Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Khutbah Jumat 5 Juni 2026 Bulan Dzulhijjah: Meneguhkan Ketakwaan dan Mempererat Persaudaraan Umat

Nur Pramudito • Jumat, 5 Juni 2026 | 04:11 WIB
ILUSTRASI KHUTBAH JUMAT 5 Juni 20206 (GEMINI AI)
ILUSTRASI KHUTBAH JUMAT 5 Juni 20206 (GEMINI AI)

RADARSOLO.COM - Khutbah Jumat 5 Juni 2026 Bulan Dzulhijjah menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Bulan yang termasuk dalam deretan bulan mulia ini menghadirkan banyak pelajaran berharga tentang ketaatan, pengorbanan, dan keikhlasan dalam menjalankan perintah-Nya.

Melalui berbagai ibadah yang dilaksanakan pada Bulan Dzulhijjah, seperti haji dan kurban, umat Islam diajak untuk merenungkan kembali keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Kisah keduanya mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah harus ditempatkan di atas segala kepentingan duniawi.

Keikhlasan mereka dalam menjalankan perintah Allah menjadi contoh nyata bagi setiap Muslim dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Selain memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta, Bulan Dzulhijjah juga mengajarkan pentingnya membangun hubungan yang harmonis dengan sesama.

Ibadah kurban, misalnya, mengandung pesan kepedulian sosial yang kuat melalui pembagian daging kepada masyarakat yang membutuhkan.

Nilai ini menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan, menumbuhkan rasa empati, dan memperkuat solidaritas di tengah kehidupan bermasyarakat.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, semangat pengorbanan dan kebersamaan yang diajarkan pada Bulan Dzulhijjah dapat menjadi inspirasi untuk menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta membangun kehidupan yang damai dan saling menghargai.

Sikap tersebut merupakan bagian dari akhlak mulia yang diajarkan Islam dan perlu terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Khutbah Jumat 5 Juni 2026 Bulan Dzulhijjah mengingatkan umat Islam agar menjadikan momentum bulan mulia ini sebagai sarana memperkuat ketakwaan, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, dan menumbuhkan semangat persaudaraan.

Dengan demikian, nilai-nilai Islam dapat terwujud dalam kehidupan pribadi maupun sosial sehingga membawa keberkahan bagi seluruh umat.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَجَعَلَنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah pada kesempatan Jumat yang mulia ini, kita masih diberikan rahmat, hidayah, serta inayah oleh Allah SWT sehingga kita masih bisa mengungkapkan rasa syukur dengan melaksanakan rangkaian ibadah shalat Jumat di masjid ini dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Shalawat dan salam mari kita sampaikan ke pangkuan beliau nabi agung Muhammad SAW. Semoga kita kelak mendapatkan syafaatnya. Aamiin…

Pada kesempatan yang berbahagia ini, khatib mengajak pada diri dan para jama’ah untuk selalu meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah, yaitu menjalankan apa yang di perintahkanNya dan menjauhi segala larangan-larangaNya, karena dengan iman dan takwa inilah Allah akan menjadikan hidup kita lebih terang.

Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Hadid ayat 28.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ

 Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Nabi Muhammad), niscaya Allah menganugerahkan kepadamu dua bagian dari rahmat-Nya dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu berjalan serta Dia mengampunimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs. Al-Hadid ayat 28)

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah

Hari ini kita masih berada di bulan dzulhijjah/besar dan empat hari yang lalu kita sebagai warga negara Indonesia juga turut memperingati hari lahir/kesaktian Pancasila sebagaimana pemerintah juga memperingatinya dengan menandakan tanggal merah untuk melaksanakan perenungan dan upacara

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Pernahkah kita membayangkan, bagaimana jika Nabi Ibrahim a.s. saat menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya berkata, “Ya Allah, bolehkah saya menunda?” Atau Nabi Ismail berkata, “Ayah, saya belum siap?”

Namun sejarah mencatat hal yang berbeda. Ketika perintah Allah datang, keduanya memilih taat tanpa syarat. Dari peristiwa itulah lahir pelajaran besar tentang iman, pengorbanan, dan kepentingan bersama yang diletakkan di atas kepentingan pribadi.

Hari ini ketika kita berada dalam bulan Dzulhijjah, kita selalu diingatkan tentang keteladanan Nabi Ibrahim as, Ismail As, dan Siti Hajar, sebenarnya Allah mengajak kita bukan hanya menjadi hamba yang rajin beribadah, tetapi juga menjadi warga bangsa yang mampu mengorbankan ego demi persatuan, mengutamakan kepentingan bersama, serta menjaga keutuhan Indonesia sebagai rumah besar yang diwariskan para pendiri bangsa.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Sebagaimana Allah berfirman tentang Keteladanan Nabi Ibrahim dan Makna Pengorbanan dalam QS Ash-Shaffat: 103-105

فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ ۝١٠٣ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ ۝١٠٤ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ۝١٠٥

 

Artinya: “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami panggillah dia: Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.” (QS. Ash-Shaffat: 103-105)

Kisah ini mengajarkan bahwa keberhasilan hidup bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, tetapi oleh seberapa besar ketaatan dan kesediaan kita berkorban demi nilai-nilai yang benar. Pengorbanan itulah yang menjadi inti ibadah kurban.

Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Artinya: “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Jamaah Jumat rahimakumullah

Nilai terbesar yang diajarkan Dzulhijjah adalah pengorbanan demi kemaslahatan yang lebih besar. Nilai ini sangat relevan dengan semangat Pancasila.

Para pendiri bangsa dahulu mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa agar Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa yang merdeka dan bersatu.

Karena itu, mencintai Pancasila bukan sekadar menghafal lima silanya, tetapi mengamalkan nilai-nilainya.

Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

Keteladanan Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa kehidupan harus berlandaskan tauhid dan ketaatan kepada Allah.

Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab​​​​​​​

Ibadah kurban mengajarkan kepedulian sosial. Daging kurban dibagikan kepada yang membutuhkan tanpa memandang suku, golongan, ataupun status sosial.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

 Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani)

Sila Ketiga: Persatuan Indonesia​​​​​​​

Ibadah haji memperlihatkan jutaan manusia dari berbagai bangsa berkumpul dengan pakaian yang sama, tujuan yang sama, dan kiblat yang sama.

Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

 

Artinya: “Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini sejalan dengan semangat menjaga persatuan bangsa Indonesia yang beragam suku, bahasa, budaya, dan agama.

Sila Keempat dan Kelima​​​​​​​

Musyawarah, keadilan, gotong royong, dan kepedulian sosial merupakan nilai yang hidup dalam ajaran Islam dan menjadi fondasi kehidupan berbangsa.

Oleh karena itu, menjadi muslim yang taat dan menjadi warga negara yang mencintai Pancasila bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Mari jadikan bulan Dzulhijjah sebagai momentum memperkuat ketakwaan, memperbanyak amal saleh, menghidupkan semangat berbagi, menjaga persatuan, menebarkan kedamaian, serta merawat cinta kepada Indonesia sebagai amanah Allah yang harus dijaga bersama.

.أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْأنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الاَيَاتِ وَ ذِكْرِالحَكِيْمِ

وَ تَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْم، أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ فِي الْعِبَادَةِ، وَمِنَ الْمُتَّقِيْنَ فِي الْقُرْبَانِ، وَارْزُقْنَا قُلُوْبًا سَلِيْمَةً وَأَعْمَالًا صَالِحَةً .

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَا مَّةً˛ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر .رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

Editor : Nur Pramudito
#Khutbah Jumat 5 Juni 2026 #5 Juni 2026 #Teks Khutbah Jumat 2026 #bulan dzulhijjah #khutbah jumat