rute domestik dan 98 rute internasional).
Kemudian, tahun 2025 dia mencatatkan 114 penerbangan (25 rute domestik dan 89 rute internasional).
Usut punya usut, ratusan tiket pesawat kelas internasional tersebut didapatkan Rifaldy secara cuma-cuma dengan memanfaatkan skema Travel Grant (bantuan dana perjalanan peneliti).
Rifaldy diduga tergabung dalam jaringan bawah tanah kelompok pemburu seminar (Conference Hunter).
Kelompok ini sengaja memanfaatkan celah beberapa konferensi internasional tingkat dunia yang tidak mewajibkan pengumpulan naskah utuh (full paper), melainkan hanya seleksi draf ringkasan (abstrak) saja.
Berbekal abstrak palsu hasil manipulasi, mereka berburu dana hibah untuk kepentingan pelesiran pribadi ketimbang menghadiri forum ilmiah dengan sungguh-sungguh.
Saat ini, Rifaldy mengaku tengah berupaya menghubungi satu per satu panitia jurnal dan komite konferensi global untuk menarik kembali (retract) seluruh abstrak palsu yang telanjur terbit sejak tahun 2024 lalu.
Di sisi lain, pihak Universitas Muhammadiyah Bulukumba tetap meminta penghentian total penyalahgunaan nama kampus mereka di platform digital mana pun.
Editor : Syahaamah Fikria