RADARSOLO.COM — Kasus tindakan asusila yang menyeret mantan kernet bus MTrans berinisial AM ternyata berbuntut panjang.
Setelah korban pertama berinisial R berani membagikan pengalaman pahitnya ke media sosial, kolom komentar unggahannya langsung diserbu oleh netizen.
Secara mengejutkan, sejumlah penumpang perempuan lain bergiliran muncul dan mengaku pernah menjadi sasaran pelecehan oleh oknum kernet yang sama.
Merespons situasi yang kian melebar, manajemen PO MTrans bergerak mengundang korban.
Proses pertemuan itu diceritakan oleh R, dalam akun Threads-nya @r.linzhao.
R mengatakan, pada Rabu, 15 Juli 2026, dia bersama salah satu korban lain berinisial P mendatangi kantor perwakilan MTrans di Denpasar, Bali.
Dalam diskusi tersebut, pihak manajemen MTrans menegaskan komitmen mereka untuk berada di sisi korban.
Baca Juga: 9 Dapur MBG Disorot, Wali Kota Solo: Jangan Main-Main dengan Nyawa Warga
Jika para korban sepakat untuk membawa tindakan cabul AM ke jalur pidana, perusahaan menyatakan siap memberikan pendampingan penuh selama proses hukum berjalan.
"Pihak mtrans menjelaskan bahwa apabila kasus ini diproses secara hukum, laporan tetap harus dibuat oleh korban. Dari sisi perusahaan, mereka menyatakan siap mendampingi apabila proses tersebut berjalan," tulis R.
Meski sangat menghargai dukungan total dari pihak manajemen, R mengaku masih mempertimbangkan matang-matang untuk menempuh jalur pengadilan.
Faktor waktu dengan jadwal pekerjaan serta panjangnya birokrasi persidangan menjadi pertimbangan berat bagi dirinya saat ini.
Di samping itu, R juga memberikan masukan kepada MTrans agar mereka berani membuat pengumuman terbuka secara gamblang mengenai sosok pelaku.
"Salah satunya adalah agar mereka membuat pengumuman yang lebih jelas mengenai AM, dengan mencantumkan nama lengkap dan fotonya. Alasannya sederhana, supaya masyarakat bisa lebih waspada dan tidak ada korban berikutnya," jelas R.
Baca Juga: DPRD Sragen Tuding Rekrutmen Pegawai BUMD Sarat Praktik Nepotisme
Banyak Korban Speak Up
Sementara itu, pasca pengakuan R di medsos, mulai bermunculan pihak-pihak yang mengaku juga sempat menjadi korban tindak asusila AM saat mereka menggunakan layanan bus MTrans.
Bahkan, ada juga yang mengirim pesan langsung ke R, menceritakan pengalaman pahit saat menjadi korban AM.
"Ada beberapa perempuan lain yang juga menghubungiku dan menceritakan pengalaman mereka masing-masing. jujur, setelah baca satu per satu chat itu, aku makin yakin buat gak diam," tulis R sembari membagikan screenshot pengakuan korban lain.
"Kakkk, sumpah ini aku juga digodain sm dia pas perjalanan dr bali ke malang!!!" komen @ang*****.
Manajemen Tidak Melindungi Pelaku
Sebagai bentuk pertanggungjawaban publik, manajemen MTrans pada hari yang sama telah merilis klarifikasi resmi ke masyarakat.
Mereka mengunggah surat pemutusan hubungan kerja (PHK), dokumentasi pengembalian seluruh atribut seragam perusahaan, hingga bukti proses mediasi bersama para korban.
"Saudara AM sebelumnya merupakan mitra kerja yang bertugas dsebagai Helper Bus di Mtrans. Atas perbuatan tersebut, MTrans telah menjatuhkan sanksi berupa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang berlaku efektif sejak 12 Juli 2026," tulis MTrans.
Baca Juga: Dua Pekerja Tewas, Wali Kota Ultimatum Operator PLTSa Putri Cempo
Langkah ini mendapat respons positif dan apresiasi langsung dari pihak korban.
R juga meluruskan sentimen negatif yang telanjur berkembang di jagat maya.
Ia menegaskan sejak awal tujuannya memviralkan kisah ini murni untuk menuntut pertanggungjawaban AM secara personal, bukan untuk merusak reputasi maskapai bus MTrans.
"Aku paham kenapa banyak orang akhirnya ikut menyerang MTrans, karena saat kejadian pelaku masih menggunakan seragam perusahaan. Tapi setelah bertemu langsung dengan manajemen, aku melihat mereka tidak membela ataupun melindungi pelaku. Mereka juga telah mengakhiri hubungan kerja," tambahnya.
Editor : Syahaamah Fikria