Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Lirik dan Arti Lagu Lalaki Langit Ciptaan Bupati Purwakarta Om Zein, Mengapa Dinilai Rendahkan Perempuan yang Berujung Pemeriksaan?

Syahaamah Fikria • Jumat, 3 Juli 2026 | 19:23 WIB
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein alias Om Zein.
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein alias Om Zein.

RADARSOLO.COM — Tembang berbahasa Sunda bertajuk “Lalaki Langit, Lalanang Bejad” ciptaan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau akrab disapa Om Zein, belakangan memicu polemik dan kecaman masif di media sosial. 

Lagu tersebut dinilai memuat lirik yang seksis, menyudutkan, serta merendahkan martabat kaum perempuan.

Gelombang keberatan datang dari berbagai elemen masyarakat dan tokoh publik, termasuk tokoh Jawa Barat sekaligus anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya. 

Baca Juga: Bupati Purwakarta Om Zein dari Partai Apa? Rekam Jejak Pencipta Lagu Lalaki Langit, Kini Diperiksa Kemendagri

Akibat dari kontroversi lirik tersebut, Om Zein bahkan dipanggil dan diperiksa secara intensif selama 8 jam oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Itjen Kemendagri) pada Jumat (3/7/2026).

Dia diperiksa atas dugaan pelanggaran asas kepatutan dan kepantasan.

Sebenarnya, bagaimana lirik lagu tersebut dan poin mana saja yang dinilai merendahkan kaum wanita? 

Baca Juga: Malam Keramat di Rumah Dinas, Bupati Karanganyar Mutasi 75 Pejabat Baru

Lirik dan Arti Lagu 'Lalaki Langit, Lalanang Bejad'

Secara harfiah, judul lagu ini menggambarkan kontras perilaku ego sentris pria. 

Kata “Lalaki Langit” berarti "lelaki langit" (metafora kebanggaan), sedangkan “Lalanang Bejad” memiliki arti "lelaki bejat" atau pria yang memiliki kelakuan buruk.

Berikut adalah lirik lengkap lagu Lalaki Langit dalam bahasa Sunda beserta artinya dalam bahasa Indonesia, yang memicu kontroversi:

Nuhun Gusti, tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Terima kasih Tuhan, sudah menciptakan aku menjadi laki-laki)

Cacak mun jadi awewe, ES-Em-Pe kelas tilu, tos karuron tujuh kali
(Andai saja menjadi perempuan, SMP kelas tiga, sudah keguguran tujuh kali)

Nuhun Gusti, tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Terima kasih Tuhan, sudah menciptakan aku menjadi laki-laki)

Teu kudu meuli kutang, nu busana leuwih gede batan susu
(Tidak perlu membeli bra, yang busanya lebih besar daripada payudara)

Nuhun Gusti, tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Terima kasih Tuhan, sudah menciptakan aku menjadi laki-laki)

Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek, alatan telat bulan
(Tidak perlu mondar-mandir ke apotek, karena telat datang bulan)

Nuhun Gusti, tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Terima kasih Tuhan, sudah menciptakan aku menjadi laki-laki)

Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata, sakalina ngiceup hese beunta
(Tidak perlu melukis alis dan bulu mata, sekali berkedip susah membuka mata)

Lalaki langit, lalanang bejad
(Lelaki langit, lelaki bejat)

Baca Juga: Festival Mi Ayam Bakso Wonogiri 2026: Proklamirkan Ibu Kota Mi Ayam Bakso dan Pemecahan Rekor MURI

 

Mengapa Lirik Ini Dinilai Merendahkan Perempuan?

Lagu ini memicu kritik tajam karena secara gamblang menggunakan tubuh, kodrat biologis, serta stereotip sosial perempuan sebagai objek komparasi yang bernada negatif. 

Ada beberapa poin yang dinilai menjadi alasan mengapa lagu ini dicap seksis:

1. Stigmatisasi Negatif dan Bias Gender

Lirik yang mengaitkan anak perempuan kelas 3 SMP dengan kondisi "keguguran tujuh kali" dinilai membangun stigma buruk, bias gender, dan tidak berempati pada isu sosial anak bawah umur. 

Baca Juga: Balada Temon Dan Sipon: Rekaman Suara Jadi Senjata

Kritik yang muncul menyebut lirik tersebut tidak mencerminkan nilai budaya Sunda yang seharusnya menjunjung tinggi kehormatan kaum ibu (indung).

2. Komodifikasi Tubuh Perempuan

Penggunaan diksi yang mendetailkan pakaian dalam dan bagian tubuh sensitif perempuan dinilai tidak patut dan vulgar. 

Alih-alih menjadi karya seni yang mendidik, lirik tersebut dianggap mereduksi martabat perempuan menjadi sekadar objek candaan.

Baca Juga: Tiga Kecamatan Di Sukoharjo Kekeringan, Dropping Air Bersih Di Lima Titik

3. Mengolok-olok Kebiasaan Perempuan

Lirik mengenai kerepotan perempuan saat dandan (menggambar alis dan bulu mata) serta ketakutan saat "telat bulan" diposisikan sebagai hal yang patut disyukuri oleh laki-laki karena mereka tidak perlu merasakannya. 

Narasi ini dianggap menyudutkan beban psikologis dan kodrat alami wanita.

Permintaan Maaf dan Pembelaan Om Zein

Menanggapi gelombang somasi dan protes, Bupati Purwakarta Om Zein buru-buru melayangkan permohonan maaf secara terbuka. 

Politikus Partai Gerindra ini berdalih lagu itu dibuat pada tahun 2020 sebagai bentuk otokritik dan refleksi masa lalunya saat dirinya masih nakal, jauh sebelum ia dilantik menjadi kepala daerah.

Baca Juga: Dilaporkan ke Kejari Soal Baliho Ultah Jokowi, Wali Kota Respati: Kami Hormati Proses Hukum

"Itu berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu nakal. Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri," kilah Om Zein.

Meskipun saat ini materi lagu dan klip video telah ditarik total dari seluruh akun media sosial pribadinya, posisi politik Om Zein tetap berada di ujung tanduk.

Kapuspen Kemendagri Benny Irwan menyatakan, tim Itjen telah melayangkan 60 pertanyaan seputar latar belakang dan publikasi lagu tersebut. 

Hasil pemeriksaan maraton ini akan diserahkan langsung kepada Mendagri Tito Karnavian untuk menentukan jenis sanksi pelanggaran asas kepatutan yang akan dijatuhkan kepada sang bupati.

Editor : Syahaamah Fikria
#bupati purwakarta #om zein #lagu lalaki langit #bias gender #lirik lagu