Khutbah Jumat 26 Juni 2026: Bahaya Sifat Tamak dan Pentingnya Menjaga Hati

Nur Pramudito • Dipublikasikan Jumat, 26 Juni 2026 | 05:55 WIB
ILUSTRASI. Khutbah Jumat 26 Juni 2026: Bahaya Sifat Tamak dan Pentingnya Menjaga Hati (GEMINI AI)
ILUSTRASI. Khutbah Jumat 26 Juni 2026: Bahaya Sifat Tamak dan Pentingnya Menjaga Hati (GEMINI AI)

RADARSOLO.COM - Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang lebih baik, rezeki yang melimpah, dan berbagai kenikmatan dunia.

Keinginan tersebut pada dasarnya merupakan hal yang wajar. Namun, apabila tidak dikendalikan dengan baik, keinginan itu dapat berkembang menjadi sifat tamak, yaitu hasrat yang berlebihan untuk memiliki sesuatu tanpa merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah SWT.

Dalam ajaran Islam, sifat tamak termasuk penyakit hati yang berbahaya.

Sifat ini dapat mendorong seseorang untuk menghalalkan berbagai cara demi memperoleh keuntungan, mengabaikan hak orang lain, bahkan melupakan kewajiban kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, umat Islam perlu memahami bahaya sifat tamak sekaligus berupaya menjaga hati agar tetap bersih dari kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Pada Khutbah Jumat 26 Juni 2026 kali ini, jamaah diajak untuk merenungkan dampak buruk sifat tamak dalam kehidupan sehari-hari.

Ketamakan tidak hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga menghilangkan rasa syukur dan ketenangan jiwa. Semakin seseorang menuruti hawa nafsunya, semakin sulit ia merasa puas terhadap nikmat yang dimiliki.

Salah satu cara efektif untuk menjaga hati dari sifat tamak adalah dengan memperbanyak rasa syukur, memperkuat keimanan, serta membiasakan diri berbagi kepada sesama.

Selain itu, mengingat bahwa seluruh harta dan kenikmatan dunia hanyalah titipan Allah SWT akan membantu seseorang untuk hidup lebih sederhana dan tidak berlebihan dalam mengejar urusan dunia.

Melalui Khutbah Jumat 26 Juni 2026 bertema Sifat Tamak dan Menjaga Hati ini, diharapkan kaum muslimin dapat lebih waspada terhadap penyakit hati yang satu ini.

Dengan hati yang bersih dan penuh rasa syukur, seseorang akan lebih mudah meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Khutbah I

 

 اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَ وَالْجِنَّ لِيُكَلِّفَهُمْ أَنْ يُوَحِّدُوْهُ وَيَعْبُدُوْهُ وَيُقَدِّسُوْهُ وَيُمَجِّدُوْهُ وَيَشْكُرُوْهُ وَلَا يَكْفُرُوْهُ وَيُطِيْعُوْهُ وَلَا يَعْصُوْهُ وَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ رَسُوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُعَزِّرُوْهُ وَيُوَقِّرُوْهُ وَيُطِيْعُوْهُ وَيَنْصُرُوْهُ فَأَمَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ بِكُلِّ بِرٍّ وَإِحْسَانٍ وَزَجَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ عَنْ كُلِّ إِثْمٍ وَعُدْوِانٍ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ خَيْرِ الْمُوَحِّدِيْنَ وَالْمُسَبِّحِيْنَ وَالْحَامِدِيْنَ وَالْعَابِدِيْنَ وَالسَّائِحِيْنَ أَعْرَفِ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ بِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ عِلْمًا وَعَمَلًا وَكَمَالًا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ. قال الله تعالى في القرآن الكريم: وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ٱلَّذِي جَمَعَ مَالٗا وَعَدَّدَهُۥ يَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ كَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِي ٱلۡحُطَمَةِ

 
 

Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah jami’a,

Mari kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sebab ketakwaan adalah bekal terbaik dalam perjalanan hidup di dunia dan penentu kebahagiaan kita di akhirat kelak.

Ada sebuah untaian hikmah yang sangat menyentuh hati, disampaikan oleh seorang sufi agung, Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari, dalam karyanya yang masyhur, Al-Hikam al-‘Athaiyah. Pada butiran hikmah ke-60, ia menulis:

مَا سَبَقَتْ أَغْصَانُ ذُلٍّ إِلَّا عَلَى بَذْرِ جَمَعٍ

Artinya, “Tidak akan tumbuh cabang-cabang kehinaan kecuali dari benih-benih ketamakan.” (Ibnu Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam al-‘Athaiyah, hal. 56. [Kairo, Markaz al-Ahram li at-Tarjamah wa an-Nasyr: 1988 M / 1408 H])

 

Ini bukan sekadar ungkapan sastra. Ia adalah potret jiwa yang jujur. Betapa banyak manusia yang jatuh dan hina bukan karena tidak berilmu, bukan karena tidak berharta, melainkan karena satu benih yang tumbuh diam-diam dalam lubuk hatinya, yaitu sikap tamak. Dan dari satu benih itu, tumbuhlah dahan-dahan kehinaan yang menjalar ke mana-mana.

Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah jami’a,

Lalu, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan tamak? Imam Ibnu Hajar al-‘Atsqallaniy, sebagaimana dikutip oleh Imam Abul Hasan Nuruddin al-Mulla al-Harawi al-Qari (w. 1014 H) dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih, memberikan pengertian yang cukup jelas:

الطَّمَعُ هُوَ أَخْذُ الْمَالِ مِنْ غَيْرِ حَقِّهِ أَوْ مَسْكُهُ عَنْ حَقِّهِ بُخْلًا بِهِ

Artinya, “Tamak adalah mengambil harta bukan yang bukan haknya, atau menahan harta dari haknya karena sifat kikir dalam dirinya.” (Abul Hasan Nuruddin al-Mulla al-Harawi al-Qari, Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih, [Beirut–Lebanon, Dar al-Fikr: 2002 M / 1422 H]), juz 4, hal. 1714..

Dari definisi ini kita memahami bahwa tamak bukan hanya soal hasrat memiliki harta yang berlebihan. Tamak juga hadir dalam wajah yang lebih samar: menahan harta yang seharusnya ditunaikan untuk hak orang lain, baik berupa zakat, sedekah, maupun amanah-amanah sosial lainnya. Dua wajah tamak ini sama-sama berbahaya.

Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah jami’a,

Terkait itu semua, Allah SWT telah jauh sejak awal mewanti-wanti seluruh umat manusia. Peringatan itu termaktub dalam surah al-Humazah yang seluruh ayatnya berisi ancaman bagi mereka yang menjadikan harta sebagai berhala kehidupan.

Allah berfirman;

وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ﴿١﴾ ٱلَّذِي جَمَعَ مَالٗا وَعَدَّدَهُۥ ﴿٢﴾ يَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ﴿٣﴾ كَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِي ٱلۡحُطَمَةِ ﴿٤﴾ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ ﴿٥﴾ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ﴿٦﴾ ٱلَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ ﴿٧﴾ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ ﴿٨﴾ فِي عَمَدٖ مُّمَدَّدَةِۭ ﴿٩﴾

Artinya, “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela (1), yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya (2), ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya (3), sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah

(4), dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (5), (yaitu) api yang dinyalakan Allah (6), yang (membakar) sampai ke hati (7), sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka (8), (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang (9).” (QS. al-Humazah [104]: 1-9)

Betapa dahsyat perumpamaan yang Allah lukiskan. Harta yang ditimbun dengan rakus dan penuh ketamakan bukan hanya menjadi api yang menyiksa, tetapi kobarannya menjalar hingga ke hati, tempat keserakahan itu bersemayam.

Seakan Allah menegaskan bahwa ketamakan yang dipelihara di dunia akan kembali kepada pemiliknya sebagai azab yang menembus sumber segala niat dan keinginan.

Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah jami’a,

Untuk itu, sudah seyogianya setiap orang berupaya menjaga diri dari sikap tamak, karena ketamakan bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga mencederai kejernihan hati dan ketulusan niat. Seseorang yang dikuasai oleh ambisi berlebihan cenderung menempatkan kepentingan pribadi di atas nilai-nilai kebenaran dan kemaslahatan.

Berbicara tentang pentingnya menjaga diri dari sifat tamak, Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi (w. 450 H) dalam kitab Adab ad-Dunya wa ad-Din menjelaskan bahwa salah satu indikator kebersihan dan ketulusan jiwa adalah terbebas dari sifat-sifat yang dapat mengotori hati. 

Menurutnya, sekurang-kurangnya ada dua hal yang harus dijauhi, yaitu ketamakan (ath-thama') dan sikap-sikap yang menimbulkan kecurigaan (ar-ribah). Pada halaman 326, al-Mawardi menulis:

وَأَمَّا النَّزَاهَةُ فَنَوْعَانِ: أَحَدُهُمَا: النَّزَاهَةُ عَنِ الْمَطَامِعِ الدَّنِيَّةِ. وَالثَّانِي: النَّزَاهَةُ عَنْ مَوَاقِفِ الرِّيبَةِ. فَأَمَّا الْمَطَامِعُ الدَّنِيَّةُ؛ فَلِأَنَّ الطَّمَعَ ذُلٌّ وَالدَّنَاءَةَ لُؤْمٌ، وَهُمَا أَدْفَعُ شَيْءٍ لِلْمُرُوءَةِ. وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى طَبْعٍ

Artinya, “Nazahah (ketulusan jiwa) itu ada dua macam: pertama, menjaga diri dari ketamakan dan hasrat-hasrat rendah. Kedua, menjaga diri dari sikap-sikap yang mencurigakan. Alasan menghindar dari yang pertama, karena ketamakan adalah kehinaan dan kerendahan adalah kekejian, keduanya adalah sesuatu yang paling menghancurkan harga diri (muru’ah).

Bahkan, Nabi SAW pernah berdoa: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tamak yang menghantarkan kepada tabiat buruk.’” (Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardiy, Adab ad-Dunya wa ad-Din, [Beirut, Dar Maktabah al-Hayah: 1986 M]), hal. 326-327.

Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah jami’a,

Lebih dari itu, Baginda Nabi Muhammad SAW sendiri dalam riwayat Mu’adz bin Jabal secara eksplisit telah mengajarkan kepada kita doa berlindung dari sifat tamak. Dalam ad-Da‘awat al-Kabir, Imam Abu Bakar al-Baihaqi (w. 458 H) menulis:

اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى طَبْعٍ، وَمِنْ طَمَعٍ فِي غَيْرِ مَطْمَعٍ، وَمِنْ طَمَعٍ حَيْثُ لَا مَطْمَعَ

Artinya, “Berlindunglah kepada Allah dari tamak yang menghantarkan kepada tabiat buruk, dari tamak pada sesuatu yang bukan tempatnya, dan dari tamak di mana memang tidak ada tempat untuk tamak.” (Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, Ad-Da‘awat al-Kabir, juz 1, hal. 449. [Kuwait, Ghiras li an-Nasyr wa at-Tauzi’: 2009 M])

Kita berlindung kepada Allah selain karena kita lemah, juga sangat menyadari bahwa tamak datang bukan selalu dengan wajah yang terang-terangan. Melainkan hadir perlahan, menyusup dalam ketidaksadaran, hingga seseorang baru menyadarinya ketika kehinaan telah terlanjur menguasai dirinya. Itulah mengapa Nabi SAW memerintahkan kita untuk meminta perlindungan kepada Allah SWT dari sifat tamak, jauh sebelum ia menjangkiti hati kita.

Akhirnya, marilah kita renungkan bahwa yang menentukan nilai kita di sisi Allah SWT bukan seberapa banyak yang bisa kita kumpulkan melainkan seberapa bersih hati kita dalam menerima, memberi, dan merelakan.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَأَدَّبَ وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَدَّبَهُ رَبُّهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ اَلْمُتَمِّمِيْنَ اتِّبَاعَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلَيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلّاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ، اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Editor : Nur Pramudito
Sumber : NU Online
Khutbah Jumat 26 Juni 2026 Teks Khutbah Jumat 26 Juni 2026 teks khutbah jumat khutbah jumat