RADARSOLO.COM — Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh pengakuan seorang penumpang perempuan berinisial R yang membongkar aksi pelecehan di dalam bus MTrans.
R menjadi korban tindakan asusila saat melakukan perjalanan antarkota dengan rute Malang menuju Denpasar pada Minggu, 12 Juli 2026.
Kisah pilu yang dibagikan R di akun Threads pribadinya langsung viral.
Baca Juga: Dua Pekerja Tewas, Wali Kota Ultimatum Operator PLTSa Putri Cempo
Tak disangka, unggahan tersebut memicu kemunculan korban-korban lain yang mengaku pernah mengalami modus serupa dari pelaku yang sama di rute tersebut.
Pihak manajemen MTrans bergerak mengambil langkah tegas dengan memecat oknum kru berinisial AM yang berstatus sebagai helper atau kernet bus tersebut. Bagaimana insiden ini bisa terjadi?
Baca Juga: 9 Dapur MBG Disorot, Wali Kota Solo: Jangan Main-Main dengan Nyawa Warga
Kronologi Kejadian: Berawal dari Kursi Sebelah yang Kosong
Peristiwa ini bermula pada Sabtu, 11 Juli 2026 malam, sekitar pukul 19.20 WIB saat bus mulai melaju dari titik keberangkatan.
Sebelum membeli tiket, R sudah memastikan kepada petugas loket agar ditempatkan di kursi nomor 7C yang bersebelahan dengan sesama penumpang perempuan demi kenyamanan.
Namun saat perjalanan dimulai, kursi di samping R ternyata kosong.
Di tengah perjalanan, kernet AM tiba-tiba mengirimkan pesan WhatsApp pribadi kepada R.
Oknum kernet tersebut menawarkan bantuan untuk merebahkan sandaran kursi agar R bisa beristirahat dengan lebih nyaman.
Mengira hal itu bagian dari standar pelayanan kru bus, R menyetujui tawaran tersebut dan kembali tertidur pulas dengan posisi tubuh tertutup selimut rapat.
Aksi Asusila di Tengah Malam
Ketika memasuki tengah malam, R terbangun karena merasakan ada tepukan di tubuhnya.
Awalnya, ia mengira kru tersebut hanya ingin membetulkan posisi kursinya, sehingga ia refleks bergeser mepet ke arah jendela.
Dugaan R keliru. AM justru langsung duduk di kursi kosong di sebelahnya, mengambil selimut yang dijadikan bantal oleh R, dan mulai melakukan aksi kurang ajar.
Baca Juga: Api Berkobar Bakar 1 Hektare Lahan di Perbukitan Widodaren Wonogiri, Sempat Padam tapi Menyala Lagi
"Dia malah duduk di kursiku, pakai selimut yang tadi kupakai buat bantal, terus ngebelai rambutku sambil bilang, 'berantakan nih rambutnya karena tidur,'" ungkap R.
R langsung menepis tangan pelaku dengan keras. Bukannya menjauh dan sadar diri, AM malah semakin berani dengan menunjuk bahunya sendiri dan memaksa korban untuk bersandar di sana.
Saat R menolak, pelaku menarik kepala korban secara paksa ke arah bahunya, namun R berhasil menghindar.
Sepanjang sisa perjalanan Subuh itu, pelaku tetap nekat duduk di samping R bahkan sengaja menempelkan kakinya beberapa kali.
R memilih bertahan dan tidak berteriak karena mempertimbangkan situasi jalanan yang sepi, kondisi fisiknya yang lelah, serta faktor keselamatan diri dan penumpang lainnya.
"Mungkin bakal ada yang tanya kenapa aku gak teriak. Jawabannya sederhana, kejadian itu tengah malam sampe terang, aku sendirian, bus lagi jalan, aku capek banget, dan aku gak tahu dia bakal bereaksi seperti apa kalau aku melawan. Aku juga kepikiran keselamatan penumpang lain. Jadi yang ada di pikiranku cuma bertahan sampai tujuan, lalu lapor," tulis R.
Di sisi lain, R juga menegaskan jika pengakuannya ini bukan bermaksud untuk memojokkan MTrans atau sengaja ingin viral.
Dia hanya berharap agar pihak MTrans mengevaluasi dan pengawasan, serta menangani setiap laporan dengan serius.
Baca Juga: Sikat Peredaran Narkoba, Polresta Klaten Ringkus 10 Tersangka Sabu Selama Juni-Juli 2026
Selain itu, tujuannya adalah agar semua penumpang, terutama perempuan mendapat rasa aman saat menggunakan transportasi umum.
"Aku gak cari sensasi, aku gak cari viral. Aku cuma gak mau ada perempuan lain yang naik bus dengan rasa aman, tapi pulangnya malah bawa trauma seperti yang aku rasakan," tambah dia.
Manajemen MTrans Berikan Sanksi PHK
Begitu bus merapat di Terminal Denpasar, Bali pada Minggu pagi, R langsung mendatangi kantor perwakilan MTrans untuk membuat laporan resmi.
Meski sempat ditawari mediasi, R menolak bertemu pelaku karena masih syok secara psikologis.
Setelah R memviralkan kejadian ini untuk mendorong evaluasi keselamatan penumpang perempuan, terungkap bahwa AM ternyata sudah sering melancarkan modus serupa.
Termasuk meminta nomor HP penumpang dengan dalih urusan bagasi tertukar.
Merespons laporan yang beruntun tersebut, Human Resources Development (HRD) MTrans Jhony Sasongko menegaskan bahwa pihak manajemen telah resmi memutus hubungan kerja (PHK) terhadap AM.
Jhony membeberkan bahwa pria yang sudah delapan bulan menjadi mitra kerja MTrans sebagai kernet itu ternyata pernah melakukan kasus serupa.
AM sebelumnya sudah pernah dilaporkan atas tindakan pelecehan terhadap penumpang lain dan sempat diberikan teguran keras, namun kembali mengulangi perbuatannya.
"Karena tidak sekali, mitra ini (AM) sudah pernah dilaporkan dengan perbuatan sama. Pernah kita berikan teguran, tapi mengulangi lagi. Iya benar, ada korban lain dengan pelaku yang sama. Makanya kita memberikan tindakan tegas (PHK)," tandas Jhony.
Editor : Syahaamah Fikria