Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Belajar dari Kisah Nabi Ya'qub untuk Menjauhi Sifat Putus Asa

Nur Pramudito • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 07:36 WIB
ILUSTRASI. Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Belajar dari Kisah Nabi Ya
ILUSTRASI. Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Belajar dari Kisah Nabi Ya'qub untuk Menjauhi Sifat Putus Asa (GEMINI AI)

RADARSOLO.COM - Khutbah Jumat 24 Juli 2026 menghadirkan tema yang penuh hikmah, yakni Belajar dari Kisah Nabi Ya'qub dalam Menjauhi Sifat Putus Asa.

Tema ini mengingatkan umat Islam agar tidak pernah kehilangan harapan terhadap pertolongan Allah SWT, seberat apa pun cobaan yang sedang dihadapi.

Dalam ajaran Islam, berputus asa dari rahmat Allah merupakan sikap yang harus dijauhi.

Sebesar apa pun dosa, kesalahan, maupun persoalan yang menimpa seseorang, kasih sayang dan ampunan Allah SWT jauh lebih luas.

Karena itu, setiap muslim diperintahkan untuk terus memelihara keyakinan, kesabaran, dan optimisme dalam menjalani kehidupan.

Melalui Khutbah Jumat 24 Juli 2026 ini, jamaah diajak belajar dari Kisah Nabi Ya'qub yang menjadi teladan luar biasa dalam menghadapi ujian.

Meski harus berpisah dengan putranya, Nabi Yusuf AS, dalam waktu yang sangat lama, Nabi Ya'qub tidak pernah kehilangan harapan akan pertolongan Allah SWT.

Sikap Nabi Ya'qub menunjukkan bahwa seorang mukmin harus tetap berserah diri kepada Allah, terus berikhtiar, dan meyakini bahwa setiap kesulitan akan berakhir dengan jalan keluar yang terbaik.

Keteguhan iman inilah yang menjadi pelajaran berharga bagi setiap muslim agar mampu menjauhi sifat putus asa.

Oleh karena itu, materi Khutbah Jumat 24 Juli 2026 dengan tema Belajar dari Kisah Nabi Ya'qub dalam Menjauhi Sifat Putus Asa diharapkan dapat menjadi pengingat bagi seluruh umat Islam untuk selalu memperkuat keimanan, memperbanyak doa, serta menumbuhkan rasa optimis terhadap rahmat Allah SWT dalam setiap keadaan.

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 
 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Mengawali khutbah Jumat pada siang hari ini, marilah kita bersama-sama panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt yang telah memberikan kita nikmat kesehatan sehingga kita bisa berkumpul di masjid yang mulia ini.

Shalawat beserta salam tak lupa semoga tercurahkan bersama kepada baginda kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Aamiiin ya Rabbal ‘alamin.

Khatib juga mengajak jamaah sekalian sekaligus diri pribadi agar selalu meningkatkan takwa kepada Allah ta'ala dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Di antara bentuk ketakwaan kepada Allah Swt ialah tidak menyerah dalam menjalani kehidupan. Tidak ada yang lebih besar dan lebih luas dibandingkan dengan lautan rahmat-Nya. Itulah yang diajarkan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya saat bertubi-tubi mendapatkan cobaan dari Allah. Kehilangan Yusuf, anak yang paling ia sayang, menghadapi musim paceklik dan kehilangan Bunyamin, adik Yusuf yang ia sayangi, karena dituduh mencuri barang milik raja.

 

Dengan berbagai macam kesedihan yang menyelimutinya, Nabi Ya’qub terus menangis hingga matanya buta. Namun, Nabi Ya’qub tidak pernah menyerah dan berputus asa dari rahmat Allah. Ia terus berusaha diiringi berdoa kepada Allah hingga mendapatkan jalan keluar dari permasalahannya. Nabi Ya’qub juga mengajak anak-anaknya untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ia menjelaskan bahwa hanya orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah yang akan berputus asa dari rahmat-Nya.

Dalam hal ini, Al-Qur’an mengisahkan keteguhan hati Nabi Ya’qub tersebut lewat Surat Yusuf ayat 87 berikut:

يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

Artinya: “Wahai anak-anakku, pergi dan carilah berita tentang Yusuf beserta saudaranya. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (Qs. Yusuf: 87)

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Ayat yang baru saja khatib bacakan merupakan dialog yang diucapkan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya agar tidak berputus asa dari rahmat Allah dan terus berupaya melakukan ikhtiar. Nabi Ya’qub tidak menyerah dengan keadaan dan terus mencari keberadaan Yusuf dan memerintahkan anak-anaknya untuk terus berusaha.

Ia menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa jangan sekali-kali seorang hamba berputus asa dari rahmat Allah, sebab orang yang berputus asa terhadap rahmat Allah ialah orang yang kufur terhadap nikmat-Nya.

Dalam kitab tafsir Marah Labid juz 1 hal 545, Syekh Nawawi Banten dalam hal ini menjelaskan bahwa keputusasaan seorang hamba terhadap rahmat Allah dapat menjadikan seorang hamba kufur. Kekufuran tersebut terjadi karena saat seorang hamba berputus asa dari rahmat Allah, ia sama saja meyakini bahwa Allah tidak mampu untuk menolong hamba-Nya, tidak mengetahui keadaan hamba-Nya, atau bahkan bakhil terhadap hamba-Nya.

Syekh Nawawi berkata:

لِأَنَّ الْيَأْسَ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى لَا يَحْصُلُ إِلَّا إِذا اعْتَقَدَ الْإِنْسَانُ أَنَّ الْإِلَهَ غَيْرُ قَادِرٍ عَلَى الْكَمَالِ أَوْ غَيْرُ عَالِمٍ بِجَمِيْعِ الْمَعْلُوْمَاتِ، أَوْ بَخِيْلٌ وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ يُوْجِبُ الْكُفْرَ، فَثَبَتَ أَنَّ الْيَأَسَ لَا يَحْصُلُ إِلَّا لِمَنْ كَانَ كَافِرًا

Artinya: “Sebab putus asa dari rahmat Allah hanya akan terjadi ketika seorang manusia meyakini bahwa Allah tidak mampu bersifat sempurna atau tidak mengetahui segala informasi atau bakhil (terhadap hamba-Nya). Ketiga hal tersebut dapat menyebabkan kekufuran, oleh karenanya, putus asa terhadap rahmat-Nya hanya berlaku bagi orang-orang yang kufur terhadap nikmat-Nya”.

Nabi Ya'qub akhirnya mendapatkan jalan keluar dari semua masalahnya berkat jerih payahnya dalam berikhtiar dan terus berdoa kepada Allah. Ia kembali berkumpul dengan Yusuf dan Bunyamin dan mendapatkan kembali penglihatannya. Semua itu adalah berkat dirinya yang terus berusaha dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Dari kisah Nabi Ya’qub di atas dapat dipahami bahwa setiap ujian dan cobaan pasti memiliki jalan keluar jika diiringi dengan ikhtiar dan doa.

Begitu pula dosa, sebanyak apa pun kesalahan yang kita lakukan, seburuk apa pun kita dalam menjalani kehidupan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lautan rahmat Allah yang luas. Oleh karenanya, tidak diperkenankan bagi seorang muslim untuk berputus asa dari rahmat Allah.

Allah berfirman dalam Surat Az-Zumar ayat 53:

 قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Az-Zumar: 53).

Demikian khutbah Jumat dengan judul belajar dari kisah Nabi Ya’qub dalam menjauhi sifat putus asa. Semoga kita dapat meneladaninya dan menerapkannya dalam kehidupan agar bisa menjadi Muslim yang sejati yang tidak kufur terhadap nikmat Allah. Amiin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَ عِبَادَهُ بِالْخَيْرِ وَحَذَّرَهُمْ مِنَ الشَّرِّ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنَ الذُّنُوْبِ وَالزَّلَّاتِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَمَلٍ لَا يُرْضِيْهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ خِرَةِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

 

Editor : Nur Pramudito
Sumber : NU Online
Khutbah Jumat 24 Juli 2026 Teks Khutbah Jumat 24 Juli 2026 24 Juli 2026 Nabi Ya'qub khutbah jumat